Tradisi menyalakan dilah jojor di Lombok Barat, Selasa malam (10/3/2026). Foto: kumparan
Suasana malam ke-21 Ramadan di Dusun Dasan Tebu, Desa Ombe Baru, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tampak berbeda dari biasanya.
Cahaya ratusan hingga ribuan obor bambu yang disebut dilah jojor menyala di sudut-sudut rumah warga, di sepanjang jalan desa hingga di sekitar area pemakaman, menciptakan panorama malam yang hangat sekaligus sarat makna spiritual.
Tradisi menyalakan dilah jojor ini telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sasak di wilayah Kediri, Lombok Barat. Kegiatan tersebut rutin dilakukan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan, khususnya pada malam ke-21, 23, 25, dan 27 yang diyakini sebagai waktu turunnya malam Lailatul Qadar.
Pada Selasa malam (10/3), warga Dusun Dasan Tebu mulai menyalakan obor-obor tradisional itu usai berbuka puasa dan menunaikan salat Magrib. Satu per satu obor ditancapkan di depan rumah, di pinggir jalan desa, hingga di sekitar area pemakaman, sehingga menciptakan barisan cahaya yang membentang di sepanjang permukiman.
Dilah jojor sendiri merupakan obor tradisional yang dibuat dari batang bambu. Bagian ujungnya dibalut dengan bahan yang berasal dari biji nyamplung atau jarak, kemudian direndam dalam minyak tanah sebelum dinyalakan.
Ketika ratusan bahkan ribuan obor dinyalakan secara bersamaan, masyarakat setempat menyebutnya sebagai tradisi "Dilah Siu", yang berarti seribu cahaya obor.
Muhammad Faizin, warga Dusun Dasan Tebu, mengatakan tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga bagian dari penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan dan warisan budaya leluhur masyarakat Sasak.
"Ini kalau di kampung kita dinamakan dilah siu, kenapa dinamakan dilah siu kalau bahasa Indonesianya lampu seribu, karena ini kita ingin menerangkan kuburan dengan seribu lampu," ujar Faizin.
Tradisi ini, kata Faizin, sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakatnya. Biasanya mereka menyalakan dilah jojor pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan untuk menyambut malam Lailatul Qadar.
"Acara ini kalau kita di kampung ini dilaksanakan setahun sekali di malam ke 21 ramadhan, Ini salah satu tradisi yang ditinggalkan oleh orang tua kita terdahulu," sambungnya.
Hal senada disampaikan Ria, warga setempat yang turut menyalakan obor pada malam tersebut. Menurutnya, tradisi ini juga menjadi momentum kebersamaan warga sekaligus sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
"Selain untuk menyambut malam yang diyakini sebagai malam penuh berkah, tradisi ini juga menjadi cara kami menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh anak-anak dan generasi berikutnya," katanya.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, dilah jojor pada masa lalu digunakan sebagai sarana penerangan sekaligus penanda dalam menyambut tamu besar pada prosesi kerajaan di Lombok. Seiring waktu, tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari berbagai kegiatan adat dan keagamaan masyarakat Sasak.
Kini, selain memiliki nilai religius yang kuat, tradisi Dilah Siu juga menjadi simbol kekayaan budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Cahaya obor yang berderet di sepanjang perkampungan seolah menjadi penanda bahwa masyarakat Lombok tidak hanya menjaga spiritualitas Ramadan, tetapi juga merawat identitas budaya mereka.
Sebagai salah satu daerah yang kaya akan tradisi, Nusa Tenggara Barat memiliki beragam warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Tradisi Dilah Jojor atau Dilah Siu menjadi salah satu contoh bagaimana nilai adat, keagamaan, dan kebersamaan dapat berpadu menjadi tradisi yang indah sekaligus bernilai wisata budaya.
Dengan tetap dilestarikannya tradisi ini, masyarakat berharap cahaya dilah jojor tidak hanya menerangi malam-malam Ramadan, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan budaya Sasak bagi generasi mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar