Search This Blog

IDAI: Imunisasi Campak adalah Bentuk Tanggung Jawab Sosial

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
IDAI: Imunisasi Campak adalah Bentuk Tanggung Jawab Sosial
Mar 15th 2026, 12:22 by kumparanMOM

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Penyakit campak masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak. Meski sering dianggap sebagai penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya, campak sebenarnya memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan.

Oleh karena itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan pentingnya meningkatkan cakupan imunisasi campak di Indonesia, terlebih tingkat penularannya lebih tinggi dibandingkan COVID-19.

Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Menurut dr. Piprim, tingkat penularan campak atau angka reproduksi dasar (R0) berada pada kisaran 12 hingga 18. Artinya, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan penyakit tersebut kepada 12 hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan.

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock

"Imunisasi campak ini kita galakan karena campak ini sangat menular ya RO nya itu 12 sampai 18, lebih menular dari COVID," tutur dr. Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Karena tingkat penularannya sangat tinggi, cakupan imunisasi campak juga harus sangat luas. Piprim menekankan bahwa setidaknya lebih dari 95 persen anak harus mendapatkan imunisasi agar kekebalan komunitas atau herd immunity dapat terbentuk dengan baik.

Hingga kini, di masyarakat masih ada anggapan bahwa campak merupakan penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Kata dr. Piprim, dalam beberapa kasus, anak dengan kondisi imun yang baik memang dapat pulih tanpa komplikasi serius. Namun, ini tidak berlaku bagi semua anak.

Ilustrasi campak. Foto: Natalya_Maisheva/Shutterstock
Ilustrasi campak. Foto: Natalya_Maisheva/Shutterstock

Risiko menjadi jauh lebih besar pada anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti gizi buruk atau malnutrisi, penyakit kronik, penyakit jantung bawaan, maupun gangguan ginjal yang mengharuskan penggunaan obat steroid.

"Ada yang mengatakan 'campak kan sembuh sendiri' betul, ketika imunitasnya baik dia bisa sembuh sendiri. Tapi, kalau kena anak-anak kita yang gizinya jelek, malnutrisi, anak-anak kita yang kena penyakit kronik, itu anak-anak itu harus dilindungi oleh lingkungannya," tegasnya.

Pentingnya Kekebalan Komunitas

Perlindungan dari lingkungan menjadi sangat penting karena sebagian anak dengan kondisi tersebut justru tidak dapat menerima vaksin campak. Hal ini disebabkan vaksin campak merupakan vaksin hidup yang dilemahkan, sehingga tidak direkomendasikan bagi anak dengan kondisi imun tertentu.

Ilustrasi anak imunisasi, diberi vaksin. Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak imunisasi, diberi vaksin. Foto: Shutterstock

Sehingga, dr. Piprim menekankan bahwa imunisasi bukan hanya upaya melindungi diri sendiri, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial untuk melindungi kelompok yang rentan. Ia menambahkan bahwa menjaga cakupan imunisasi tinggi merupakan bentuk gotong royong dalam menjaga kesehatan masyarakat.

"Itulah konsep herd immunity. Jadi ini proyek gotong royong, proyek sosial sebetulnya. Bagaimana masing-masing kita bisa ikut bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan anak-anak Indonesia bersama-sama," tutup dr. Piprim.

Media files:
01kkqmck30jfjdzcj9wdgabk34.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar