Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan sambutan saat launching Hari Ritel Nasional yang diinisiasi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (17/7/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berharap total perdagangan Indonesia dan Kanada bisa meningkat dua kali lipat menjadi USD 7 miliar dengan adanya Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).
ICA-CEPA telah ditandatangani oleh Budi bersama dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Maninder Sidhu pada Rabu (24/9) di Ottawa, Kanada. Penandatanganan itu juga disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Budi menuturkan, pada tahun lalu total perdagangan Indonesia-Kanada capai USD 3,5 miliar atau setara dengan Rp 58,39 triliun (dengan kurs Rp 16.683 per dolar AS).
Kemudian pada Januari-Juli 2025, total perdagangan Indonesia dan Kanada mencapai USD 2,72 miliar atau setara dengan Rp 45,37 triliun. Kemudian ekspor Indonesia tercatat USD 1,01 miliar (Rp 16,84 triliun), sementara impor dari Kanada mencapai USD 1,71 miliar (Rp 28,52 triliun).
"Dengan Kanada, total trade kita USD 3,5 miliar. Harapan kita bisa dua kali lipat ya setelah implementasi ini berjalan," tutur Budi di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin (29/9).
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Budi menjelaskan melalui ICA-CEPA, lebih dari 90 persen atau sekitar 6.573 pos tarif Indonesia mendapat preferensi di pasar Kanada. Produk-produk potensial Indonesia seperti tekstil, alas kaki, furnitur, makanan olahan, elektronik ringan dan elektronik otomotif hingga sarang burung walet diprediksikan akan semakin kompetitif.
Selain itu ada juga beberapa produk akan langsung menikmati tarif 0 persen saat perjanjian sudah berlaku atau entry into force, misalnya makanan olahan, hasil laut, produk kerajinan berbahan serat alam, peralatan rumah tangga, serta granit dan marmer.
Pada saat yang sama Indonesia membuka akses pasar sebesar 85,54 persen atau sekitar 9.764 pos tarif bagi produk prioritas Kanada, seperti daging sapi beku, gandum, kentang, hasil laut, hingga makanan olahan.
Sementara produk ekspor utama Indonesia meliputi karet alam, alas kaki, kakao, mentega dan minyak nabati, serta tekstil. Kemudian impor utama dari Kanada antara lain gandum, pupuk, kedelai, bubur kayu kimia, dan emas.
Budi juga menyoroti perjanjian dagang dengan Kanada sebagai menjadi tonggak sejarah, menandai kerja sama dagang komprehensif pertama Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara, dan yang pertama bagi Kanada dengan negara di Asia Tenggara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar