Search This Blog

Melek Digital Bukan Jaminan, 30 Persen Lebih Gen Z Jadi Korban Scam

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Melek Digital Bukan Jaminan, 30 Persen Lebih Gen Z Jadi Korban Scam
Aug 5th 2025, 10:00 by kumparanTECH

Ilustrasi Gen Z yang tidak luput dari sasaran scam maupun spam. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Gen Z yang tidak luput dari sasaran scam maupun spam. Foto: Shutterstock

Scam dan spam kini menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya jumlah kasusnya yang terus meningkat, modusnya juga semakin beragam

Scam merupakan jenis penipuan untuk mengelabui korban agar memberikan informasi pribadi, data sensitif, atau uang. Sementara, spam merujuk pada pesan atau konten yang dikirim secara massal, berupa iklan, promosi, atau tautan yang mengganggu dan berpotensi membahayakan.

Keduanya merupakan bentuk penipuan digital yang bisa menyasar siapa saja, termasuk anak muda. Meski korbannya sering disebut dari kalangan gagap teknologi, namun Gen Z yang dikenal paling melek digital pun tetap rentan terhadap scam maupun spam.

Studi yang dilakukan Better Business Bureau (BBB) pada 2024 menunjukkan Gen Z dan Milenial paling sering melaporkan kerugian karena penipuan digital. Hal ini juga diperkuat riset Organisasi Keamanan Siber Amerika (NCA) pada 2022 yang menemukan bahwa Gen Z paling banyak melaporkan kehilangan uang/data karena penipuan digital seperti phishing, dengan angka 34 persen.

Alasan Gen Z Rentan Terjebak Scam

Gen Z, sebagai generasi yang lahir dan tumbuh berdampingan dengan teknologi internet, memang terlihat paling siap menghadapi dunia digital. Tetapi, keakraban ini justru menjadi titik lemah Gen Z.

Para profesor dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) menganalisis bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap platform daring kerap membuat anak muda mengabaikan risiko keamanan. Apalagi, banyak dari mereka yang merasa melek teknologi, sehingga cenderung tidak menyadari potensi penipuan digital yang terus berkembang.

Selain itu, ada beberapa faktor yang memperkuat kerentanan Gen Z terhadap penipuan digital, di antaranya:

1. Intensitas online yang tinggi

Gen Z menghabiskan banyak waktu di dunia digital, mulai dari media sosial hingga platform belanja dan hiburan. Tingginya keterpaparan ini menjadikan mereka target potensial bagi para pelaku scam dan spam.

2. Berbagi berlebihan di ruang digital

Salah satu kebiasaan Gen Z yang berbahaya adalah membagikan informasi pribadi secara terbuka di ruang digital. Seperti lokasi, hobi, hingga detail kehidupan sehari-hari bisa mempermudah scammer dalam melakukan profiling dan memanipulasi korbannya.

3. Budaya FOMO (Fear of Missing Out)

Dorongan untuk selalu terlibat dalam tren terkini atau penawaran menarik membuat Gen Z lebih mudah tergoda dengan scam yang menjanjikan imbalan cepat, seperti diskon, investasi bodong, giveaway, atau tawaran kerja palsu.

4. Respons cepat tanpa verifikasi

Gen Z juga memiliki kecenderungan merespons informasi secara cepat tanpa pengecekan ulang. Hal ini membuka celah bagi mereka terjebak dalam penipuan, terutama dalam bentuk phishing atau tautan yang merugikan.

Gunakan Platform yang Aman dan Tepercaya

Meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap keamanan siber saat ini menjadi cara jitu untuk menghindari beragam penipuan daring. Langkah awal bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk tidak mudah membagikan data pribadi, selalu memverifikasi informasi, dan mengenali modus serta ciri-ciri penipuan digital.

Selain itu, penting juga untuk memastikan penggunaan platform digital yang memiliki sistem keamanan tinggi seperti fitur enkripsi end-to-end, verifikasi dua langkah (2FA), serta kebijakan privasi yang transparan dan bertanggung jawab.

Nah, dengan cara ini, Gen Z bisa tetap eksis dan aktif di dunia digital tanpa jadi sasaran empuk scammer!

Media files:
01k1sk5hwy2bk04y6nc0nb3yf4.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar