Polisi berjaga di Rumah Doa Jemaat Kristen di Padang yang dirusak warga, Senin (28/7/2025). Foto: kumparan
Anggota DPR RI Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina mengecam peristiwa penyerangan terhadap rumah doa jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) di Padang, Sumatera Barat, pada Minggu (27/7).
"Tindakan perusakan terhadap tempat ibadah, terlebih saat digunakan untuk kegiatan keagamaan dan pendidikan anak-anak, merupakan tindakan yang sangat disayangkan," kata Selly dalam keterangan tertulis, Kamis (31/7).
Selly meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas para pelaku perusak rumah doa ini.
Sebab menurutnya tindakan ini telah mencoreng prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang dimiliki Indonesia.
"Saya mendorong aparat penegak hukum untuk bertindak cepat, adil, dan bijaksana dalam menangani kasus ini," katanya.
Polisi berjaga di Rumah Doa Jemaat Kristen di Padang yang dirusak warga, Senin (28/7/2025). Foto: kumparan
Selly juga meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan tindakan ini dengan melakukan serangan balasan antarkelompok.
"Saya mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak terprovokasi. Masyarakat di daerah, tokoh agama, serta para pemangku kepentingan, hendaknya bersama-sama menjaga ruang damai antarumat beragama. Kita harus senantiasa merawat keberagaman dengan sikap saling menghormati dan saling menjaga," kata Selly.
Anggota Komisi VIII DPR dari PDIP Selly Andriany Gantina. Foto: Youtube/ TVR Parlemen
9 Orang Diamankan
Sebelumnya, Wakapolda Sumbar Brigjen Pol Solihin mengatakan, polisi sudah mendatangi lokasi dan memastikan menindak pelaku.
"Setelah kejadian kami langsung ke lokasi dan mengamankan TKP. Anggota di lapangan sedang bekerja dan semua (sudah) aman dan tidak ada lagi yang bertindak anarkistis," kata Solihin kepada wartawan, Senin (28/7).
Sembilan orang yang diduga terlibat dalam aksi ini sudah diamankan polisi.
Keributan ini awalnya dipicu karena warga awalnya mengetahui rumah itu dipakai sebagai rumah singgah, bukan gereja. Aktivitas di rumah itu sudah ada sejak sekitar 3 bulan lalu.
Namun pada Minggu (28/7), seorang petugas pemasang listrik mendatangi kawasan tersebut. Petugas bertanya soal keberadaan gereja di sana untuk memasang aliran listrik.
Dalam surat resmi yang dibawa pemasang listrik dari perusahaannya, juga tertulis pelanggan atas nama Rumah Doa, Gereja, tempat kegiatan keagamaan.
Berawal dari sini, warga lalu mempertanyakan terkait keberadaan bangunan rumah tersebut pada Minggu (28/7) sore, massa warga ramai-ramai mendatangi rumah itu untuk mengklarifikasi.
Saat itu di rumah tersebut juga ada kegiatan yang disebut dilakukan oleh jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), anak-anak sedang melakukan pendidikan agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar