Mar 11th 2025, 11:31, by Andreas Gerry Tuwo, kumparanNEWS
Para polisi berkumpul menunggu kedatangan mantan presiden Filipina Rodrigo Duterte di Bandara Internasional Ninoy Aquino di Pasay, metro Manila, Selasa (11/3/2025). Foto: Jam Sta Rosa/AFP
Eks Presiden Filipina Rodrigo Duterte (78) ditangkap setibanya mendarat di Manila sepulang dari Hong Kong pada Selasa (11/3). Penangkapan itu terkait dugaan pelanggaran HAM pada perang antinarkoba semasa Duterte berkuasa.
Perang antinarkoba merupakan program unggulan yang membuat Duterte berkuasa dan masih populer di Filipina sampai sekarang. Duterte memerintah selama 2016 sampai 2022.
Dalam berbagai kesempatan, Duterte berjanji akan menghabisi nyawa pengedar narkoba, demikian dikutip dari Reuters.
Gang kecil menuju bandar sabu di Filipina. Foto: Erik De Castro/Reuters
Laporan kepolisian, sejak dimulai pada 2016 hingga berakhir 2022, operasi antinarkoba di Filipina menewaskan 6.200 lebih orang.
Namun, laporan independen punya perhitungan berbeda dengan kepolisian. Selama operasi berlangsung ,jumlah korban jiwa mencapai 20 ribu orang lebih.
Kampanye tersebut, menurut laporan independen, ternyata tak hanya mengincar pengedar narkoba. Belasan ribu orang pemakai narkoba masuk daftar bunuh.Petugas keamanan berpatroli di bandara setelah mantan Presiden Rodrigo Duterte ditangkap di Manila, Filipina, Selasa (11/3/2025). Foto: Aaron Favila/AP Photo
Kepolisian Filipina membantah terlibat pembunuhan massal pada kampanye itu. Kepolisian setempat berdalih mereka tidak menutupi atau terlibat eksekusi sistematis di luar hukum berlaku.
Adapun Duterte sebelum menjadi presiden mengaku pernah membunuh orang. Dia juga memerintahkan aparat keamanan jika merasa nyawanya terancam untuk menembak mati tersangka narkoba.
Duterte bersikeras tindakannya itu bertujuan menyelamatkan keluarga dan mencegah Filipina berubah jadi negara narkoba atau narco state.
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Foto: Ted ALJIBE / AFP
Saat menyampaikan pidato pada pembukaan senat Filipina Oktober 2024 lalu, Duterte menegaskan tidak akan meminta maaf atas tindakannya membantai pelaku narkoba.
"Saya tak akan meminta maaf dan tidak ada alasan untuk itu," kata Duterte.
"Saya melakukan apa yang harus saya lakukan, dan percaya atau tidak, saya melakukannya untuk negara saya," kata Duterte.
Para pengunjuk rasa memegang poster saat unjuk rasa di monumen People Power di Manila pada tanggal 31 Januari 2025, untuk mendukung pengaduan pemakzulan terhadap Wakil Presiden Filipina Sara Duterte. Foto: Ted ALJIBE / AFP
Karier politik Duterte diteruskan oleh Sara, putrinya. Saat ini Sara menjadi Wapres Filipina. Namun, Sara terlibat ketegangan dengan sang Presiden, Marcos Junior, dan terancam dimakzulkan.
Saat Duterte berada di Hong Kong untuk berkampanye di depan rakyat Filipina, Sara juga hadir mendampinginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar