Search This Blog

Demokrasi, Rakyat, dan Demagog: Pukulan Telak ketika Salah Memilih Pemimpin

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Demokrasi, Rakyat, dan Demagog: Pukulan Telak ketika Salah Memilih Pemimpin
Sep 8th 2023, 19:58, by Danu Harja, Danu Harja

Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: Shutterstock
Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: Shutterstock

Menjadi aktor yang cerdas karena dengan menjadi aktor yang cerdas dapat menjadi manifestasi paling konkret guna membatasi dan mem-blokade pemimpin-pemimpin yang cenderung anti demokrasi hadir ke tengah-tengah mereka sebagai seorang pemimpin.

Kembali pada realitas yang layak untuk kita bahas, kenapa kita sulit memilih pemimpin yang baik dan jauh dari nilai-nilai seorang demagog? Realitas sosial di lapangan menjadi alasan kita untuk dapat menjawab pertanyaan ini.

Pertama, minimnya rekam jejak yang dapat diakses karena minim pula pintu yang dibuka oleh sang calon pemimpin guna kita telisik lebih dalam. Dalam beberapa kasus, kebanyakan pemilih bahkan tidak tahu siapa sebenarnya sosok yang mereka pilih. Apakah secara konkret, orang tersebut adalah pahlawan atau sebaliknya?

Anggapan bahwa setiap orang dapat berubah dan ketidaktahuan pemilih atas kehidupan pribadi nyata dari yang dipilih (misalnya karakter dan sifat asli si pemimpin ketika di rumah dan lain-lain) menyulitkan pemilih untuk benar-benar mengenali seorang calon yang hendak dipilih.

Kedua, sisi baik selalu menjadi ujung tombak di lapangan oleh seorang calon pemimpin. Gaya populis dan merakyat ketika bertemu dan menyambangi masyarakat, menjadi hal yang populer dilakukan oleh setiap calon dimanapun mereka dipilih.

Dengan sesumbar akan menampung aspirasi, kadang kala dari sekian banyak aspirasi yang masuk hanya segelintir diaplikasikan dan diperjuangkan. Ini menjadi realitas lapangan yang juga harusnya pemilih sadari.

Oleh karenanya, kadang-kadang pemilih perlu selektif dalam menampung jawaban si calon pemimpin guna memfilter, mana yang sekiranya nafsu ambisius belaka (dapat tinjau dari jawaban yang tidak rasional dan realistis) dan benar-benar mengukur kapasitas dirinya ketika nanti memimpin.

Dalam skala kecil, memilih pemimpin terkadang menjadi suatu proses dan alih daya kepemimpinan yang memaksa individu. Minimnya sumber daya manusia (SDM) yang tersedia, terkadang memaksa individu yang sekadar "mau" namun diam-diam terpaksa guna melanjutkan estafet kepemimpinan agar keberjalanan suatu kelompok dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak runtuh di tengah jalan.

Terpaksanya individu menjadi pemimpin, pada akhirnya akan memaksa anggota sebagai pemilih untuk menduga-menduga dan pasrah dengan keadaan yang akan mereka jalani ke depan. Akankah pemimpin yang terpilih menjadi dewa penolong mereka?

Atau sebaliknya menusuk keberjalanan dan hiruk-ikuk kelompok sehingga spirit di awal yakni guna memaksimalkan dan melanjutkan estafet kepemimpinan malah justru menjadi aktor yang menusuk eksistensi kelompok dari dalam dengan berbagai sikap yang tidak menyenangkan?

Sifat-sifat yang biasanya muncul adalah otoriter, antipasti pada orang lain dan selalu mengambil keputusan berdasarkan "baiknya saya". Ini tentu menjadi pukulan telak bagi eksistensi kelompok sehingga dapat mengantarkan kelompok pada kondisi yang di ujung tanduk (kritis).

Terakhir, memilih pemimpin merupakan faktor penting keberhasilan kelompok maupun instansi pemerintahan bergerak secara maksimal dan sesuai dengan garis-garis kebutuhan. Lahirnya demagog sebagai pemimpin merupakan manifestasi konkret dari kehancuran kelompok dan organisasi pemerintahan dalam menjalankan eksistensinya secara berkelanjutan.

Media files:
o2gpxqq5cgu0ftka5rvt.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar