Lebaran antara makna silaturahmi atau gengsi (generated by AI)
Di sebuah desa, seorang perantau turun dari mobil sewaan yang mengilap, mengenakan pakaian baru dan menggenggam telepon pintar terbaru-sementara jauh dari kampung itu, sebuah aplikasi pinjaman digital diam-diam mulai menghitung cicilan yang harus ia bayar setelah Lebaran usai.
Adegan seperti itu mungkin tidak selalu terlihat, tetapi semakin mudah ditemukan setiap musim mudik. Lebaran selalu menghadirkan ledakan konsumsi yang besar. Perputaran uang selama periode ini diperkirakan mencapai Rp200 triliun hingga Rp300 triliun-angka yang sering dianggap sebagai tanda optimisme ekonomi nasional.
Tradisi mudik sendiri terus menjadi fenomena sosial terbesar di Indonesia. Data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menunjukkan bahwa potensi mobilitas masyarakat selama musim Lebaran dapat mencapai lebih dari 190 juta orang. Gelombang perpindahan manusia dalam skala demikian hampir selalu diikuti oleh lonjakan konsumsi domestik-dari transportasi, makanan, pakaian, hingga berbagai kebutuhan hari raya.
Namun di balik statistik konsumsi yang mengesankan itu, tersimpan gejala sosial yang lebih sunyi: Lebaran perlahan berubah menjadi panggung demonstrasi status.
Menyewa gawai premium, mobil mewah, hingga tas bermerek demi tampil "pantas" di kampung halaman bukan lagi cerita langka. Berbagai fasilitas paylater dan pinjaman digital membuat praktik tersebut semakin mudah dilakukan. Kemewahan yang ditampilkan sering kali bukan milik sendiri, melainkan citra yang dipinjam untuk beberapa hari.
Dalam konteks ini, Lebaran tidak lagi sekadar momentum silaturahmi, tetapi juga arena konsumsi simbolik yang berpotensi menggerus kedaulatan finansial rumah tangga.
Budaya tersebut semakin diperkuat oleh media sosial. Pada momen Lebaran, linimasa digital dipenuhi foto perjalanan mudik, kendaraan baru, pakaian mahal, hingga berbagai simbol kemakmuran. Tidak sedikit orang merasa perlu menampilkan citra keberhasilan ekonomi agar tidak terlihat tertinggal di hadapan keluarga maupun publik digital.
Fenomena ini sebenarnya telah lama dijelaskan dalam teori sosial. Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebutnya sebagai conspicuous consumption-konsumsi yang dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mempertontonkan status sosial.
Dari perspektif ekonomi perilaku, kecenderungan ini berkaitan dengan present bias: manusia lebih mudah tergoda oleh kepuasan instan dibandingkan manfaat jangka panjang. Ketika pengakuan sosial dapat "disewa", masyarakat tanpa sadar sedang menggadaikan pendapatan masa depan demi kepuasan sesaat.
Gejala tersebut juga tercermin dalam sektor keuangan. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa kredit buy now pay later di sektor perbankan tumbuh lebih dari 30 persen secara tahunan dengan nilai mencapai sekitar Rp22–24 triliun. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi kredit konsumtif selalu meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran.
Ironinya, perkembangan pesat kredit digital tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi finansial yang memadai maupun pengawasan yang cukup ketat terhadap praktik pemasaran agresif pada musim konsumsi.
Situasi ini menjadi semakin problematis ketika ditempatkan dalam konteks ekonomi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah-terutama konflik antara Israel dan Iran-kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik rawan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini. Ketika ketegangan meningkat, harga minyak dunia melonjak hingga melampaui 100 dollar AS per barel.
Bagi Indonesia, lonjakan harga energi global berarti tekanan fiskal yang tidak kecil. Pemerintah harus menanggung subsidi energi dan kompensasi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp350 triliun untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar dan daya beli masyarakat.
Paradoksnya, ketika negara berupaya menahan dampak krisis energi global melalui subsidi yang besar, sebagian masyarakat justru meningkatkan konsumsi energi melalui gaya hidup yang semakin demonstratif demi simbol status sosial.
Di sinilah terlihat kerapuhan pola konsumsi masyarakat. Tabungan yang seharusnya menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian ekonomi justru terkuras untuk konsumsi musiman yang bersifat demonstratif. Pertumbuhan ekonomi Lebaran mungkin tampak meriah, tetapi sebagian berdiri di atas fondasi yang rapuh: utang konsumtif dan gengsi sosial.
Lebaran sejatinya adalah momentum kembali kepada fitrah: kesadaran bahwa kemuliaan tidak diukur dari apa yang dipamerkan, melainkan dari kemampuan menahan diri.
Namun di tengah budaya konsumsi yang semakin demonstratif, makna itu perlahan bergeser. Media sosial menjadikan kemewahan sebagai tontonan, sementara utang sering kali menjadi harga yang harus dibayar untuk mempertahankan citra.
Kemewahan mungkin bisa dipertontonkan selama beberapa hari. Tetapi cicilan akan tetap datang setiap bulan-jauh setelah foto Lebaran berhenti mendapat tanda suka di media sosial. Di negeri yang sering lebih takut terlihat sederhana daripada hidup berutang, tidak sedikit orang pulang dari mudik membawa kebanggaan-dan tagihan yang diam-diam menunggu di bulan berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar