Businesswoman asal Amerika Serikat dan co-founder dari perusahaan kosmetik ESTEE LAUDER, Estee Lauder. Foto: JACQUES SOFFER / AFP
Nama Estée Lauder identik dengan brand kecantikan mewah yang mendunia. Namun, perjalanan itu tidak dimulai dari laboratorium canggih atau strategi besar, melainkan dari dapur rumahnya di Queens, New York. Di sanalah ia belajar meracik krim wajah bersama pamannya, sekaligus memahami bahwa kecantikan bukan sekadar tampilan, tapi soal rasa percaya diri.
Sejak remaja, ia bahkan sudah terbiasa menjual produknya langsung ke pelanggan, mencoba sendiri di salon, sambil berbincang santai. Perjalanan itu tidak selalu mulus. Produk buatannya sempat ditolak oleh banyak toko retail. Alih-alih menyerah, Estée justru mencari cara lain untuk menjangkau pelanggan.
Ia memilih datang langsung ke salon hingga rumah pelanggan, karena percaya rekomendasi antar perempuan jauh lebih kuat daripada iklan.
Estee Lauder Membangun Bisnis dengan Sentuhan Personal
Tahun 1946 menjadi titik penting ketika ia bersama suaminya mendirikan Estée Lauder Companies. Ia memilih pendekatan personal dengan turun langsung ke toko, melatih staf, dan mendemonstrasikan produk ke pelanggan. Cara ini membuat hubungan dengan konsumen terasa lebih dekat dan dipercaya.
Di saat yang sama, ia memperkenalkan strategi inovatif dengan memberikan sampel gratis atau hadiah pembelian, yang kini dikenal sebagai gift with purchase. Strategi ini terbukti efektif dan akhirnya menjadi standar di industri kecantikan dunia.
Menciptakan Standar Baru di Industri Kecantikan
Menciptakan Standar Baru di Industri Kecantikan. Foto: ESTEE LAUDER
Seiring waktu, bisnisnya berkembang pesat dan masuk ke berbagai department store ternama. Dari sana, brand Estée Lauder berekspansi ke berbagai negara dan dikenal sebagai simbol kecantikan premium. Ia juga menciptakan banyak standar baru dalam industri.
Mulai dari konsep beauty contract dengan model hingga citra brand yang konsisten lewat satu wajah perempuan. Ia juga termasuk yang lebih dulu melihat potensi pasar produk kecantikan untuk pria. Pendekatan-pendekatan ini membuat brand-nya tetap relevan di tengah perubahan tren.
Dari Brand ke Imperium Global
Estee Lauder New Advanced Night Repair Intense Concentrate. Foto: Avissa Harness/ kumparan
Kini, Estée Lauder Companies menaungi lebih dari 25 brand besar seperti Clinique dan MAC Cosmetics. Produk-produknya hadir di sekitar 150 negara dan menjadi bagian dari industri kecantikan global. Perusahaan ini terus berkembang bahkan setelah Estée meninggal dunia pada 2004.
Nilai perusahaannya pun terus meningkat dan per maret 2026 diperkirakan mencapai USD 39,15 miliar atau Rp 661,83 juta. Hal ini menunjukkan, fondasi yang ia bangun sejak awal tetap kuat hingga sekarang. Ya Ladies, brand ini bukan hanya bertahan, tapi terus berkembang lintas generasi.
Filosofi Kecantikan yang Memberdayakan Perempuan
Filosofi Kecantikan yang Memberdayakan Perempuan. Foto: ESTEE LAUDER
Bagi Estée, kecantikan adalah tentang bagaimana perempuan melihat dirinya sendiri. Ia percaya bahwa keinginan untuk merasa cantik adalah bagian dari kepercayaan diri. Lewat produknya, ia ingin setiap perempuan merasa lebih yakin tanpa harus mengubah jati dirinya.
"Jangan pernah meremehkan keinginan perempuan untuk merasa cantik," tegasnya.
Pemikiran ini juga yang membuatnya melihat bisnis kecantikan sebagai ruang untuk memberdayakan perempuan.
Estée Lauder tidak hanya membangun bisnis, tapi juga warisan. Perusahaannya tetap dijalankan oleh keluarga dan berkembang lintas generasi. Hal ini membuat brand-nya tetap relevan di tengah perubahan tren yang cepat.
Di luar bisnis, ia juga aktif dalam filantropi. Salah satu yang paling dikenal adalah kampanye kesadaran kanker payudara dengan simbol pita pink yang kini mendunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar