Search This Blog

Secangkir Kopi, Segunung Dopamin: Sains di Balik Kebahagiaan Setelah Ngopi

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Secangkir Kopi, Segunung Dopamin: Sains di Balik Kebahagiaan Setelah Ngopi
Oct 26th 2025, 09:00 by fatima anutyaaa

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Pagi tanpa kopi terasa hambar seperti sinyal yang ada tapi tak tersambung. Bagi banyak orang, secangkir kopi bukan sekadar rutinitas, melainkan tombol "mulai" bagi otak untuk beraktivitas. Aromanya membangkitkan energi, sementara rasa pahitnya memberi sensasi tenang.

Kopi bukan hanya minuman, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang melekat di banyak budaya. Di era sekarang, kopi tak lagi identik dengan pagi hari saja. Siang, sore, bahkan tengah malam pun, para pecinta kopi tetap meneguknya sebagai teman kerja, belajar, atau sekadar penguat semangat.

Nah, di balik kenikmatan yang ditawarkan, kopi sejatinya sedang "bermain" di dalam sistem saraf kita. Melalui perspektif biopsikologi—ilmu yang mempelajari hubungan antara otak, tubuh, dan perilaku—kita bisa memahami bagaimana secangkir kopi memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak.

Kopi dan Otak: Dari Adenosin ke Dopamin

Secara ilmiah, kafein yang terkandung dalam kopi bekerja dengan cara menghambat reseptor adenosin di otak. Adenosin ini adalah zat kimia yang memberi sinyal kalau kita capek dan butuh istirahat. Jadi, ketika kafein "menduduki kursi" adenosin, otak tidak lagi menerima sinyal lelah itu. Hasilnya, aktivitas neuron meningkat, kita jadi lebih waspada, dan rasa kantuk pun berkurang. Menurut Santos et al. (2020) dalam Nutrition Research Reviews, mekanisme ini membantu meningkatkan konsentrasi, memperbaiki fokus, dan mempercepat waktu reaksi tubuh terhadap rangsangan.

Tapi efek kopi ternyata tidak berhenti di situ. Dari sisi psikologis, kopi juga berpengaruh pada suasana hati dan emosi kita. Kafein mampu merangsang peningkatan kadar dopamin—hormon yang sering disebut sebagai "pembawa rasa bahagia". Jadi, ketika kita merasa lebih senang atau termotivasi setelah minum kopi, itu bukan sugesti semata. Ada proses biologis yang benar-benar terjadi di otak.

Saat kafein masuk ke tubuh, otak kita merespons dengan melepaskan dopamin, neurotransmiter yang sering disebut sebagai "pembawa rasa bahagia". Dopamin inilah yang bikin kita merasa senang, termotivasi, bahkan sedikit euforia setelah meneguk kopi. Beberapa penelitian Indonesia mendukung hal ini: konsumsi kopi terbukti meningkatkan kemampuan memori jangka pendek sekaligus membuat responden merasa lebih segar dan bersemangat (Razi,2023)

Penelitian Grosso et al. (2016) bahkan menemukan bahwa orang yang minum 2–3 cangkir kopi per hari memiliki risiko 30% lebih rendah mengalami depresi dibandingkan mereka yang tidak minum kopi sama sekali. Jadi, bisa dibilang, kopi bukan hanya teman begadang, tapi juga punya efek positif terhadap keseimbangan emosi dan kebahagiaan.

Namun, nggak semua orang merasakan hal yang sama. Bagi sebagian individu yang sensitif terhadap kafein, kopi bisa menimbulkan efek lain seperti kecemasan, sulit tidur, dan jantung berdebar. Ini menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap kopi bergantung pada faktor biologis dan psikologis tiap orang. Jadi, kalau kamu merasa gelisah setelah ngopi, bukan berarti kamu lemah. Bisa jadi tubuhmu memang punya cara sendiri dalam merespons zat ini.

Kopi, Biopsikologi, dan Gaya Hidup Modern

Dalam kehidupan modern, kopi sering kali menjadi simbol produktivitas. Mahasiswa, pekerja, hingga seniman, semuanya punya alasan sendiri untuk "menyala" lebih lama dengan kopi. Dari sudut pandang biopsikologi, hal ini menunjukkan bagaimana zat biologis (kafein) berinteraksi dengan konteks sosial dan perilaku manusia.

Kopi bukan hanya stimulan fisiologis, tetapi juga alat sosial yang memengaruhi kebiasaan dan cara manusia berinteraksi. Ia menjadi alasan bertemu teman, membuka percakapan, atau sekadar jeda di tengah rutinitas padat.

Dengan kata lain, kopi adalah contoh nyata bagaimana otak, perilaku, dan lingkungan saling terhubung. Dari proses kimia kecil yang memblokir adenosin hingga ledakan dopamin yang membuat kita merasa bahagia—semuanya menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara tubuh dan pikiran manusia.

Jadi, lain kali saat kamu menyeruput kopi, mungkin kamu sedang memberi "pelukan kecil" pada otakmu. Karena di balik aroma yang menenangkan dan rasa yang pahit, ada kerja biologis yang membuat hidup terasa lebih hidup.

Media files:
01k8a99z7stmfejcfvjqf5tvk9.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar