BMKG menyebut polusi udara di Tangerang Selatan dan Depok yang menjadi terburuk kedua dan ketiga di Indonesia dipengaruhi oleh musim kemarau dan suhu panas ekstrem. Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa udara kering dan minim hujan membuat partikel debu dan polutan tidak terendapkan karena tidak ada "pencucian atmosfer". Selain faktor cuaca, Dwi menegaskan sumber utama polutan di wilayah Jabodetabek berasal dari aktivitas transportasi. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan aerosol yang meningkatkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di udara. "Selama banyak orang masih menggunakan transportasi, otomatis polutannya akan tinggi," ujarnya. Dwi juga menjelaskan fenomena inversi, yakni kondisi ketika "paru-paru atmosfer" mengempis sehingga sirkulasi udara menjadi sempit. Hal ini membuat polutan sulit tersebar dan konsentrasinya meningkat. "Bayangkan ketika ruangannya besar, dengan jumlah partikel yang sama, konsentrasinya pasti lebih rendah," katanya. 📸: Dok. kumparan/Nasywa. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#polusitangerang#news#oneliner#polusi#tangerang#lingkunganhidup#polusiudara#kualitasudara#info#infoterkini#berita#beritaterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti buruknya kualitas udara di sejumlah daerah seperti Tangerang Selatan dan Depok yang masuk zona merah berdasarkan pantauan IQAir. Hanif mengatakan kementeriannya sudah berkirim surat ke pemerintah daerah agar menekan aktivitas penyebab polusi, namun belum ditindaklanjuti. Ia menegaskan bahwa kualitas udara adalah tanggung jawab bersama, dengan sumber utama pencemar berasal dari BBM, transportasi, energi, dan konstruksi. Hanif mengungkapkan bahwa kontribusi terbesar polusi udara berasal dari bahan bakar minyak dengan kadar sulfur tinggi, mencapai 35–50 persen. Ia menyoroti bahwa standar BBM Indonesia masih jauh dari ketentuan WHO yang menetapkan kadar sulfur maksimal 50 ppm, sementara Indonesia masih di angka 1.500 ppm. Menurut IQAir, Tangsel dan Depok termasuk kota dengan polusi tertinggi pada Selasa (21/10), dengan indeks masing-masing 155 dan 147. Peneliti BRIN Ardhi Adhary Arbain menyebut, polusi di Tangsel banyak disumbang industri seperti pasir dan pabrik, sedangkan Depok didominasi dari sektor transportasi. Sementara itu, wilayah Kota Tangerang juga sempat masuk zona merah dengan indeks di atas 140 berdasarkan aplikasi Nafas pada Minggu (19/10) malam. Namun, Dinas LH Kota Tangerang menyebut hasil pemantauan melalui alat resmi ISPUNet menunjukkan kualitas udara masih di bawah 100 atau kategori baik. DLH Kota Tangerang memastikan pemantauan dilakukan di lima titik berbeda, mencakup kawasan permukiman, lalu lintas padat, industri, dan bandara. Mereka juga menggiatkan berbagai upaya pengendalian seperti car free day, larangan kendaraan pribadi bagi ASN tiap Jumat, hingga satgas pemantauan untuk mencegah pembakaran sampah sembarangan. 📸: Dok. Antara/Ilustrasi, Istimewa, Shutterstock/Ilustrasi. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#polusitangerang#news#videonews#polusi#tangerang#lingkunganhidup#polusiudara#kualitasudara#info#infoterkini#berita#beritaterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Tingkat polusi di sejumlah daerah kini masuk zona merah, salah satunya Tangerang Selatan (Tangsel). Berdasarkan data IQAir, polusi di Serpong sempat mencapai angka 155—masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini pun jadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup, yang bahkan mengirim surat ke Wali Kota Tangsel. Namun, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie membantah temuan itu. Ia menyebut berdasarkan alat pemantau ISPU Net milik Kementerian LH, kualitas udara di Tangsel masih di bawah 100 alias baik. "IQAir saya belum punya datanya. Tapi kami lihat indeksnya di bawah 100," ujarnya. Sementara di Tangerang, aplikasi Nafas mencatat kualitas udara sempat menembus angka 140. Tapi Dinas LH Tangerang juga menyebut data ISPU Net menunjukkan hasil berbeda. Menteri LH Hanif Faisol menegaskan, persoalan polusi ini merupakan tanggung jawab bersama semua pihak. 📸: Dok. kumparan/Amira, Antara, KLHK. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus#polusitangerang#news#svl#polusi#tangerang#lingkunganhidup#polusiudara#kualitasudara#info#infoterkini#berita#beritaterkini#bicarafaktalewatberita#kumparan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar