Dec 26th 2022, 19:41, by Tim kumparan, kumparanNEWS
Warga menyaksikan kapal kayu menggunakan layar yang mengangkut puluhan imigran etnis Rohingya terdampar di pantai Desa Ladong, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Minggu (25/12/2022). Foto: Ampelsa/Antara Foto
PBB pada Senin (26/12) menyebut tahun 2022 sebagai salah satu periode terburuk bagi pengungsi etnis Rohingya.
Hal ini lantaran banyaknya pengungsi yang memaksa melarikan diri dari kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh ke negara-negara lain, salah satunya Indonesia.
Juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Babar Baloch, mengatakan sedikitnya 200 orang etnis Rohingya diduga tewas atau hilang pada tahun ini saat mencoba melarikan diri.
"Tren menunjukkan angka-angka mencapai kembali ke tahun 2020 ketika lebih dari 2.400 orang mencoba penyeberangan laut yang berisiko, dengan lebih dari 200 orang tewas atau hilang," kata Baloch, seperti dikutip dari Reuters.
Mereka berangkat dari Bangladesh untuk mencari kehidupan lebih baik pada awal Desember 2022. Pasalnya, kini kamp pengungsian di negara Asia Selatan itu telah dihuni oleh lebih dari satu juta pengungsi Rohingya.
Baloch menjadikan 2022 sebagai salah satu tahun terburuk setelah 2013 dan 2014. Pada 2013, hampir 900 orang Rohingya tewas atau hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala.
Sedangkan pada 2014 tercatat lebih dari 700 orang. Jumlah pengungsi yang meninggalkan Bangladesh menggunakan perahu juga melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh
Para pengungsi Rohingya juga menjadikan Indonesia sebagai destinasi untuk melarikan diri.
Pada Minggu (25/12/2022), sebanyak 58 imigran Rohingya kembali terdampar di Desa Ladong, Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar. Kapal yang mereka gunakan merapat ke pesisir pantai sekitar pukul 10.00 WIB.
Bakamla RI ikut amankan imigran ilegal Rohingya yang terdampar di Aceh Besar, Minggu (26/12). Foto: Humas Bakamla RI
Menurut Kapolsek Krueng Raya, Ipda Rolly Yuliza Awa, mengatakan sebagian besar pengungsi tersebut dalam kondisi sakit. Mereka diyakini telah menghabiskan hampir sebulan terapung-apung di laut.
Sedangkan pada November lalu, dua kapal yang membawa 230 pengungsi Rohingya termasuk perempuan dan anak-anak mendarat di Aceh. Selain Indonesia, Sri Lanka juga menyelamatkan 104 orang Rohingya yang terapung di lepas pantai utara Samudera Hindia.
Rohingya merupakan etnis minoritas di Myanmar — negara dengan penduduk mayoritas beragama Buddha. Myanmar menganggap etnis ini sebagai imigran ilegal dari Asia Selatan dan tak mendapat kewarganegaraan.
Sejak 2017, Rohingya menjadi target operasi militer sebagai tanggapan atas serangan pemberontak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar