Search This Blog

Nilai TKA Rendah, Cermin Kualitas Pendidikan atau Sekadar Angka?

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Nilai TKA Rendah, Cermin Kualitas Pendidikan atau Sekadar Angka?
Jan 5th 2026, 12:00 by Tiana Jati Pandini

Ilustrasi Pembelajaran (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ilustrasi Pembelajaran (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Belakangan ini, publik ramai membahas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan sebagian besar peserta mendapat nilai di bawah standar kelulusan ideal. Bahkan pada beberapa mata pelajaran, rata-rata nasional hanya berkisar 20–30 poin. Fenomena ini langsung memicu kekhawatiran dan pertanyaan besar tentang kualitas pendidikan kita saat ini.

Apakah rendahnya nilai itu benar-benar menandakan penurunan kemampuan siswa, atau justru mencerminkan masalah struktural dalam sistem pendidikan?

Nilai sebagai Cermin, Bukan Satu-Satunya Ukuran

Dalam dunia pendidikan, nilai seharusnya dipandang sebagai alat evaluasi, bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Rendahnya nilai TKA bisa jadi "alarm dini" bahwa ada kesenjangan antara materi yang diajarkan di sekolah dengan kemampuan analisis yang diuji lewat tes.

Selama ini, banyak sekolah masih mengandalkan metode hafalan. Saat dihadapkan soal berbasis penalaran, siswa sering kesulitan. Ini bukan berarti mereka tidak mampu, tapi mungkin belum terbiasa dengan model soal yang butuh analisis mendalam.

Ketimpangan Akses Pendidikan

Kita juga tak boleh mengabaikan disparitas fasilitas pendidikan. Ada sekolah yang punya akses teknologi, sumber belajar memadai, dan guru kompeten. Tapi tak sedikit sekolah yang masih berjuang dengan hal dasar, seperti ruang kelas, buku, dan jumlah pengajar.

Dalam kondisi seperti ini, TKA menerapkan standar penilaian seragam untuk semua siswa, padahal situasi belajar mereka sangat berbeda. Hal ini tentu memengaruhi hasil akhir.

Refleksi bagi Guru dan Institusi Pendidikan

Rendahnya nilai TKA seharusnya bukan bahan stigma atau ejekan terhadap siswa. Justru ini jadi bahan renungan bagi pendidik dan pembuat kebijakan. Evaluasi perlu dilakukan, mulai dari metode pembelajaran, kurikulum, sampai kualitas asesmen di sekolah.

Apakah nilai rapor selama ini benar-benar mencerminkan kemampuan siswa? Atau ada "inflasi nilai" yang membuat standar akademik kabur?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab dengan jujur dan menyeluruh.

Keluarga dan Masyarakat Juga Berperan

Tekanan akademik besar sering dibebankan ke siswa. Saat nilai rendah, siswa yang pertama disalahkan. Padahal, motivasi belajar sangat dipengaruhi dukungan keluarga dan lingkungan.

Alih-alih mempermalukan siswa karena nilai TKA rendah, seharusnya:

- Orang tua beri dukungan emosional,

- Guru bimbing tanpa menghakimi,

- Dan masyarakat berhenti menstereotipkan generasi muda sebagai "lemah" atau "malas".

Momentum untuk Perbaikan Sistemik

TKA seharusnya bukan vonis akhir. Nilai rendah justru beri kesempatan bagi pemerintah dan sekolah untuk:

- Susun strategi pengajaran berbasis pemahaman konsep,

- Perkuat kompetensi guru,

- Pastikan pemerataan akses pendidikan,

- Serta perbaiki sistem evaluasi akademik.

Dengan begitu, tujuan utama pendidikan — bentuk generasi kritis, adaptif, dan siap hadapi tantangan global — bisa tercapai.

Penutup

Nilai TKA rendah bukan akhir segalanya. Ia hanya indikator bahwa masih banyak pekerjaan rumah di dunia pendidikan Indonesia. Daripada saling salahkan, saatnya semua pihak berkolaborasi ciptakan sistem pendidikan lebih inklusif, adil, dan bermakna.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan cuma tentang angka di lembar ujian, melainkan tentang bentuk manusia berkarakter, berkompetensi, dan berdaya saing.

Media files:
01kdzgfs3270y7arjeaaw3exee.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar