Search This Blog

Menelusuri Aneka Jenis Burung di Gunung Malabar

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menelusuri Aneka Jenis Burung di Gunung Malabar
Jan 25th 2026, 08:00 by Fabian Satya Rabani

Burung Manyar sangat mudah ditemui di semak-semak kaki Gunung Malabar (Foto: Fabian S.R.)
Burung Manyar sangat mudah ditemui di semak-semak kaki Gunung Malabar (Foto: Fabian S.R.)

Gunung Malabar berdiri di selatan Bandung, tepatnya di kawasan Pangalengan. Gunung ini memiliki puncak setinggi sekitar 2.343 meter di atas permukaan laut. Lerengnya memanjang dan bertahap.

Setiap kenaikan ketinggian menghadirkan suasana hutan yang berbeda. Perubahan itu juga terlihat jelas pada suara jenis burung yang menghuninya.

Perjalanan dari kaki hingga puncak Gunung Malabar seperti membuka halaman demi halaman cerita alam. Suhu perlahan turun. Kabut semakin sering hadir. Vegetasi berubah bentuk dan ukuran. Bersamaan dengan itu, suara burung ikut berganti.

Di gunung ini, burung tidak tersebar secara acak. Mereka menempati zona tertentu sesuai ketinggian. Setiap zona memiliki ciri lingkungan khas dan menghadirkan kelompok burung yang berbeda.

Tulisan ini mengajak Sahabat Kumparan menyusuri lima zona ketinggian Gunung Malabar. Narasi disusun berdasarkan penyimakan penulis dari kaki gunung hingga puncak. Jadi, pembagian ini lebih didasarkan suara burung yang terdengar.

Penulis berusaha mendengarkan dan merekam, kemudian dengan cermat membuat deskripsi jenis burung berdasarkan suara, selain yang terlihat langsung di lokasi.

Zona Kaki Gunung

Zona kaki gunung berada pada ketinggian sekitar 700 hingga 1.000 meter. Suhu di wilayah ini masih terasa hangat. Kelembapan udara cukup tinggi sepanjang hari. Lanskapnya bercampur antara alam dan aktivitas manusia.

Suasana flora di zona kaki gunung dekat pemukian warga (Foto: Fabian S.R.)
Suasana flora di zona kaki gunung dekat pemukian warga (Foto: Fabian S.R.)

Kebun teh terbentang luas. Ladang dan hutan sekunder tumbuh di sela-selanya. Pohon berdaun lebar berdiri berdampingan dengan semak dan tanaman budidaya. Kondisi ini menghadirkan banyak sumber pakan.

Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) menjadi salah satu burung yang paling sering terlihat. Tubuhnya ramping dengan panjang sekitar dua puluh sentimeter.

Warna bulunya cokelat keabu-abuan. Bagian perut tampak lebih terang. Burung ini bergerak aktif di semak dan tajuk rendah. Makanannya berupa buah kecil, nektar, dan serangga. Suaranya nyaring dan berulang.

Kutilang (Pycnonotus aurigaster) juga mudah dikenali di zona ini. Ukuran tubuhnya sedikit lebih besar. Kepalanya hitam dengan jambul tegak. Warna kuning terang terlihat jelas di bawah ekor. Kutilang sering terlihat di ruang terbuka. Burung ini memakan buah, biji, dan serangga. Suaranya keras dan bervariasi.

Burung tekukur banyak ditemui di zona ini, banyak yang mencari makan di tanah (Foto: Fabian S.R.)
Burung tekukur banyak ditemui di zona ini, banyak yang mencari makan di tanah (Foto: Fabian S.R.)

Tekukur (Spilopelia chinensis) terlihat di zona ini dengan postur yang lebih besar. Panjang tubuhnya mencapai tiga puluh sentimeter. Lehernya memiliki pola sisik hitam putih. Burung ini sering berjalan di tanah atau bertengger di tempat terbuka. Makanannya didominasi biji-bijian. Suaranya berupa dengungan lembut yang berulang.

Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) tampil kecil dan lincah. Tubuhnya ramping dengan ekor panjang yang sering ditegakkan. Warna punggung hijau zaitun. Bagian bawah tubuh kuning pucat. Burung ini aktif meloncat di semak. Makanannya berupa serangga kecil. Suaranya cepat dan nyaring.

Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) hidup berkelompok di area terbuka. Ukuran tubuhnya kecil dengan paruh tebal. Warna kepala dan dada cokelat. Perutnya putih bersih. Burung ini memakan biji rumput dan padi liar. Suaranya berupa ciapan pendek yang halus.

Zona Submontana Atas

Zona submontana atas berada di ketinggian 1.000 hingga 1.400 meter. Suhu udara mulai terasa lebih sejuk. Kanopi hutan semakin rapat. Lumut dan tumbuhan epifit tumbuh menempel di batang pohon.

Cikrak daun (Phylloscopus trivirgatus) menjadi suara latar yang hampir selalu terdengar. Tubuhnya kecil dengan warna hijau zaitun. Burung ini terus bergerak di ranting halus. Ia memungut serangga kecil dari daun. Suaranya tipis dan berulang.

Burung kepodang terlihat di atas pohon tinggi di area ini dan rajin berkicau (Foto: Fabian S.R.)
Burung kepodang terlihat di atas pohon tinggi di area ini dan rajin berkicau (Foto: Fabian S.R.)

Takur tenggeret (Psilopogon javensis) tampil dengan tubuh kekar dan paruh besar. Warna hijau mendominasi bulunya. Aksen biru terlihat di pipi. Burung ini sering bertengger lama. Makanannya berupa buah dan serangga besar. Suaranya keras dan monoton.

Burung Kepodang (Oriolus chinensis) di Jawa Barat terkenal karena bulunya yang kuning keemasan dengan corak hitam di kepala, sayap, dan ekor, serta punya garis hitam di mata. Seringkali makan buah dan serangga. Memiliki suara siulan nyaring mirip seruling dan pandai meniru kicauan burung lain, menjadikannya burung yang indah dan cerdas.

Cipoh kacat (Aegithina tiphia) hadir dengan warna mencolok. Jantan memiliki topeng hitam di wajah. Tubuhnya hijau dan kuning cerah. Burung ini aktif di lapisan tengah hutan. Ia memakan serangga kecil. Suaranya merdu dan cepat.

Sepah hutan (Pericrocotus flammeus) bergerak lincah di tajuk. Jantan berwarna hitam dan jingga. Betina tampak lebih pucat. Burung ini berburu serangga sambil terbang singkat. Suaranya tajam dan nyaring.

Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus) lebih sering terdengar daripada terlihat. Tubuhnya ramping dengan warna abu-abu kecokelatan. Burung ini memakan ulat dan serangga besar. Suaranya naik bertahap dan berulang.

Zona Montana Bawah

Zona montana bawah terletak pada ketinggian 1.400 hingga 1.800 meter. Suhu semakin dingin. Vegetasi tampak lebih seragam. Lumut tebal menutupi batang dan tanah.

Flora Gunung Malabar  di montana atas didominasi pohon-pohon tua sedang tidak terlalu besar  (Foto: Fabaian S.R.)
Flora Gunung Malabar di montana atas didominasi pohon-pohon tua sedang tidak terlalu besar (Foto: Fabaian S.R.)

Kacamata gunung (Zosterops montanus) mudah dikenali dari lingkar putih di matanya. Tubuhnya kecil dan bulat. Warna hijau zaitun mendominasi punggung. Burung ini bergerak berkelompok. Makanannya berupa serangga dan buah lunak. Suaranya halus dan terus-menerus.

Sikatan belang (Ficedula westermanni) sering bertengger tegak di dahan rendah. Jantan berwarna hitam putih. Betina tampak lebih kusam. Burung ini menyambar serangga di udara. Suaranya pendek dan jernih.

Burung sikatan belang mendominasi daerah ini dengan suara bersahutan (Foto: Fabian S.R.)
Burung sikatan belang mendominasi daerah ini dengan suara bersahutan (Foto: Fabian S.R.)

Decu belang (Saxicola caprata) sering terlihat di tempat terbuka. Tubuhnya kecil dan tegap. Jantan berwarna hitam dengan bercak putih. Burung ini menyambar serangga dekat tanah. Suaranya tajam dan singkat.

Wallet linchi (Collocalia linchi) hampir selalu terlihat terbang. Sayapnya panjang dan melengkung. Warna tubuh cokelat gelap mengilap. Burung ini menangkap serangga di udara. Suaranya berupa cicitan tinggi.

Ciblek gunung (Prinia atrogularis) aktif di semak rendah. Tubuhnya ramping dengan ekor panjang. Warna bulunya cokelat keabu-abuan. Burung ini memakan serangga kecil. Suaranya cepat dan berulang.

Zona Montana Atas

Zona montana atas berada di ketinggian 1.800 hingga 2.100 meter. Kabut sering turun tiba-tiba. Cahaya matahari berkurang. Vegetasi didominasi pohon kerdil dan semak.

Burung mungguk beledu banyak hidup di zona ini (Foto: Fabian S.R.)
Burung mungguk beledu banyak hidup di zona ini (Foto: Fabian S.R.)

Ceret gunung (Pnoepyga pusilla) bergerak rendah di balik semak. Tubuhnya kecil dan bulat. Warna bulunya cokelat kusam. Burung ini memakan serangga kecil. Suaranya tajam dan cepat.

Anis gunung (Zoothera monticola) hadir dengan tubuh lebih besar. Warnanya abu-abu kecokelatan. Burung ini sering mencari makan di tanah. Ia memakan buah dan serangga besar. Suaranya dalam dan berirama lambat.

Srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus) tampak gesit dan waspada. Tubuhnya ramping dengan ekor bercabang. Warna bulunya abu-abu gelap. Burung ini menyambar serangga di udara. Suaranya keras dan bervariasi.

Munguk beledu (Sitta azurea) bergerak vertikal di batang pohon. Tubuhnya kompak dengan warna biru kehijauan. Burung ini mengambil serangga dari celah kulit pohon. Suaranya pendek dan tajam.

Takur gunung (Psilopogon monticola) sering bertengger diam di dahan tinggi. Tubuhnya besar dan berwarna hijau. Aksen merah tampak di kepala. Burung ini memakan buah dan serangga. Suaranya berdentum dan berulang.

Zona Puncak Montana

Zona puncak berada di ketinggian 2.100 hingga 2.343 meter. Angin bertiup lebih kencang. Vegetasi tumbuh rendah dan jarang. Batu terbuka banyak dijumpai.

Ceret gunung (Pnoepyga pusilla) masih hadir di semak rendah. Gerakannya cepat dan tersembunyi. Warna bulunya menyatu dengan lingkungan. Suaranya menjadi penanda utama kehadirannya.

Flora puncak montana Gunung Malabar ditumbuhi pohon-pohon kecil yang rapat (Foto: Fabian S.R.)
Flora puncak montana Gunung Malabar ditumbuhi pohon-pohon kecil yang rapat (Foto: Fabian S.R.)

Kacamata gunung (Zosterops montanus) bergerak di semak berbunga. Tubuh kecilnya tampak kontras dengan cincin mata putih. Burung ini memakan nektar dan serangga kecil. Suaranya lembut dan berulang.

Decu belang (Saxicola caprata) sering bertengger di batu terbuka. Posturnya tegap dan waspada. Burung ini menyambar serangga di udara rendah. Suaranya pendek dan tajam.

Burung kaca mata gunung hidup berkoloni di daerah puncak Gunung Malabar (Foto: Fabian S.R.)
Burung kaca mata gunung hidup berkoloni di daerah puncak Gunung Malabar (Foto: Fabian S.R.)

Sikatan belang (Ficedula westermanni) menempati tepi vegetasi. Gerakannya cepat saat berburu. Warna hitam putih tampak jelas. Suaranya terdengar jernih di udara dingin.

Wallet linchi (Collocalia linchi) terbang mengikuti kontur lereng. Sayapnya memanfaatkan arus angin. Burung ini menangkap serangga kecil di udara. Suaranya terdengar samar dari ketinggian.

Pembagian zonasi burung di Gunung Malabar menunjukkan bahwa ketinggian merupakan faktor penentu utama dalam pembentukan komunitas burung. Setiap zona memiliki karakteristik ekologis dan jenis burung dominan yang berbeda.

Pemahaman terhadap zonasi ini penting sebagai dasar pengelolaan kawasan, pengembangan ekowisata berbasis birdwatching, serta upaya konservasi burung pegunungan Jawa Barat.

Media files:
01kfn8xnqqa8ez7nbjkv9xqtpm.png image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar