Pabrik penyulingan minyak Rosneft di kota Gubkinsky di Siberia barat, Rusia pada 2 Juni 2006. Foto: Delphine Thouvenot/AFP
Eskalasi perang energi antara Rusia dengan Ukraina mengalami peningkatan, meski potensi pembicaraan soal perdamaian dua negara tersebut terbuka. Hal ini ditandai dengan adanya serangan besar-besaran Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Dikutip dari Bloomberg, Minggu (22/11), serangan tersebut membuat bisnis dan rumah tangga di Ukraina menghadapi pemadaman listrik yang panjang. Meski demikian, Ukraina juga membalas dengan menyerang infrastruktur energi Rusia seperti kilang minyak hingga anjungan lepas pantai untuk mengganggu aliran pendapatan minyak Rusia.
"Rusia akan melakukan apa pun untuk memastikan kita mengalami pemadaman listrik terus-menerus. Tapi mereka harus tahu bahwa kami akan membalas. Menurut saya itu adil," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Menurut DEO DTEK, yang merupakan perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, Maxim Timchenko, musim dingin kali ini menjadi yang paling berat sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022. Hal ini karena Sejak September Rusia melakukan serangan masif ke infrastruktur energi.
"Sejak September, Rusia menyerang semua jenis aset energi seperti tambang, pembangkit listrik, gardu, jalur transmisi, produksi gas, hingga penyimpanan gas," ujarnya.
Adapun serangan Rusia yang melibatkan lebih dari 500 drone dan rudal pada Rabu (19/11) menewaskan sedikitnya 25 orang dan memicu pemadaman listrik baru. Menurut Zelenskiy, pada pekan lalu Rusia meluncurkan lebih dari 2.000 drone kamikaze, bom luncur, dan rudal ke Ukraina.
Meskipun pejabat Ukraina enggan mengungkapkan tingkat kerusakan secara detail, durasi pemadaman listrik memberi gambaran besarnya masalah. Menurut data DTEK, di Kyiv pemadaman berlangsung rata-rata delapan jam dalam beberapa hari terakhir bahkan mencapai 16 jam dalam beberapa kasus.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berpidato pada sesi ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, 25 September 2024, di markas besar PBB. Foto: Julia Demaree Nikhinson/AP
Operator jaringan listrik Ukraina, Ukrenergo mengatakan pada Kamis (20/11) bahwa pemadaman darurat diberlakukan di sebagian besar wilayah. Hal ini karena proses perbaikan kerusakan akibat serangan Rusia pada fasilitas energi.
Sementara itu di sisi Ukraina, mereka mengeklaim telah menyerang sekitar 45 fasilitas produksi bahan bakar Rusia sejak awal Agustus sehingga total Ukraina melakukan sekitar 65 serangan tahun ini. Angka itu meningkat dari 35 serangan pada tahun sebelumnya.
Serangan terhadap kilang minyak Rusia juga telah menurunkan volume pemrosesan minyak Rusia di bawah rata-rata musiman. Pada 14 November lalu, Ukraina juga menyerang infrastruktur pembuatan minyak Rusia di Laut Hitam. Hal ini memicu keadaan darurat dan sempat mengganggu pengiriman minyak mentah untuk ekspor. Serangan Ukraina meningkat seiring perluasan sanksi Barat terhadap Rusia untuk menekan pendapatan energi negara itu.
"Kita harus berbuat lebih banyak agar perang ini berhenti, dan perang akan berhenti ketika Rusia kehabisan uang dan menyadari mereka tak bisa bertahan lebih lama dari kita," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump pada Kamis (20/11) lalu kembali mendorong penyelesaian konflik ketika pejabat AS dengan mempresentasikan rencana perdamaian 28 poin yang disusun bersama Rusia. Hal itu merupakan rencana yang menurut Zelenskiy bersedia ia bahas dengan Presiden AS tersebut.
Rencana itu mengharuskan Ukraina menyerahkan sebagian besar wilayah yang direbut Rusia, membatasi ukuran militer Ukraina, serta mencabut sanksi terhadap Rusia secara bertahap.
Skandal Korupsi Energi Jadi Tantangan
Ilustrasi kilang minyak di tengah laut. Foto: Shutterstock
Selain karena serangan Rusia, skandal korupsi besar terkait sektor energi Ukraina semakin menambah tantangan. Penyelidik antikorupsi menuding mantan rekan bisnis Zelenskiy yakni Timur Mindich sebagai pemimpin skema penggelapan dana hingga USD 100 juta.
Penyelidikan tersebut menargetkan dugaan suap dari kontraktor pembangunan pertahanan untuk melindungi fasilitas nuklir Ukraina dari serangan udara Rusia. Hal ini terjadi ketika Zelenskiy mencari dukungan finansial lebih besar dari Eropa untuk sistem pertahanan udara.
Adapun Ia mengumumkan perombakan besar manajemen dan audit finansial penuh terhadap badan-badan energi milik negara untuk meredam kemarahan publik.
Meski 60 persen listrik Ukraina berasal dari nuklir dan 20 persen dari energi terbarukan, negara itu sangat membutuhkan pasokan gas alam untuk pembangkit listrik di musim dingin.
Maka dari itu, Ukraina berencana menyimpan sekitar 13,2 miliar meter kubik gas untuk musim pemanas yang dimulai pertengahan Oktober. Namun serangan drone dan rudal Rusia bulan lalu menghancurkan sekitar 60 persen produksi gas domestik dan membuat impor tambahan sangat penting.
Pada awal November, Ukraina kekurangan sekitar 750 juta Euro dari total 2 miliar Euro yang dibutuhkan untuk pembelian bahan bakar.
Meski demikian pada Minggu (23/11) ini, Zelenskiy dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis juga akan bertemu di Athena dan mengumumkan kesepakatan di mana Depa Commercial SA akan memasok gas alam AS untuk Naftogaz Ukraina mulai Desember hingga Maret.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar