Stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia, dan para ahli menegaskan bahwa kondisi ini tidak muncul begitu saja. Dokter Spesialis Anak, dr. Yuni Astria, Sp.A, menjelaskan bahwa faktor risiko stunting sebenarnya telah dimulai jauh sebelum anak lahir, bahkan sejak masa pra-kehamilan.
Menurut dr. Yuni, faktor paling besar yang dapat meningkatkan risiko stunting adalah IUGR (Intrauterine Growth Restriction) atau hambatan pertumbuhan dalam kandungan. Kondisi ini menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, baik pada kehamilan cukup bulan maupun prematur.
"Adanya IUGR maka risiko yang bisa didapatkan oleh seorang anak untuk mengalami stunting ke depannya juga lebih besar," tutur dr. Yuni dalam acara Press Conference Parenthood Institute 2025 di Jakarta Selatan, Selasa (18/11).
Dokter Spesialis Anak, dr. Yuni Astria, Sp.A, di Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Faktor Risiko Stunting: dari Masa Kehamilan hingga Awal Kehidupan Anak
Faktor risiko kedua adalah infeksi atau sakit berulang, termasuk penyakit kronis pada anak. Infeksi berkepanjangan dapat mengganggu penyerapan nutrisi serta menghambat pertumbuhan fisik.
Selain itu, asupan gizi yang tidak lengkap, tidak seimbang, dan tidak adekuat, juga menjadi penyebab utama lainnya. Tanpa pemenuhan gizi yang optimal, anak lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan.
Faktor berikutnya yang turut berperan adalah kualitas tidur dan aktivitas fisik. Kedua aspek ini memengaruhi hormon pertumbuhan dan perkembangan metabolisme tubuh.
Ilustrasi ibu hamil melakukan pemeriksaan di dokter. Foto: Shutterstock
Namun, yang sering kali terabaikan, menurut dr. Yuni adalah bahwa risiko stunting sebenarnya dapat dipengaruhi sejak sebelum ibu hamil. Status gizi calon ibu harus sudah baik, lengkap, dan seimbang. Termasuk kecukupan makronutrien dan mikronutrien seperti zat besi dan vitamin D.
Selama masa kehamilan, ibu juga perlu memastikan dirinya tidak mengalami anemia defisiensi besi, kekurangan vitamin D, maupun kondisi medis lain yang dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Ilustrasi ibu hamil minum vitamin. Foto: Shutterstock
"Kondisi sakit pada saat hamil, status gizinya tidak adekuat, kemungkinan terjadinya prematur itu lebih besar, risiko pendarahannya, termasuk juga kemungkinan terjadinya risiko stunting ke depannya ya kalau kita bicara untuk jangka panjangnya," tegas dr. Yuni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar