Ilustrasi siswa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Foto: Toto Santiko Budi/Shutterstock
"Sekolah tanpa beban." Saya sering mendengar frasa itu diucapkan, entah dalam pidato pejabat yang berapi-api atau dalam tajuk berita yang penuh harapan. Sebuah konsep yang terdengar begitu sederhana, begitu mendasar, tetapi terasa seperti sebuah utopiadi tengah rimba belantara pendidikan kita. Saya mencoba membayangkan artinya dengan sepenuh hati: anak-anak berangkat ke sekolah dengan aman, belajar di ruang kelas yang atapnya tidak bocor, dan pulang membawa ilmu serta tawa, tanpa pernah lagi dihantui tagihan iuran komite yang mencekik leher orang tua mereka. Sebuah mimpi yang indah, bukan?
Namun, lamunan ini sering kali buyar oleh kenyataan yang menusuk. Beban itu nyata dan kasat mata, terpampang jelas di ribuan sudut negeri ini. Saya membayangkan anak-anak di pelosok yang masih harus meniti jembatan rapuh setiap pagi dan mempertaruhkan nyawa demi mengeja aksara. Saya membayangkan guru honorer yang gajinya tak cukup untuk membeli buku baru dan terpaksa mengajar dengan sumber daya yang usang.
Di beberapa daerah memang terlihat adanya secercah harapan; ada kepala daerah yang berani bergerak, menghapus biaya sekolah, menggelontorkan beasiswa, dan bahkan memasang internet satelit di wilayah terpencil (baca: Sherly Laos, Gubernur Maluku Utara). Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk perjuangan lokal seperti itu.
Namun, ketika menarik lensa lebih jauh untuk melihat potret kebijakan pendidikan nasional, optimisme itu memudar menjadi keprihatinan. Alih-alih fokus mengangkat beban-beban mendasar ini secara merata dan sistematis, kita di tingkat pusat tampaknya justru sedang sibuk menciptakan beban-beban baru. Kita terobsesi membangun ratusan sekolah unggulan, seperti Sekolah Rakyat, Taruna Nusantara, Sekolah Unggul Garuda Transformasi, sedangkan data menunjukkan puluhan ribu sekolah yang sudah ada dibiarkan sekarat. Kita lebih tertarik pada proyek-proyek mercusuar yang megah dan fotogenik, ketimbang memastikan setiap anak di negeri ini bisa sekolah dengan tenang dan bermartabat.
Anies Baswedan, dalam sebuah forum, menyebut sistem pendidikan kita ini kuno, sebuah warisan abad ke-20 yang dirancang untuk era industri: seragam, hafalan, dan penuh perintah. Hal ini saya setujui sepenuhnya dan menurut saya sistem kuno ini menghasilkan beban-beban lain yang lebih subtil dan lebih tersembunyi, tetapi tak kalah melumpuhkan jiwa pendidikan kita.
Sekolah Berpagar Bayangan Beban. Sumber: Ilustrasi generatif DALL·E, OpenAI.
Kesenjangan Imajinasi: Luka Paling Dalam di Jantung Pendidikan
Di antara semua beban itu, ada satu hal dari kritik Anies yang paling menusuk relung hati. Ia berbicara tentang "kesenjangan imajinasi". Bagi saya, hal ini adalah penyakit paling kronis dan luka paling dalam dalam sistem kita. Ini bukan lagi sekadar soal anak miskin tak punya akses ke fasilitas bagus, melainkan soal anak miskin yang bahkan tak punya akses untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dari apa yang dilihatnya sehari-hari. "Jika siswa tidak mengetahui apa itu pilot, mereka tidak mungkin punya mimpi untuk jadi pilot," begitu katanya.
Kalimat itu menghantam saya dengan keras. Kita sibuk bicara tentang e-learning, coding, dan kecerdasan artifisial. Kita melatih guru-guru (seperti dalam pelatihan yang diinisiasi UNESCO dan Mafindo) agar cakap digital supaya bisa mengajarkan siswa tentang etika AI dan bahaya disinformasi di era post-truth. Semua itu penting dan tidak ada penyangkalan sama sekali terhadapnya.
Namun, kadang terdapat pertanyaan dalam diri sendiri: Apa gunanya semua kecakapan digital itu jika imajinasi anak-anak kita tetap terpenjara dalam batas-batas lingkungan mereka yang sempit? Apa artinya kita memberi mereka kunci mobil balap (teknologi canggih) jika kita tidak pernah menunjukkan pada mereka peta jalan menuju berbagai kemungkinan tujuan? Kita sedang menciptakan generasi yang mungkin terampil secara teknis, tetapi miskin dari segi visi. Generasi yang pandai mengkonsumsi informasi, tetapi "gagap" dalam menciptakan mimpi.
Kesenjangan imajinasi ini terjadi karena sistem kita yang terlalu seragam gagal menjadi jendela. Kurikulum kita sering kali terlalu Jakarta-sentris, buku-buku kita jarang menampilkan pahlawan-pahlawan lokal, dan proses belajar kita lebih sering menguji daya ingat daripada memantik daya khayal. Kita memberikan gawai pada anak-anak, tetapi kita lupa memberikan mereka cerita-cerita yang bisa membakar semangat mereka untuk mengubah dunia.
Tiga Lapis Beban yang Harus Diangkat
Maka dari itu, lamunan tentang "sekolah tanpa beban" kini berkembang menjadi sebuah visi yang lebih utuh; sebuah sekolah yang bebas dari tiga lapis beban yang saling terkait.
Imajinasi yang Terkurung di Bangku Sekolah. Sumber: Ilustrasi generatif DALL·E, OpenAI.
Pertama, tentu saja, sekolah tanpa beban fisik dan finansial. Ini adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Setiap anak di negeri ini, tanpa terkecuali, berhak atas gedung sekolah yang aman dan akses pendidikan yang gratis. Alih-alih menghabiskan triliunan untuk membangun segelintir sekolah elite baru, atau bahkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pengelolaannya masih carut-marut, energi dan anggaran negara seharusnya difokuskan untuk merevitalisasi 13.800 sekolah dan 1.400 madrasah yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Ini bukan sekadar soal alokasi anggaran; ini soal keberpihakan dan prioritas moral.
Kedua, sekolah tanpa beban kurikulum. Saya melihat ini sebagai prasyarat mutlak untuk bisa mewujudkan semangat pembelajaran mendalam. Kita tidak mungkin bisa menciptakan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful jika guru dan siswa sama-sama terengah-engah dikejar target materi yang membengkak. Kita butuh kurikulum yang ramping, yang fokus pada esensi dan konsep-konsep kunci, yang memberikan ruang bagi guru untuk bernapas, berkreasi, dan berimprovisasi; ruang untuk melakukan proyek, ruang untuk berdialog lebih dalam, ruang bagi siswa untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya. Tanpa ruang ini, pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon kosong.
Terakhir, yang paling penting, sekolah tanpa beban imajinasi. Ini adalah tugas suci kita sebagai pendidik. Tugas kita adalah menjadi jendela dan pintu. Tugas kita adalah membawa dunia ke dalam ruang kelas dan membawa kelas ke dalam dunia nyata. Menggunakan teknologi bukan hanya sebagai alat presentasi, melainkan sebagai portal untuk membuka cakrawala.
Menghubungkan siswa di pegunungan dengan seorang ahli biologi kelautan lewat panggilan video; membawa cerita-cerita pahlawan lokal ke panggung nasional lewat proyek film dokumenter sederhana; mengajak mereka memecahkan masalah nyata di desa mereka sendiri. Pendidikan harus menjadi proses yang meyakinkan setiap anak, tak peduli dari mana asalnya, bahwa mereka punya hak dan potensi untuk menjadi apa pun yang mereka impikan.
Semangat anak-anak bangsa yang terus membara di tengah segala keterbatasan adalah bukti nyata kekuatan jiwa manusia. Sudah saatnya sistem ini berhenti membebani mereka, dan sebaliknya, mulai melayani dan membebaskan mereka. Karena hanya di sekolah yang benar-benar tanpa beban (beban fisik, beban psikologis, dan terutama, beban imajinasi) kita bisa berharap untuk melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas dan berdaya saing, melainkan juga generasi yang berani bermimpi; dan yang lebih penting lagi, berani mewujudkan mimpi-mimpinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar