Mantan Menteri Keamanan Ekonomi, Sanae Takaichi, diprediksi akan menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang. Jalannya menjadi PM perempuan pertama di Jepang semakin mulus usai terpilih menjadi ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) yang berkuasa, usai meraih dukungan luas dari pemilih konservatif.
Takaichi lahir di Nara sebagai anak tertua dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja di perusahaan manufaktur dan ibunya seorang polisi.
Sejak duduk di bangku SD, Takaichi senang mendengarkan musik heavy metal. Ia bahkan pernah menjadi drummer di band heavy metal klub musik rock saat menempuh pendidikan di Kobe University. Masa sekolahnya dikelilingi dengan musik.
Setelah lulus dari universitas, dikutip dari Yomiuri Shimbun, Senin (6/10), Takaichi bergabung dengan Matsushita Institute of Government and Management, yang kemudian membuka jalannya menjadi seorang politisi.
Jalannya menjadi politisi terbuka usai mendengar Konosuke Matsushita, pendiri institusi itu sekaligus pendiri Panasonic Cotp, memprediksi abad ke-21 akan menjadi eranya Asia.
"Jepang akan memasuki periode resesi panjang pada 1990-an. Era sistem global terpusat pada Amerika Serikat dan Uni Soviet akan berakhir, dan abad ke-21 akan menjadi eranya Asia," kata Matsushita saat itu.
Kata-kata itu akhirnya menjadi motivasi Takaichi menjadi politisi di usia 24 tahun.
"Saya ingin merumuskan kebijakan di arena politik nasional," kata Takaichi.
Dukungan Ayah di Karier Politik Sanae Takaichi
Sanae Takaichi. Foto: YUICHI YAMAZAKI/AFP
Takaichi untuk pertama kalinya mencalonkan diri sebagai calon independen untuk DPR Jepang pada Juli 1992. Namun, dia gagal mendapatkan kursi.
Ia gagal mendapat kursi di DPR karena tidak mendapat dukungan resmi dari LDP, yang mengakibatkan para kandidat konservatif saling bersaing.
Ia kemudian menemukan surat ayahnya yang diletakkan di meja. Surat itu menyampaikan dukungan penuh ayahnya atas karier politik Takaichi.
"Kamu bisa menggunakan seluruh uang pensiun ayah untuk membantu membiayai kampanye pemilihan. Percaya dirilah dan jangan lupa berjabat tangan dan membungkuk. Santai saja," berikut isi surat ayahnya. Takaichi menangis sambil memegang surat itu di dadanya.
Takaichi akhirnya meraih kemenangan sebagai calon independen untuk DPR pada Juli 1993. Pada 1996, Takaichi bergabung dengan LDP dan kemudian sangat disukai oleh mending Shinzo Abe. Hubungannya dengan Abe sangat baik, dan bahkan keduanya memiliki pandangan politik konservatif yang sama.
Pada 2021, Takaichi untuk pertama kalinya menjadi kandidat ketua LDP. Namun, dia kalah dari Fumio Kishida.
Takaichi kembali jadi kandidat ketua LDP pada 2024 dan sempat memperoleh suara tinggi dalam pemungutan suara putaran pertama. Tapi, pada akhirnya dia kalah dari Shigeru Ishiba.
Sanae Takaichi Idolakan Margareth Tatcher dan Ingin Jadi Iron Lady
Sanae Takaichi. Foto: Yue Chenxing/Pool via REUTERS
Dikutip dari BBC, Takaichi disebut mengidolakan Margareth Tatcher, perdana menteri perempuan pertama Inggris. Dalam kampanye baru-baru ini, dia bahkan menyatakan ingin menjadi Iron Lady.
"Tujuan saya ingin menjadi Iron Lady," katanya dalam kampanye baru-baru ini.
Takaichi dikenal sebagai konservatif yang gigih dan sejak lama menentang pernikahan sesama jenis.
Dia juga berjanji akan memperluas layanan rumah sakit bagi kesehatan perempuan, memberikan pengakuan yang lebih besar kepada pekerja pendukung rumah tangga, dan meningkatkan pilihan perawatan bagi masyarakat lanjut usia.
"Saya pribadi berpengalaman dalam perawatan dan pengasuhan tiga kali dalam hidup saya," ujarnya.
"Karena itu tekad saya semakin kuat untuk mengurangi jumlah orang yang dipaksa meninggalkan pekerjaan karena harus mengasuh atau anak-anak yang menolak sekolah. Saya ingin menciptakan masyarakat di mana orang-orang tidak perlu mengorbankan karier mereka," lanjutnya.
Sebagai anak didik Shinzo Abe, dia juga berjanji akan menghidupkan kembali visi ekonomi "Abenomics".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar