Petugas SAR gabungan kembali mengevakuasi satu korban ambruknya bangunan Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada pencarian hari keenam, Sabtu (4/10/2025). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ambruknya bangunan Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, ini merupakan salah satu bencana dengan jumlah korban terbesar di tahun 2025.
Total per hari ketujuh pencarian, ada 53 orang meninggal dan 13 masih dinyatakan hilang.
Hal itu diungkapkan oleh Deputi Penanganan Darat BNPB, Mayor Jenderal TNI Budi Irawan, di posko BNPB sekitar Ponpes Al-Khoziny, Senin (6/10).
"Kami baru saja dibisikin oleh Kapusdatin bahwa korban kali ini di sepanjang tahun 2025 ini adalah korban yang cukup besar menurut BNPB," kata Budi.
"Karena dari bencana-bencana alam yang terjadi baik gempa bumi di Poso, gempa bumi yang di tempat lain termasuk banjir bandang di Bali, kemudian Nagekeo (NTT). Semuanya korban nya hanya sedikit. Ini adalah korbannya cukup banyak. Jadi (lebih dari) 50 orang meninggal," lanjutnya.
Anjing di Bali yang bantu peringatkan warga saat terjadi banjir. Foto: https://www.instagram.com/sekretariat.kabinet/
Gempa Poso pada pertengahan Agustus lalu mengakibatkan 2 orang tewas dan 44 luka. Sementara banjir Bali menewaskan 18 orang.
Untuk itu, kata dia, Presiden Prabowo memberikan atensi khusus kepada Kepala BNPB untuk menangani insiden ini.
"Jadi Bapak Kepala BNPB sangat memberikan atensi atas perintah dari Bapak Presiden Prabowo Subianto," ucapnya.
Bangunan ponpes di Sidoarjo tersebut ambruk karena kegagalan konstruksi. Bangunan ambruk saat proses pengecoran untuk lantai empat. Bangunan ambruk menimpa para santri yang sedang melaksanakan salat Asar berjemaah sehingga korban yang jatuh banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar