Sejumlah pengunjung mengikuti edukasi hidroponik di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Di tengah padatnya Jakarta Selatan, tersusun deretan rak dan pipa putih yang menjulang hingga 18 meter ke langit. Dari kejauhan, bangunan itu sekilas tampak seperti gudang bertingkat.
Namun saat melangkah lebih dekat, siapa pun akan disambut barisan tanaman segar: selada, mint, perilla, italian basil, hingga thai basil.
Ladang Farm Teknologi adalah pelopor pertanian vertikal tertinggi di Indonesia, yang memanfaatkan ruang sempit perkotaan untuk menciptakan lahan pangan produktif.
Ladang Farm berdiri pada tahun 2022 di bawah naungan PT Ladang Teknologi Nusantara, sebuah perusahaan yang awalnya bergerak di bidang teknologi dan rekayasa perangkat lunak.
Pekerja menyiram sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
"Ya, Ladang Farm ini berdiri di tahun 2022. Latar belakang Ladang Farm itu bergerak di bidang software atau engineer. Awal mula Ladang itu pengin mengembangkan di bidang teknologinya," ujar General Manager Ladang Farm, Nova Riswanto, saat ditemui di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan.
Perusahaan induknya, PT Ladang Teknologi Nusantara, telah terbentuk sejak 2020. Ide ini muncul dari keinginan untuk menerapkan kemampuan teknologi mereka ke sektor pertanian modern. Ladang Farm berdiri sepenuhnya sebagai perusahaan swasta.
"Ya, kita masih pure swasta, masih pure punya PT. Ladang Teknologi Nusantara," kata Nova.
Ia menegaskan, seluruh proses mulai dari pendanaan, perizinan, hingga pembangunan dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pihak eksternal.
Pekerja memberikan penjelasan kepada pengunjung terkait sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
"Belum. Kita pure benar-benar kita melakukan dari perusahaan sendiri," tuturnya.
Pemilihan lokasi di kawasan Cilandak pun bukan tanpa alasan. Lahan yang digunakan merupakan milik pribadi pemilik perusahaan, sehingga menjadi lokasi strategis untuk menguji konsep pertanian vertikal di tengah kota.
"Kalau memilih kenapa di Cilandak, karena kan ini tanah pribadi owner. Sudah memiliki tanah. Jadi kita dirikan di lokasi tersebut," jelas Nova.
18 Meter ke Atas: Menyiasati Sempitnya Lahan Kota
Pekerja memeriksa sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ide menjadikan pertanian vertikal muncul dari kenyataan bahwa lahan di Jakarta semakin terbatas. Dengan mengandalkan sistem bertingkat, Ladang Farm mampu memproduksi hasil setara satu hektare lahan konvensional hanya dari sebidang tanah sempit.
"Kalau konsep Ladang Farm kenapa vertical farming itu, pertama, karena kita kan berdiri di tengah perkotaan. Jadi, kita memang fokus di perkotaan dan lahan semakin sempit," kata Nova.
"Jadi kita fokusnya di vertikal. Jadi dengan lahan yang sempit tapi hasilnya ya sekitaran kayak 1 hektare tanah lah," jelas Nova.
Ia menambahkan, konsep serupa memang telah banyak dikembangkan di luar negeri. Namun di Indonesia, Ladang Farm menjadi yang pertama dengan skala dan ketinggian signifikan.
Pengunjung memetik sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
"Kalau di Jakarta belum ada, dan di Indonesia pun belum ada. Baru pertama kali di Indonesia juga. Ini Ladang Farm yang mendirikan. Kalau konsep sih kalau di luar negeri udah banyak ya. Kalau yang vertical farming gitu. Tapi kalau di Indonesia paling tinggi itu sekitaran 6 meter lah," ujar Nova.
"Tapi Ladang Farm ini baru pertama di Indonesia yang mendirikan vertical farming dengan ketinggian 18 meter," sambungnya.
Teknologi Hidroponik dan Sistem Air Gravitasi
Sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Dengan ketinggian 18 meter, sistem air di Ladang Farm mengandalkan sirkulasi hidroponik gravitasi.
"Ya kalau sistem sirkulasi air sih sama seperti hidroponik yang lain, ya pada umumnya lah. Karena kita kan ketinggian, jadi kita dari pompa, tandon ke bawah naik ke atas, kita tarik ke atas. Terus di atas ada tandon satu, habis itu kita sebar dengan gravitasi," tutur Nova.
Untuk mendukung aktivitas panen dan penanaman di ketinggian tersebut, Ladang Farm juga menggunakan carlift atau lift barang.
"Oh kalau mesin yang buat naik itu, itu namanya carlift. Jadi buat operasional Ladang Farm. Jadi buat operasional ketika panen, tanam, dan mobilitas," ungkapnya.
Produksi Dua Ton Sayuran per Bulan
Suasana urban vertical farm di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Hingga kini, Ladang Farm menanam lima jenis tanaman utama: Thai Basil, Italian Basil, Shiso (atau Perilla), mint, dan selada.
"Di Ladang Farm ini kita menanam ada 5 jenis tanaman. Yang pertama itu Thai Basil. Yang kedua itu Italian Basil. Yang ketiga itu Shiso atau Perilla, bisa disebut juga ya popohan, masih satu keluarga. Lah yang keempat itu ada mint. Yang kelima itu ada selada," jelas Nova.
Dari seluruh jenis itu, Thai Basil menjadi komoditas unggulan dan paling laku di pasaran.
"Ya, kalau yang diunggulkan dan yang paling best seller di Ladang Farm ini Thai Basil," ungkapnya.
Tanaman ini banyak dipasok ke berbagai restoran khususnya restoran Thailand di Jabodetabek, termasuk di BSD, Kemayoran, Menteng, Gatot Subroto, dan Bekasi.
"Ya, kalau kita (sebagai supplier) banyak sih. Contohnya kayak restoran Thailand ada di Jabodetabek. Kita pemegang grupnya juga. Itu contohnya ada di BSD, di Kemayoran, di Menteng, di Gatot Subroto, di Bekasi, itu kita pemegang, penyuplai Thai Basil," jelas Nova.
Setiap bulan, Ladang Farm mampu memproduksi hingga dua ton sayuran segar, dengan sistem panen harian menyesuaikan permintaan restoran.
"Kalau panen itu kita tiap hari panen karena kita suplai ke restoran. Restoran juga kan tidak tahu kapan permintaan dari resto tersebut. Jadi kita siap tiap hari, kita siap panen dan kapasitas per bulan Ladang Farm ini 2 ton," ungkapnya.
Jadi Ladang Pemberdayaan Warga Sekitar
Suasana urban vertical farm di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Meski berorientasi bisnis, Ladang Farm juga tetap turut memberdayakan masyarakat sekitar.
"Kontribusi terbesar Ladang Farm untuk masyarakat itu, yang pertama satu, kita manfaatkan masyarakat sekitar, contohnya ibu-ibu. Kita memberdayakan masyarakat ada tiga orang," kata Nova.
"Yang kedua juga, kayak contohnya program edukasi, itu bisa, manfaatnya bisa agar masyarakat Jakarta atau Jabodetabek yang ingin belajar edukasi di Ladang Farm itu jadi bisa membuat di rumah dengan sistem yang sederhana, sistem pertanian di hidroponik," sambungnya.
Nova berharap masyarakat kota bisa memanfaatkan hidroponik sederhana di rumah masing-masing untuk ketahanan pangan lokal.
"Apalagi di perkotaan, karena kan di perkotaan kan tidak bisa bertani. Kecuali dengan sistem hidroponik. Jadi itu bisa buat ketahanan pangan di rumah. Bisa juga buat konsumsi sendiri, bisa konsumsi buat tetangga-tetangganya," tutur Nova.
Tantangan dan Rencana ke Depan
Suasana urban vertical farm di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Di balik pencapaiannya, Ladang Farm tetap menghadapi kendala operasional, terutama dari sisi energi.
"Kalau tantangan terberat sih di Ladang Farm ini hanya satu, biaya operasional di listrik saja sih. Jadi contohnya kayak selada di Ladang Farm kan itu menggunakan lampu. Itu biaya lampunya yang cukup tinggi. Jadi itu tantangan terberat di Ladang Farm, tapi itu sih bisa ditanganin secepatnya, dengan dengan perhitungan yang matang," ungkap Nova.
Namun, Ladang Farm tidak hanya berhenti di Jakarta. Nova menyebut ada rencana memperluas sistem pertanian vertikal ke kota-kota lain di Indonesia.
"Kalau program-program yang lain dari Ladang Farm ini buat ke depannya ya, pastinya akan mengembangkan di kota-kota lain dengan sistem vertical farming tentunya sih," jelas Nova.
"Karena Ladang Farm itu identik dengan vertical farming dan tanpa pestisida dengan sayuran yang sehat," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar