Ilustrasi Teguk. Foto: Whaiz Al Qadri/Shutterstock
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), emiten pengelola gerai merek minuman 'Teguk', bakal memperluas bisnisnya ke sektor makanan beku dan pengolahan daging.
Berdasarkan laporan studi kelayakan yang disusun Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Ferdinand, Danar, Ichsan & Rekan, TGUK akan menambah lima bidang usaha baru dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yang mencakup industri pengolahan dan pengawetan produk daging serta perdagangan besar daging sapi, ayam, dan makanan-minuman lainnya.
Dalam laporan bernomor FDI/0008/LAP/B/FS/X/2025 tertanggal 17 Oktober 2025, disebutkan TGUK menyiapkan dana Rp 42,92 miliar untuk kebutuhan modal kerja awal dan investasi tahap pertama. Dana tersebut berasal dari hasil pengembalian investasi pengembangan gerai milik perusahaan.
Dalam rencana bisnisnya, TGUK akan menggarap dua lini utama yakni perdagangan daging beku (frozen meat) dan pengolahan makanan (food processing). Untuk tahap awal, emiten ini akan menggunakan fasilitas sewa dan bermitra dengan pihak ketiga dalam proses produksi (maklon), sembari membangun pabrik pengolahan sendiri yang dijadwalkan rampung dalam delapan bulan mulai Januari 2026.
"Laba dari hasil kegiatan usaha frozen meat dan food processing yang dijalankan melalui maklon mulai dari bulan November 2025 akan digunakan untuk mendanai kebutuhan biaya investasi usaha food processing yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Januari 2026 sampai dengan Agustus 2026," tulis manajemen TGUK dalam laporan tersebut.
Investasi pembangunan fasilitas pengolahan makanan diperkirakan mencapai Rp 37,5 miliar, terdiri dari pekerjaan bangunan senilai Rp 18 miliar dan pembelian mesin-mesin produksi sebesar Rp 19,5 miliar. Beberapa mesin utama yang akan digunakan antara lain frozen grinder, bowl cutter, nugget former machine, dan thermoforming machine untuk kemasan vakum.
TGUK menargetkan kapasitas produksi hingga 13.320 ton per tahun pada 2029, dengan produk meliputi minced beef, meatball, bockwurst, smoked beef burger, chicken wings, serta makanan olahan lainnya.
KJPP FDI&R menilai sektor makanan beku Indonesia memiliki prospek yang kuat, seiring meningkatnya urbanisasi, gaya hidup praktis, dan kesadaran konsumen terhadap pangan berprotein.
Berdasarkan data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), nilai pasar makanan beku nasional telah menembus Rp 200 triliun pada 2024 dan diperkirakan terus meningkat dengan pertumbuhan tahunan 6,31 persen.
"Mengacu pada perkembangan pasar industri frozen meat dan food processing di Indonesia secara umum, pangsa pasar, serta adanya perencanaan dan strategi pemasaran yang baik, dapat disimpulkan bahwa rencana usaha TGUK mempunyai prospek yang cukup cerah di masa yang akan datang," tulis laporan tersebut.
Selain memperluas lini usaha, TGUK juga mengandalkan dukungan modal dan jaringan global dari investor strategis Visionary Capital Global Pte. Ltd. yang masuk sebagai pemegang saham.
KJPP menilai rencana bisnis TGUK secara keseluruhan layak secara pasar, teknis, dan keuangan, dengan tingkat imbal hasil (IRR) dan profitabilitas yang positif. Indeks profitabilitas (Profitability Index) tercatat sebesar 1,7 kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar