Wacana penggabungan Pelita Air Service ke dalam grup Garuda Indonesia mencuat kembali usai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri berencana melepas Pelita Air dari lingkup bisnis Pertamina. Merger Pelita di Garuda Indonesia menjadi salah satu opsi yang dikaji.
Rencana merger dinilai sejumlah pengamat penerbangan kurang cocok. Pengamat Penerbangan, Alvin Lie, mengatakan jika Pelita Air merger dengan Garuda Indonesia, otomatis izin usaha dan rute Pelita Air akan dicabut. Nilai, identitas, dan basis konsumen yang selama telah terbangun akan hilang dengan sia-sia.
"Sejak lama saya tidak mendukung ide merger maskapai BUMN. Jauh lebih baik jika tetap ada tiga maskapai yang berdiri dengan brand, karakter, dan segmen pasar masing-masing," tegasnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (13/9).
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia dan pesawat Citilink. Foto: aiyoshi597/Shutterstock
Menurut Alvin, masing-masing maskapai BUMN memiliki karakter tersendiri. Garuda Indonesia dengan layanan penuh (full service), Citilink sebagai maskapai hemat (low cost carrier), dan Pelita Air pelayanan tengah (medium service), dengan pendekatan dan posisi yang berbeda.
Karena itu, jika digabungkan menjadi satu entitas, ada risiko kehilangan fokus segmen dan potensi terjadinya tumpang tindih layanan yang justru merugikan.
"Masing-masing airlines sudah punya pelanggan loyal dengan kebutuhan, selera dan daya beli yang berbeda. Jika digabungkan menjadi satu maskapai, sebagian besar pelanggan akan pindah ke airlines lain," jelas Alvin.
Alvin menyarankan, positioning tiga maskapai BUMN ini perlu diatur agar tidak saling memakan pangsa pasar satu sama lain dan dapat saling melengkapi. Begitu juga dengan pengaturan rute dan jadwal penerbangan.
Pengamat Penerbangan, Alvin Lie menjadi narasumber di Info A1 di kumparan, Selasa (27/8/2024). Foto: Syawal Febrian Darisman/kumparan
Dibandingkan merger atau penggabungan, menurutnya, pendekatan berbasis aliansi akan jauh lebih strategis. Contohnya, model aliansi global seperti OneWorld, SkyTeam, dan Star Alliance, yang mampu menawarkan sinergi layanan tanpa harus menghilangkan identitas tiap maskapai.
"Aliansi memberikan potensi pelayanan yang lebih baik, seperti koneksi penerbangan yang mulus (seamless connection), kemudahan connecting flight, hingga kolaborasi dalam pemasaran," tutur Alvin.
Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana merger maskapai BUMN. Merger dinilai dapat menggerus kompetisi sehat dalam industri penerbangan domestik, apalagi di tengah kondisi keuangan Garuda Indonesia yang belum pulih.
"Saya kurang setuju. Garuda butuh melanjutkan recovery-nya, dan sektor domestik butuh kompetisi," ujar Gerry.
Gerry menilai, Garuda Indonesia sebaiknya tetap fokus menjalankan rencana bisnisnya tanpa harus bergantung pada intervensi pemerintah melalui merger. Dia menekankan pentingnya peran Pelita Air sebagai alternatif jika skenario terburuk terjadi, yakni Garuda Indonesia gagal keluar dari kewajiban berlanjut hasil proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
"Garuda mending fokus sama business plan dia, dan Pelita tetap menjadi maskapai yang growth-nya konservatif dengan mengedepankan kualitas produk dan bukan national pride, sebagai back up kalau Garuda gagal keluar dari kondisi sekarang," tambah Gerry.
Skema Holdingisasi
Sementara itu, Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo menyarankan agar penggabungan Pelita Air dan Garuda Indonesia berbentuk holdingisasi di bawah Danantara.
"Akan lebih baik kalau dibuat holding, sehingga entitas masing-masing maskapai tidak dilebur, karena tiap-tiap maskapai Garuda, Citilink dan Pelita kan punya AOC (Air Operator Certificate) sendiri-sendiri," ujar Gatot.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/9/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Holding ini, kata Gatot, nantinya akan mengurus pendukung operasional maskapai seperti pengelolaan SDM, marketing, administrasi dan hal umum lainnya seperti pengadaan pesawat.
Dengan begitu, dia menyebutkan Garuda, Citilink dan Pelita akan setara dengan operasional yang berbeda. Permasalahan yang ada di setiap maskapai juga bisa diambil alih oleh holding dan dicari jalan keluar untuk masing-masing maskapai.
"Holding ini mungkin nanti bisa under Danantara. Nanti tiga maskapai ini bisa bekerja sama operasional dalam bentuk hub and spoke di rute domestik maupun internasional," kata Gatot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar