Search This Blog

Employee Engagement: Penopang Kontinuitas Produksi Udang Intensif

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Employee Engagement: Penopang Kontinuitas Produksi Udang Intensif
Sep 13th 2025, 15:00 by Sigit E Praptono

Ilustrasi udang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ilustrasi udang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dibalik permukaan kolam yang tampak tenang, dunia budidaya udang Indonesia sedang menghadapi guncangan yang mengkhawatirkan. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: penyakit yang terus mengintai dan isu keamanan pangan yang cukup mengganggu citra ekspor.

Dalam laporan FAO (2022), permintaan udang dunia memang meningkat, tetapi risiko produksi juga membengkak. Penyakit Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) masih menjadi momok utama, menggerus panen dan keuntungan petambak. Di saat bersamaan, pasar global makin selektif.

Melalui FDA, Amerika Serikat baru-baru ini menemukan jejak radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada produk udang beku asal Indonesia di mana meski kadar yang ditemukan masih jauh di bawah ambang intervensi FDA, tetapi isu ini sudah cukup memicu penahanan produk di pelabuhan dan menjadi pukulan reputasi bagi ekspor perikanan.

Kasus ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan produksi bukan hanya soal teknologi budidaya atau pasar, melainkan juga tentang sumber daya manusia (SDM). Sebab, secanggih apa pun sistem tambak, ujung tombaknya tetap pada manusia yang menjalankan.

Ilustrasi pekerja perempuan. Foto: Shutterstock
Ilustrasi pekerja perempuan. Foto: Shutterstock

Masalah yang Kerap Terabaikan

Di lapangan, ada beberapa masalah serius yang terkait langsung dengan tenaga kerja budidaya. Pertama, turnover tinggi. Banyak pekerja muda datang dan pergi. Misalnya, Generasi Z, cenderung mencari pengalaman dan fleksibilitas ketimbang komitmen jangka panjang. Ketika pekerja berpengalaman keluar, pengetahuan praktis yang tidak tertulis ikut hilang.

Kedua, kesenjangan keterampilan. Transformasi menuju tambak digital membutuhkan kemampuan mengoperasikan sensor kualitas air, automatic feeder, hingga aplikasi analitik. Namun, penelitian Nhu et al. (2021) menunjukkan banyak pekerja budidaya belum siap dengan tuntutan ini.

Ketiga, moral yang rapuh terhadap krisis. Isu seperti kontaminasi Cs-137 atau harga pakan yang melonjak bisa menurunkan motivasi. Tanpa adanya komunikasi yang terbuka dari manajemen, karyawan merasa cemas dan kurang dihargai. Schaufeli (2017) menegaskan, engagement pekerja sangat dipengaruhi oleh rasa keadilan dan transparansi di tempat kerja.

Semua ini berujung pada biaya tersembunyi: biosekuriti longgar, kesalahan teknis meningkat, dan risiko gagal panen membesar.

Mengapa Employee Engagement Jadi Kunci?

Employee engagement bukan sekadar soal karyawan kerasan dalam bekerja. Ini menyangkut keterikatan emosional, kognitif, dan perilaku dengan pekerjaan. Studi Gallup (2022) menunjukkan organisasi dengan engagement tinggi 21% lebih produktif dibanding yang rendah.

Dalam konteks budidaya udang, engagement berarti pekerja lebih taat protokol biosekuriti, lebih terbuka pada inovasi, dan lebih loyal menghadapi tantangan. Ketika engagement rendah, turnover melonjak, pengetahuan hilang, dan SOP dilanggar. Semua itu bisa membuat satu siklus produksi hancur. Dengan kata lain, engagement adalah pengaman berbasis manusia bagi kontinuitas produksi.

Ilustrasi pekerja migran Indonesia. Foto: BELL KA PANG/Shutterstock
Ilustrasi pekerja migran Indonesia. Foto: BELL KA PANG/Shutterstock

Solusi dan Jalan Inspiratif

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh perusahaan budidaya dan pengolah udang.

Pertama, mentorship antargenerasi. Pasangkan karyawan senior dengan junior. Transfer pengetahuan bisa dikukuhkan lewat manual kerja dan video dokumentasi. Kedua, jalur karier yang jelas. Generasi muda ingin melihat prospek. Program sertifikasi kompetensi atau peluang promosi akan meningkatkan motivasi. Ketiga, keterlibatan dalam keputusan. Libatkan karyawan lini depan dalam evaluasi pascapanen. Rasa memiliki akan memperkuat kepatuhan terhadap SOP.

Kemudian, komunikasi krisis transparan. Saat isu seperti Cs-137 mencuat, manajemen harus terbuka soal langkah mitigasi. Kejelasan mengurangi kepanikan dan gosip. Kelima, kesehatan dan kesejahteraan. Rotasi kerja yang sehat, fasilitas keselamatan, hingga dukungan kesehatan mental mengurangi burnout. Terakhir, investasi pelatihan berkelanjutan. Kerja sama dengan lembaga vokasi atau universitas bisa menghadirkan program reskilling pekerja tambak dalam teknologi IoT dan biosekuriti modern.

Inspirasi datang dari Vietnam di mana perusahaan besar bekerja sama dengan universitas untuk melatih pekerja tambak dalam penerapan IoT (Nhu et al., 2021). FAO (2022) juga mendorong konsep aquaculture 4.0 yang menekankan sinergi manusia dan teknologi.

Bukan Sekadar Mesin Produksi

Dalam setiap siklus budidaya, risiko selalu ada: penyakit, harga saprotam, atau bahkan isu kontaminasi radioaktif. Namun, dibalik semua itu, ada satu faktor yang bisa memperkuat ketahanan usaha, yaitu keterlibatan manusia.

Employee engagement bukan sekadar jargon HRD. Ia adalah jaminan produksi berkelanjutan. Dengan engagement yang kuat, pekerja lebih siap menghadapi krisis, lebih patuh pada standar, dan lebih inovatif mencari solusi. Karena pada akhirnya, keberlanjutan industri udang di Indonesia bukan hanya ditentukan oleh air, pakan, dan benur, melainkan juga oleh hati dan pikiran mereka yang setiap hari menjaga tambak.

Media files:
lu0moyhiavhta9iuejsn.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar