Search This Blog

Kopi Saset dan Peluit Juru Parkir: Kisah Para Pencari Rupiah di CFD

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kopi Saset dan Peluit Juru Parkir: Kisah Para Pencari Rupiah di CFD
Aug 3rd 2025, 08:17 by kumparanNEWS

Penjaja kopi keliling, Sri (56) saat car free day di depan mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (3/8). Foto: Zamachsyari/kumparan
Penjaja kopi keliling, Sri (56) saat car free day di depan mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (3/8). Foto: Zamachsyari/kumparan

Saban Minggu, jalanan utama Jakarta bersalin rupa jadi ruang publik. Antrean panjang mobil, kesibukan halte-halte Trans Jakarta, hingga ratusan motor berubah jadi derap langkah pelari hingga derai tawa anak-anak.

Namun, ada satu yang tak berubah. Aroma kopi yang mengepul dari gerobak dorong, dan peluit parkir di sisi jalan.

Mereka adalah sosok-sosok yang jarang jadi pusat perhatian, tapi merekalah sisil lain dari keriaan Car Free Day (CFD); para pekerja jalanan, penjaga ritme kota di akhir pekan.

Salah satunya adalah Mbi (40), ia adalah juru parkir yang sehari-harinya menjaga kendaraan di belokan dekat Mall Grand Indonesia.

"Asli gua orang sini bang," ujarnya sembari menghisap rokok di sela-sela jari tengah dan telunjuknya saat ditemui di depan Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (3/8).

Tak ada keraguan dalam caranya berbicara; Inilah tanahnya, tempat ia tumbuh besar, hingga menaruh seluruh harapan.

Sehari-harinya, Mbi bekerja memarkir kendaraan. Kadang, ia juga mengamen. Semuanya dilakukan demi anak dan keluarga.

"Parkir gue, dulunya parkir tiap hari kan, karena anak-anak kesian kalo gue kaga kerja, jadi ye kan parkir," katanya.

Mbi sudah menikah, dan kini menghidupi tiga anak; dua kandung, satu tiri. Ia membawa serta istrinya, dan menambatkan hidup dari rupiah ke rupiah lain yang terkumpul dari orang-orang lalu lalang. Soal penghasilan, ia mantap bahwa pekerjaannya dapat menghidupkan keluarganya.

Mbi (40) saat merapikan motor di kawasan CFD, Jakarta Pusat, Minggu (3/8). Foto: Zamachsyari/kumparan
Mbi (40) saat merapikan motor di kawasan CFD, Jakarta Pusat, Minggu (3/8). Foto: Zamachsyari/kumparan

"Ya pokoknya Alhamdulillah lah penghasilan, pokoknya cukup, pokoknya Alhamdulillah. Tergantung bang, tergantung hari-nye keberuntungan kite-nye, kalo beruntung rejekinya bagus ya CFD bagus," ujar dia.

Mbi tak sembarang bekerja. Ia punya prinsip yang tak bisa dilanggarnya. Batas tegas halal-haram adalah patokan utamanya dalam menyambung hidup.

"Yang penting halal, yang penting intinye ga ngerugiin orang ye kan? Yang penting intinya ga ngejahatin orang ye gak?" katanya tegas, seolah ingin memastikan bahwa hidup yang ia jalani tetap bersih, meski penuh perjuangan.

Di waktu yang hampir sama, seorang perempuan dengan sepeda dan keranjang termos berdiri tak jauh darinya. Sri, perempuan kelahiran 1969, adalah penjaja kopi keliling legendaris. Wajahnya tegas, suaranya lantang, dan rokok tak pernah jauh dari bibirnya

"Kalau kita udah ngerokok itu tenaga kenceng, kalau belum ngerokok, loyo. Bener deh," ujarnya sembari tertawa lepas.

Baginya, rokok adalah teman setia, bahkan melebihi nasi.

"Saya rokok 30 ribu, tambah 15, 45 [ribu] minimal. Kan [rokok] filter saya. Soalnya kalau yang seribu, gatel," katanya jujur tanpa malu.

Sri merantau ke Jakarta sejak muda, ikut suami yang kemudian meninggal pada 2005. Sejak itu, ia membesarkan tiga anaknya seorang diri di sebuah petak kecil di Pasar Inpres, Pasar Kambing Kebon Pala.

"[Anak] Udah pada nikah semua, keluar kandang," katanya.

"Saya tinggal satu, semangat aja," tuturnya.

Setiap subuh pukul setengah lima, Sri mulai mengayuh sepedanya dari rumah. Di akhir pekan ia menjajakan kopi di CFD Thamrin, di hari lain ia berkeliling di sekitar hotel Grand Hyatt.

"Pokoknya yang tomboy kayak saya nggak ada lagi orang dagang, asal tanya Bu Sri yang tomboy orang tahu. Saya orang semua salut, gigi saya masih utuh, hahaha," cerita Sri dengan tawa lebarnya.

Ia menjanjakan kopi naik sepeda yang domidifikasi sedemikain rupa. Dulu, ia beli sepeda itu bermodal modal Rp 2-2,5 juta.

Sepeda itu ia isi kopi saset, teh, susu, dan gula. Ia kulakan setiap dua hari sekali di pasar. Dulu ia hanya menggunakan gerobak, baru delapan tahun belakangan ia pakai sepeda.

"Saya jabanin, ke kota aja saya jabanin," katanya.

Soal penghasilan, CFD masih jadi andalannya untuk menutupi biaya kontrakan yang seharga Rp 500 ribu per bulannya.

"Ya [pendapatan] car free day lumayan," ujarnya.

Kini, di usia lebih dari setengah abad, semangatnya tak pernah padam. Meski anak-anaknya sudah berkeluarga, ia tetap memilih bekerja.

"Saya udah tua, om, tapi bersemangat terus," katanya.

Di antara langkah kaki yang bergegas, peluh Mbi dan Sri jatuh satu-satu di atas aspal yang hangat oleh matahari pagi. Tapi di balik keringat itu, ada seutas keyakinan sederhana bahwa rezeki, selama diambil dari jalan yang lurus, akan selalu cukup.

Media files:
01k1ppy7z6n858ayj3jxqnpny3.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar