Sejumlah warga bersalaman usai bermain olahraga Padel di kawasan TB Simatupang, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Olahraga padel kini jadi gaya hidup masyarakat kelas menengah atas di Ibu Kota. Tak hanya mencari keringat, mereka juga mencari networking dan komunitas pertemanan di olahraga tersebut.
Menariknya, sejumlah pebisnis kelas atas yang sebelumnya mengandalkan golf untuk memperluas jaringan kini mulai beralih ke padel. Olahraga ini semakin diminati sebagai medium baru dalam membangun hubungan dan memulai kerja sama bisnis.
Fenomena itulah yang kemudian ditangkap Jodi Akbar. Jodi lalu mengambil peluang dengan memulai bisnis padel di Cipete, Jakarta Selatan. Dia mendirikan court padel bernama The Padel Room Jakarta. Saat ini lapangan tersebut masih dalam proses pembangunan.
Jodi Akbar, Direktur The Padel Room Jakarta. Foto: Dok. Pribadi
"Biasanya kalau saya bisnis, saya harus suka dulu sama bisnisnya. Harus passion gitu ya. Kalau kita jalanin satu usaha kalau enggak passion ya enggak enak. Jadi saya main padel juga. Saya merasa animo orang-orang ini develop banget. Terus beyond-ages gitu, dari boomer main, millennial main, gen Z main, terus anaknya dia main. Terutama di daerah saya tinggal ya, di Jaksel gitu ya. Jaksel dan Jakbarlah, dua daerah itu yang luar biasa," jelas Jodi kepada kumparan, Selasa (29/7).
Menurut Jodi, dirinya sudah melakukan riset sejak 2024 lalu. Menurutnya, padel tidak hanya diminati warga Jakarta, tetapi juga di Surabaya, Makassar, Banyuwangi, Jember, hingga Malang. Jodi pun melihat padel memiliki nilai lain selain sebagai tempat olahraga, yaitu nilai relasinya (networking).
"Jadi itu ada value networking-nya, di mana kita bisa saling networking, bahkan golfer-golfer aja sekarang tren-nya pindah ke padel. Mereka habis main golf, kan capek ya, 4-5 jam main golf, di padel mereka bisa main cuma 2 jam.Ya, tren-nya shifting," kata Jodi.
Jodi Akbar, Direktur The Padel Room Jakarta. Foto: Dok. Pribadi
Hal itulah yang melatarbelakangi Jodi untuk membangun padel yang menyasar kelas menengah ke atas. Ia menawarkan fasilitas esklusif hingga lokasi yang strategis untuk lapangan padelnya. Tempatnya persis di samping MRT Cipete.
"Di tempat saya, di The Padel Room, harganya kisaran Rp 550.000-600.000 per jam, jadi itu [pasarnya] sudah pasti menengah ke atas. Dari sisi investment bangunan juga, kita memang mau yang bagus, enggak mau setengah-setengah cuma lapangan jadi aja gitu," jelas Jodi.
Sejumlah warga bermain olahraga Padel di kawasan TB Simatupang, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Menurut Jodi, dirinya berencana membuka lima lapangan dalam satu lahan . Court padel itu, katanya, akan beroperasi pukul 06.00 WIB hingga 00.00 WIB (18 jam). Sementara itu, Irfan Surijanto, arsitek yang mendesain lapangan padel milik Jodi turut bercerita soal standar lapangan hingga hitung-hitungan modal.
"Luas lapangan padel itu 20x10 meter. Nah, tapi kalau mau bikin dua lapangan berarti kan harus ada space ya antar lapangan ya. Kalau mengacu ke standar internasionalnya itu kalau lapangan itu sebelahan, paling enggak tuh harus 3 meter. Soalnya si pemain ini kan terkadang ada bola lambung [yang keluar court], terus dia harus keluar [ambil bola] gitu kan. Nah itu kita harus sediain paling enggak tuh 3 meterlah," jelas Irfan.
Menurut Irfan, court padel yang tersebar di Jakarta pun memiliki tipe court yang berbeda-beda sesuai fungsi dan kebutuhan pemain. Mulai dari lapangan untuk rekreasi hingga fokus untuk olahraga.
Sejumlah warga bermain olahraga Padel di kawasan TB Simatupang, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
"Lapangan padel di Jakarta ini kebagi jadi beberapa genre nih. Ada yang sport banget, sport banget tuh kayak Padel Pro. Ada yang basisnya community banget kayak Milo's Padel Ada yang lebih ke gengsi seperti Padel Cartel. Nah, jadi kebetulan kalau yang di tempat aku akan lebih ke community sama bergengsinya," kata Irfan.
"Nah, jadi dan itu berdampak ke desain. Jadi kalau yang sporty banget kan banyak sponsornya gitu kan, ini itunya. Nah, nanti yang sedang dibangun lebih ke tempat nongkrong, jadi suasana gimik interiornya juga dibuat sedemikian rupa sampai jadi tempat nongkrong yang asik, terus keren juga buat foto-foto," sambungnya.
Sejumlah warga bermain olahraga Padel di kawasan TB Simatupang, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Irfan lalu blak-blakan soal kisaran harga yang dibutuhkan untuk membuat lima lapangan padel dalam satu tempat. Setidaknya, kata dia, The Padel Room Jakarta mesti menggelontorkan uang hingga Rp 9 miliar.
"Lima lapangan tuh tergantung ya kalau desainnya, desainnya agak tinggi, spek-nya lumayan tinggi kira-kira Rp 9 miliar. Oh iya dan itu hanya butuh 1 sampai 1,5 tahun untuk balik modal," jelas Irfan.
Dalam hitung-hitungan yang kumparan lakukan, target balik modal dalam kurun 1 hingga 1,5 tahun memang masuk akal. Bila okupansi lapangan sekitar 65 persen, lalu proyeksi biaya operasional sekitar Rp 330 juta per bulan, maka keuntungan bulanannya sekitar Rp 679 juta dan bisa balik modal dalam waktu 1,1 tahun.
Okupansi
Omzet Bulanan
Keuntungan Bulanan
Waktu Balik Modal
50% (Konservatif)
Rp 776.250.000
Rp 446.250.000
1,7 tahun
65% (Realistis)
Rp 1.009.125.000
Rp 679.125.000
1,1 tahun
80% (Optimistis)
Rp 1.242.000.000
Rp 912.000.000
0,8 tahun
Sementara itu, Manager Smash Padel TB Simatupang Arsyie Akbar juga memberikan gambaran terkait omzet yang didapat. Smash Padel TB Simatupang menyeduakan 7 lapangan yang lokasinya ada di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selaran.
Arsyie membeberkan, satu lapangan dibanderol Rp 460.000 untuk penyewaan selama satu jam dengan jam operasional 18 jam untuk Minggu-Rabu dan 20 jam untuk Kamis-Sabtu. Jika dihitung-hitung, omzet yang diraup oleh pemilik lapangan bisa mencapai lebih dari Rp 50 juta per hari atau lebih dari Rp 1 miliar sebulan.
"Jam operasional kita itu di jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Itu untuk hari Minggu-Rabu, hari Kamis-Sabtu sampai jam 2 pagi, satu jamnya itu di Playtomic [aplikasi] kita rata semua ya all hours itu di Rp 460.000. Nanti mungkin bisa dihitung. [Tiga digit] lebih sih, [karena] alhamdulillah okupansi kita 98 persen," tutur Arsyie.
Angka itu akan bertambah dalam waktu dekat, sebab ramainya peminat olahraga ini membuat pemilik Smash Padel akan membuka dua cabang baru, di MT Haryono Jakarta Selatan dan BSD Tangerang Selatan.
Arsyie juga mengakui Smash Padel termasuk lapangan padel yang baru buka di Jakarta, tepatnya di bulan Februari lalu. Namun, kata dia, peminat olahraga ini membuat Smash Padel berkembang pesat.
Di media sosial Instagram, Smash Padel telah memiliki lebih dari 5.000 pengikut dengan 192 unggahan.
Arsyie mengatakan, meski olahraga ini tengah digandrungi masyarakat perkotaan, Smash Padel tetap mengedepankan pelayanan. Tujuannya supaya bisa menarik customer baru ataupun mempertahankan pelanggan lama.
"Di sini tuh sebisa mungkin semua lapangan kaca, kita maksimalkan supaya orang nyaman, itu yang kita jaga dari mulai karpetnya, kacanya, netnya, kebersihannya, kita semua jaga Supaya orang puas main di kita," tambahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar