Search This Blog

Gangguan di Selat Hormuz Bisa Naikkan Biaya Angkut Truk di RI sampai 12 Persen

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Gangguan di Selat Hormuz Bisa Naikkan Biaya Angkut Truk di RI sampai 12 Persen
Mar 1st 2026, 17:08 by kumparanBISNIS

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Below the Sky/Shutterstock
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Below the Sky/Shutterstock

Gangguan pada Selat Hormuz disebut bisa menyebabkan kenaikan pada biaya angkut truk di Indonesia. Hal ini karena gangguan yang ada akan mempengaruhi harga solar.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyebut solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

"Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga USD 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan," kata Setijadi dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3).

Ia mendetailkan, dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 sampai 4 persen.

Jika harga solar meningkat 20 persen, biaya angkut truk juga berpotensi naik 7 sampai 8 persen. Dalam skenario lebih berat jika kenaikan solar 30 persen, lonjakan ongkos angkut bisa mencapai 10,5 sampai 12 persen.

Adapun rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Jika harga biaya angkut truk naik, hal ini juga berdampak pada banyak komoditas.

"Kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen. Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji,' ujarnya.

Adapun risiko terbesar dari kenaikan harga solar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Industri berbasis impor bahan baku juga akan menghadapi risiko ganda yakni kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik.

Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin.

"SCI menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi. Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar," kata Setijadi.

Media files:
01jybffaxpe2d551t0yjpfxwvg.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar