Search This Blog

Perbedaan Awal Puasa dan Arti Penting Toleransi dalam Menjaga Persatuan Umat

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Perbedaan Awal Puasa dan Arti Penting Toleransi dalam Menjaga Persatuan Umat
Feb 18th 2026, 06:50 by KH Anwar Abbas

Suasana tarawih perdana warga Muhammadiyah di Masjid Raya Al-Isra, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Suasana tarawih perdana warga Muhammadiyah di Masjid Raya Al-Isra, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Umat Islam sejatinya telah lama hidup berdampingan dengan perbedaan pendapat. Tradisi ini bukan sesuatu yang baru, melainkan telah mengakar kuat sejak masa para ulama besar yang ilmunya menjadi rujukan hingga hari ini. Hal itu tercermin jelas dalam kehidupan empat imam mazhab yang sangat dikenal dan diikuti kaum Muslimin, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Masing-masing imam memiliki metodologi, pandangan, dan sikap keilmuan yang berbeda, yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab fiqih. Pengikut mazhab Hanafi banyak tersebar di Asia Selatan dan Turki, mazhab Syafi'i berkembang luas di Asia Tenggara dan Yaman, mazhab Maliki dominan di Afrika Utara, sementara mazhab Hanbali banyak dianut di Arab Saudi. Perbedaan tersebut menunjukkan keluasan khazanah intelektual Islam, bukan perpecahan.

Para imam mazhab ini hidup dalam rentang zaman yang saling beririsan. Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H dan sezaman dengan Imam Malik yang wafat pada 179 H. Imam Malik bahkan menjadi guru Imam Syafi'i (w. 204 H), yang kemudian menjadi guru Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Mereka semua adalah ulama besar, alim, dan berjasa besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta pemajuan agama Islam.

Hal yang paling menarik dan patut kita teladani dari mereka bukan semata perbedaan pendapatnya, melainkan sikap toleran yang mereka tunjukkan. Meski berbeda pandangan dalam banyak persoalan fiqih, mereka tetap saling menghormati dan tidak pernah memaksakan pendapat kepada pihak lain. Perbedaan tidak mereka anggap sebagai bencana atau malapetaka, melainkan sebagai rahmat. Karena itulah mereka tidak pernah sibuk memperuncing perbedaan, apalagi menjadikannya dasar untuk memvonis atau menyalahkan sesama.

Sikap ini tercermin, misalnya, dalam kisah Imam Syafi'i yang berbeda pendapat dengan Imam Abu Hanifah mengenai qunut Subuh. Imam Syafi'i dikenal membaca qunut, sementara Imam Abu Hanifah tidak. Namun ketika Imam Syafi'i berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Baghdad dan menjadi imam shalat Subuh, beliau tidak membaca qunut. Ketika ditanya alasannya, Imam Syafi'i menjawab dengan sederhana namun dalam maknanya: "Saya menghormati Imam Abu Hanifah."

Hal serupa juga ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal terhadap Imam Syafi'i. Kendati sering berbeda pandangan dalam persoalan fiqih, Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ia selalu mendoakan Imam Syafi'i dalam shalatnya, bahkan hal itu dilakukan selama empat puluh tahun. Inilah keteladanan ukhuwah yang lahir dari kedalaman ilmu dan kelapangan hati.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita—yang mengagumi dan mengaku sebagai pengikut para imam tersebut—justru akan terpecah belah hanya karena perbedaan pendapat? Tentu saja tidak seharusnya demikian.

Karena itu, ketika di tengah masyarakat saat ini muncul perbedaan pendapat mengenai awal Ramadan 1447 H—ada yang memulai puasa pada hari Rabu dan ada pula yang pada hari Kamis—maka sikap terbaik yang dapat kita tempuh adalah meneladani tasamuh dan toleransi para imam mazhab. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memaksakan pendapatnya kepada pihak lain, sebab metode yang digunakan untuk menetapkan awal Ramadan, baik hisab maupun rukyat, sama-sama dibenarkan dan diterima oleh syariat.

Yang paling penting bukanlah soal siapa yang lebih dahulu berpuasa, melainkan bagaimana kita menjaga ketertiban, ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan umat. Dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan, justru di situlah kekuatan umat dapat ditegakkan dan dirawat bersama.

Media files:
01khnw2j2sxzdm9pb1etgttwtf.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar