Search This Blog

Kasus Siswa Dibunuh di Eks Kampung Gajah: Dulu Pelaku Pernah Tonjok Korban

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kasus Siswa Dibunuh di Eks Kampung Gajah: Dulu Pelaku Pernah Tonjok Korban
Feb 16th 2026, 13:42 by kumparanNEWS

Pisau yang digunakan di kasus pembunuhan siswa di eks Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Dok. Polres Cimahi
Pisau yang digunakan di kasus pembunuhan siswa di eks Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Dok. Polres Cimahi

Siswa SMP berinisial ZAAQ (14 tahun) diduga dibunuh oleh YA (16) dan APM (17) di bekas area wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, 9 Februari 2026.

Fakta baru terungkap: Keluarga korban menyebut benih konflik sudah muncul sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Garut.

Yusuf, paman korban dari pihak ayah, mengungkapkan bahwa ZAAQ dan YA sudah saling mengenal sejak lama. Saat kecil, korban sempat bersekolah di Bandung sejak taman kanak-kanak hingga kelas 4 SD, sebelum akhirnya pindah ke Garut.

"Kenal, Pak. Sebelumnya ZAAQ sekolah di Bandung dari TK sampai kelas 4. Pas kelas 4 ibunya ZAAQ meninggal," ujar Yusuf saat dikonfirmasi.

Setelah sang ibu meninggal, korban melanjutkan sekolah kelas 5 dan 6 SD di Garut. Di sanalah, menurut Yusuf, YA mulai mendekati korban. YA diketahui merupakan kakak kelas korban.

"Nah pas pindah ke Garut, ZAAQ didekati sama si pelaku. Mungkin ingin kenal gitu, Pak. Pelakunya kakak kelas," katanya.

Namun hubungan tersebut tidak berjalan wajar. Yusuf mengungkapkan bahwa saat kelas 6 SD, korban pernah mengalami kekerasan fisik yang diduga dilakukan YA.

"ZAAQ pindah ke Bandung karena dipukul sama si YA pas kelas 6 SD. Dipukul bagian dekat mata dan sampai membengkak. Dari situ keluarga khawatir, akhirnya dipindahkan ke Bandung pas SMP," tuturnya.
Lokasi eks Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (15/2/2026). Foto: Abisatya/kumparan
Lokasi eks Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (15/2/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Sejak kejadian itu, keluarga korban dan keluarga pelaku sempat membuat kesepakatan agar YA tidak lagi bertemu dengan ZAAQ. Trauma akibat pemukulan tersebut disebut berdampak pada kondisi mental korban.

"Awal-awal di Bandung mentalnya agak membaik karena ketemu teman lama. Tapi selang beberapa lama, si YA ini nyamperin ke Bandung. Akhirnya mentalnya terganggu lagi," kata Yusuf.

Ia menegaskan bahwa kedatangan YA ke Bandung dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga. "Langsung nyamperin. Padahal dari pihak keluarga sudah ada persetujuan tidak boleh bertemu lagi," ujarnya.

Terkait hubungan korban dengan AP, Yusuf mengaku kurang mengetahui secara pasti. Menurutnya, korban lebih dikenal dekat dengan YA, sementara AP disebut sebagai teman YA.

"Setahu saya kenalnya sama si YA. Kalau AP kurang tahu, mungkin temannya YA," ucapnya.

Yusuf juga menyebut, berdasarkan cerita teman-teman korban, ZAAQ kerap menerima ancaman. Kondisi tersebut membuat korban mengalami tekanan mental.

"ZAAQ itu anggapnya cuma teman biasa. Dia masih kecil, masih polos. Tapi saya dengar dari temannya juga banyak ancaman dari pelaku. Jadi ZAAQ juga mungkin tidak paham sepenuhnya," katanya.

Bahkan sebelum peristiwa pembunuhan terjadi, korban disebut sudah ingin menjauh karena merasa hubungan tersebut tidak lagi wajar.

"Terakhir sebelum kejadian, korban mau jauh dari dia (pelaku) karena sudah enggak wajar dan aneh," ujar Yusuf.

Keluarga pun menilai tanda-tanda perilaku agresif YA sebenarnya sudah terlihat sejak di lingkungan sekolah. "Saya dengar dari orang di sekolahnya, memang orangnya bertingkah," pungkasnya.

Media files:
01khfs7207x5f1m4qhh5zncz64.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar