Search This Blog

Film Horor Indonesia: Candu Pemacu Adrenalin

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Film Horor Indonesia: Candu Pemacu Adrenalin
Feb 15th 2026, 09:00 by Santi Susanti

Ilustrasi menonton bioskop. Foto: WANG ZHAO/AFP
Ilustrasi menonton bioskop. Foto: WANG ZHAO/AFP

Industri layar lebar Indonesia tidak pernah bisa lepas dari genre film horor. Dominasi tayangan di bioskop—baik kuantitas film maupun jumlah penontonnya setiap tahun—menunjukkan bahwa film horor Indonesia tidak pernah kehilangan penontonnya.

Dalam lima tahun terakhir (2021-2025), produksi film horor Indonesia mendominasi hampir separuh (46-50%) total produksi film nasional Indonesia setiap tahunnya. Ini menunjukkan betapa candunya masyarakat Indonesia dengan rasa takut. Bahkan setiap tahunnya, selalu saja ada film horor yang meraih jumlah penonton terbanyak.

Film KKN di Desa Penari (2022) tercatat sebagai film terlaris sepanjang masa dengan raihan 10 juta lebih penonton. Bahkan, film ini berhasil meraih 1 juta penonton dalam tiga hari penayangan. Lantas, apa yang membuat penonton bioskop Indonesia candu dengan film horor?

Kedekatan dengan Budaya Lokal: Takut, tapi Kenal

Salah satu kekuatan utama horor lokal adalah kemampuannya menggali mitos yang sudah mengakar di memori kolektif masyarakat Indonesia. Cerita urban legend atau mistis dari berbagai wilayah di Indonesia—dengan sosok-sosok seperti pocong, kuntilanak, genderuwo—disajikan sebagai tontonan. Penonton merasa familiar dengan kisahnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi bioskop. Foto: bagussatria/Shutterstock
Ilustrasi bioskop. Foto: bagussatria/Shutterstock

Ketika di bioskop, penonton seolah sedang memvalidasi jalan cerita yang pernah didengar sebelumnya dengan tayangan yang ditontonnya. Sensasi 'takut tapi kenal' menciptakan pengalaman lebih membumi dan nyata dibandingkan menonton film horor luar negeri.

Psikologi Safe Thrill dan Adrenalin

Saat menonton film horor, bioskop menjadi ruang sosial untuk berbagi rasa takut. Sensasi kolektif yang dirasakan—seperti teriak, tertawa, atau menutup mata saat melihat adegan yang menegangkan—merupakan pengalaman sosial yang dirasakan oleh penonton.

Menonton horor adalah cara manusia mencari kegembiraan dalam kondisi aman. Tubuh merespons ancaman di layar yang memicu adrenalin dan detak jantung yang kencang, tetapi otak sadar bahwa kita tetap aman di kursi bioskop.

Setelah rasa takut dan tegang itu mereda, ada rasa lega yang melanda. Reaksi alami safe thrill inilah yang mendorong penonton untuk mengulang sensasi tersebut dengan menonton film horor.

Ilustrasi ekspresi penonton saat menyaksikan film horor. Foto: Gemini AI
Ilustrasi ekspresi penonton saat menyaksikan film horor. Foto: Gemini AI

Strategi Industri Film

Dari sisi industri, produser memahami bahwa genre horor memiliki potensi profit yang cukup besar, meskipun jika diproduksi dengan budget yang "murah". Film horor bisa sukses meski pemainnya relatif baru. Penonton lebih fokus pada cerita dan atmosfer ketakutan daripada siapa aktornya. Genre ini lebih fleksibel dan mudah diterima lintas usia, dari remaja hingga dewasa.

Potensi tersebut menjadikan genre horor menjadi "anak emas" produser. Kini, banyak rumah produksi yang berani menggelontorkan budget hingga puluhan miliar untuk satu judul horor demi kualitas tayangan yang estetis dan memberikan pengalaman sinematik premium, seperti film Pengabdi Setan 2: Communion (2022), KKN di Desa Penari (2022), Sewu Dino (2023), dan Siksa Kubur (2024).

Film horor Indonesia adalah fenomena unik yang mempertemukan tradisi mistis dengan logika industri modern. Selama kita masih menjadi masyarakat yang gemar berbagi cerita mistis, genre ini akan tetap hidup.

Namun, tantangan bagi para sineas adalah membuktikan bahwa horor kita bisa "naik kelas"—dari sekadar mengejar jeritan penonton menjadi karya yang meninggalkan kesan mendalam setelah lampu bioskop dinyalakan.

Media files:
fngktpbwenesxokdqiq0.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar