Fenomena Latte Dad, Ketika Ayah Swedia Jadi Role Model Pengasuhan Dunia. Foto oleh Flo Maderebner: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-memegang-foto-bayi-754172/
Bayangkan suasana kafe di Stockholm yang dipenuhi para pria muda berjenggot rapi, mendorong kereta bayi sambil menyeruput kopi. Pemandangan ini bukan sekadar gaya hidup urban, melainkan simbol revolusi pengasuhan yang mengubah cara pandang dunia terhadap peran ayah dalam keluarga.
Lahir dari Kebijakan Progresif Swedia
Sejak 1974, Swedia menjadi pelopor dengan mengganti sistem cuti melahirkan menjadi cuti orang tua berbayar yang dapat dibagi antara ibu dan ayah. Kini orang tua di Swedia mendapatkan total 480 hari cuti berbayar saat anak lahir atau diadopsi, setara dengan 16 bulan penuh.
Yang menarik, kebijakan ini terus berkembang. Sebanyak 90 hari bersifat use-it-or-lose-it mulai 2015, mendorong kesetaraan gender dalam pengasuhan. Jika ayah tidak mengambil jatah tersebut, hari-hari itu akan hangus. Strategi ini terbukti ampuh meningkatkan partisipasi ayah.
Para ayah Swedia kini memanfaatkan sekitar 30 persen dari total cuti orang tua, naik drastis dari hanya 1 persen di tahun 1970-an. Bahkan, cuti ini dapat digunakan kapan saja hingga anak berusia 12 tahun, memberikan fleksibilitas luar biasa bagi keluarga.
Lebih dari Sekadar Nongkrong di Kafe
Istilah Latte Dad sebenarnya muncul dari pemandangan sehari-hari di Swedia. Para ayah muda ini tidak hanya terlihat stylish dengan stroller dan bayi di gendongan, tetapi benar-benar terlibat aktif dalam pengasuhan.
Mereka rutin mengganti popok, memberikan ASI perah, mengikuti kelas tumbuh kembang bayi, bahkan membentuk komunitas ayah yang saling berbagi pengalaman. Tradisi fika atau nongkrong sambil minum kopi menjadi momen penting untuk berjejaring dan belajar dari sesama ayah.
Dampak Nyata pada Keluarga dan Masyarakat
Kebijakan cuti ayah yang panjang ternyata membawa dampak positif yang terukur. Penelitian Universitas Stockholm menunjukkan penurunan 34 persen kasus rawat inap terkait alkohol pada ayah dalam dua tahun setelah kelahiran anak.
Manfaat lainnya mencakup ikatan emosional yang lebih kuat antara ayah dan anak, ibu memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan karier, beban pengasuhan terbagi merata, dan angka perceraian yang lebih rendah dalam keluarga dengan ayah yang aktif.
Bagi anak-anak, kehadiran ayah sejak dini memberikan pemahaman bahwa cinta dan perhatian datang dari kedua orang tua, bukan hanya ibu. Ini membentuk generasi yang lebih memahami kesetaraan gender sejak kecil.
Kontras dengan Realita Indonesia
Di sisi lain dunia, Indonesia menghadapi tantangan berbeda. Berdasarkan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak, ayah di Indonesia hanya berhak cuti 2 hari, dapat ditambah maksimal 3 hari sesuai kesepakatan perusahaan.
Bandingkan dengan 480 hari di Swedia, kesenjangan ini sangat mencolok. Selain regulasi yang minim, faktor budaya juga berpengaruh besar. Masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap pengasuhan sebagai tanggung jawab utama ibu, sementara ayah cukup berperan sebagai pencari nafkah.
Fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan emosional ayah dalam kehidupan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Banyak anak tumbuh dengan ayah yang secara fisik ada, namun tidak hadir secara emosional.
Secercah Harapan Perubahan
Meski tantangan besar masih ada, beberapa tanda positif mulai terlihat. Generasi ayah muda Indonesia kini lebih sadar akan pentingnya keterlibatan mereka dalam pengasuhan. Media sosial menjadi platform bagi para ibu untuk menyuarakan harapan mereka akan peran ayah yang lebih aktif.
Pemerintah juga mulai mengambil langkah, seperti Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang digagas Kemendikbud Ristek dan BKKBN. Beberapa perusahaan swasta bahkan sudah memberikan cuti ayah lebih panjang sebagai bagian dari kebijakan internal.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Namun dengan terus menyuarakan pentingnya peran ayah, mendorong kebijakan yang lebih mendukung, dan mengubah mindset masyarakat, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari dapat mengadopsi nilai-nilai positif dari fenomena Latte Dad.
Fenomena Latte Dad mengajarkan bahwa investasi pada program cuti orang tua yang fleksibel bukan hanya menguntungkan keluarga, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Ketika kedua orang tua dapat terlibat aktif sejak awal, tercipta generasi yang lebih seimbang dan memahami kesetaraan gender.
Ayah bukan sekadar ATM berjalan. Kehadiran emosional mereka sama pentingnya dengan kehadiran finansial. Ketika melihat seorang ayah menikmati kopi sambil mengasuh anaknya, kita sebenarnya sedang menyaksikan masa depan pengasuhan modern, sebuah keluarga yang lebih inklusif, setara, dan maju.
Mungkin suatu hari, pemandangan ayah dengan stroller dan secangkir kopi tidak lagi dianggap istimewa atau aneh, melainkan menjadi hal yang normal dan dirayakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar