Search This Blog

Menelusuri Jejak di Bumi Serumpun Sebalai

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menelusuri Jejak di Bumi Serumpun Sebalai
Dec 7th 2025, 07:00 by Siti Nurjanah

Ilustrasi senja. Foto: Unspalsh
Ilustrasi senja. Foto: Unspalsh
Ada tempat-tempat yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan. Sambas adalah salah satunya. Tanah, yang dikenal sebagai Bumi Serumpun Sebalai ini, menyimpan cerita yang hanya terbuka bagi mereka yang bersedia menelusuri jejaknya perlahan.

Kamu pernah berpikir untuk melakukan perjalanan ke Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat?

Pantai Sunga Belacan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Pantai Sunga Belacan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kesan pertama saat mendarat di Bandara Singkawang terasa cukup berbeda. Bandara kecil dengan satu gate itu seperti gerbang sederhana menuju kisah panjang yang tersembunyi di balik Kalimantan Barat. Dari sini, perjalanan menuju Kecamatan Sambas memakan waktu sekitar dua jam dengan pemandangan yang memperlihatkan wajah asli pedalaman Kalimantan Barat.

Jalan panjang—yang sebagian masih berpasir dan berbatu—berbaur dengan hamparan hutan gambut di kiri dan kanan. Sopir yang mengantar kami bercerita bahwa tanah gambut ini sangat sensitif terhadap api, sedikit kelalaian bisa menimbulkan kebakaran besar. Tanah seperti ini juga sulit dimanfaatkan untuk perkebunan. Namun, setelah area gambut lewat, lanskap berubah menjadi hamparan kebun nanas dan sawit.

"Nanas di sini manis-manis, penjualnya juga jago ngupas-nya," kata si sopir sambil tertawa kecil.

Sepanjang jalan, pemandangan kebun sawit mendominasi. Namun, ada ironi yang berulang-ulang saya dengar,

"Lahan di sini bukan punya orang sini."

"Buah sawit cuma dijual mentahan, harganya cuma tiga ribu sekilo."

"Lucunya, uang sawit itu entah mengalir ke mana."

Kalimat-kalimat ini menggambarkan kenyataan bahwa ekonomi lokal tidak selalu menikmati hasil dari kekayaan alam di sekitarnya.

Ilustrasi kelapa sawit. Foto: diegodmartins/Getty Images
Ilustrasi kelapa sawit. Foto: diegodmartins/Getty Images

Memasuki Kabupaten Sambas, saya teringat julukan yang melekat pada wilayah ini. Jika Singkawang dikenal sebagai "Kota Seribu Kelenteng", Sambas memiliki dua julukan yang kuat secara historis dan kultural, yaitu "Serambi Mekah Kalbar" dan "Bumi Serumpun Sebalai".

Julukan Serambi Mekah Kalbar berasal dari sejarah panjang Sambas sebagai pusat penyebaran Islam di Kalimantan Barat. Disinilah ulama besar seperti Syaikh Ahmad Khotib Assambasi lahir, seorang tokoh yang pengaruhnya melintasi batas daerah bahkan negeri.

Sementara itu, Bumi Serumpun Sebalai menggambarkan harmoninya kehidupan masyarakat yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Ketiganya hidup berdampingan sejak ratusan tahun lalu.

Mereka memiliki nilai yang dikenal sebagai serumpun, artinya satu rumpun yang saling menjaga, dan sebalai, yaitu berada dalam satu balai atau satu ruang kehidupan bersama. Prinsip inilah yang hingga kini membuat Sambas dikenal sebagai wilayah yang kaya budaya sekaligus menjunjung tinggi toleransi.

Ilustrasi Perkebunan Foto: ATTOMY/Shutterstock
Ilustrasi Perkebunan Foto: ATTOMY/Shutterstock

Perjalanan saya semakin memperlihatkan bahwa Sambas memang tanah yang subur untuk perkebunan dan perikanan. Sawit, kopi, jagung, nanas, sampai hasil laut semuanya melimpah. Namun, ada hal yang mengejutkan. Harga sayur-mayur di Pasar Sambas ternyata lebih mahal dibandingkan Pulau Jawa.

Ada satu kebiasaan unik yang saya temukan di sana, yaitu budaya nongkrong di warung kopi. Warung kopi di Sambas bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang sosial lintas generasi. Pada malam hari, anak-anak muda memenuhi meja-mejanya. Pagi hari—terutama di akhir pekan—warung kopi dipadati keluarga. Mulai dari kakek, nenek, ayah, ibu, sampai anak-anak kecil berkumpul di sana. Suasana itu membuat Sambas terasa hangat dan sangat hidup.

Hal unik lainnya adalah porsi nasi yang sangat banyak. Jika di Jawa satu mangkuk kecil sudah cukup, di sini porsinya bisa setara dua mangkuk kecil, tetapi dengan harga yang tidak jauh berbeda.

Ilustrasi pohon di hutan Foto: Dok. KLHK
Ilustrasi pohon di hutan Foto: Dok. KLHK

Keindahan alam Sambas begitu melimpah. Sekitar 39% wilayahnya adalah hutan dan pantainya bersih serta masih sangat alami. Pantai Sungai Belacan, misalnya, disebut sebagai pantai yang masih "perawan", yang artinya belum banyak dijamah wisatawan, sehingga keasliannya benar-benar terjaga.

Lalu ada Desa Temajuk di perbatasan Indonesia–Malaysia, yang menurut saya adalah salah satu rute perjalanan paling indah. Jalan aspal—yang seolah membelah hutan, langit jernih, bukit-bukit hijau, dan hujan tipis yang turun di beberapa titik—membuat perjalanan pulang dari perbatasan menjadi sangat berkesan.

Namun, ada hal yang cukup miris terdengar ketika saya berada di Desa Temajuk. Sebagian masyarakat menilai bahwa harga barang dan bahan makanan dari Malaysia justru lebih murah daripada produk lokal. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa warga perbatasan kadang memilih untuk barter barang sesuai kesepakatan.

Sungai Sambas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Sungai Sambas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat mengunjungi Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II atau Masjid Jami Keraton Sambas, masjid tertua di Kalimantan Barat. Dilihat dari bangunannya saja, sudah jelas bahwa masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga saksi sejarah panjang Kesultanan Sambas.

Perjalanan menyusuri Sungai Sambas seusai kunjungan itu menambah kekaguman saya. Air sungainya masih digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari dan beberapa rumah tradisional masih berdiri di tepian sungai. Pemandangan ini seperti menonton sejarah yang masih hidup dan bernapas hingga hari ini.

Semua pengalaman itu membuat saya memahami satu hal: Sambas bukan hanya tentang julukan, melainkan tentang perjumpaan antara budaya, alam, sejarah, dan manusia yang hidup di dalamnya.

Media files:
01kbksgfwywcwc1pxmh63yh7vp.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar