Search This Blog

Dari Sepatu Pinjaman ke Event Nasional: Laju Hulda Lidia Semai Mimpi di Futsal

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Dari Sepatu Pinjaman ke Event Nasional: Laju Hulda Lidia Semai Mimpi di Futsal
Dec 7th 2025, 07:00 by kumparanBOLA

Kompetisi olahraga antarkampus, Campus League Futsal, Regional Yogyakarta digelar pada 6 hingga 12 November 2025 di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo, Universitas Islam Indonesia (UII). Foto: Campus League
Kompetisi olahraga antarkampus, Campus League Futsal, Regional Yogyakarta digelar pada 6 hingga 12 November 2025 di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo, Universitas Islam Indonesia (UII). Foto: Campus League

Di tengah riuh dan panasnya atmosfer Campus League Futsal The Nationals 2025, ada satu nama yang mencuri perhatian penonton. Sosok itu ialah Hulda Lidia Soruwe.

Kapten futsal putri Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mencolok sejak laga pertama. Pergerakannya agresif, sepakannya keras, hingga gaya memimpinnya di lapangan yang khas.

Namun, tak banyak yang tahu jika perjalanan Huldia Lidia ke panggung nasional tak semulus yang dibayangkan. Awal kariernya dimulai dari hal yang sederhana: sepasang sepatu futsal pinjaman.

Hulda Lidia Soruwe, kapten futsal putri UGM, saat diwawancarai kumparan di GOR UNJ, Rabu (3/12). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan
Hulda Lidia Soruwe, kapten futsal putri UGM, saat diwawancarai kumparan di GOR UNJ, Rabu (3/12). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Main Futsal Berkat Sepatu Pinjaman

Hulda Lidia Soruwe lahir di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Hulda, sapaan akrabnya, tak tumbuh sebagai atlet futsal sejak kecil. Perkenalannya dengan bola futsal baru dimulai saat ia kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Hulda mengaku tertarik bermain futsal tatkala melihat kakak tingkatnya bermain. Ada percikan kagum di matanya, perasaan ingin mencoba, lalu ajakan sederhana dari seorang kakak tingkat yang kelak menjadi tokoh penting dalam hidupnya.

Dari situlah Hulda belajar futsal, Ia memulai semuanya dari nol bersama kakak tingkatnya. Lalu, pada 2022 ia memutuskan untuk bergabung dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Futsal UGM.

Tapi, tekad tinggi Hulda untuk bermain futsal menemui ganjalan besar. Saat itu ekonominya kurang baik, Hulda bahkan tak bisa membeli sepatu futsal untuk sekadar berlatih.

Hulda tak punya sepatu futsal saat pertama kali berlatih. Ia bermain memakai sepatu running, sebelum akhirnya mulai meminjam sepatu dari berbagai kakak tingkat, teman sedaerah, hingga pelatihnya. Lebih dari tiga pasang sepatu sempat ia pinjam bergantian.

Ketika ia akhirnya mendapat sepatu pemberian, Hulda menolak membeli sepatu baru meskipun sudah mampu. "Saya menghargai pemberian orang," kata Hulda ketika berbincang dengan kumparan di GOR UNJ pada Rabu (3/12).

Ia takut sepatu hadiah itu tidak terpakai. Bahkan sepatu yang sudah jebol pun tetap ia simpan hingga sekarang.

Hulda Lidia Soruwe, kapten futsal putri UGM, saat diwawancarai kumparan di GOR UNJ, Rabu (3/12). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan
Hulda Lidia Soruwe, kapten futsal putri UGM, saat diwawancarai kumparan di GOR UNJ, Rabu (3/12). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Main di Event Nasional & Bertekad ke Liga Pro

Hulda Lidia Soruwe tak pernah membayangkan langkahnya bisa sejauh ini. Berkat sepasang sepatu futsal pinjaman yang ia dapat, Hulda bisa melangkah hingga ke event nasional. Terbaru, Hulda yang didaulat jadi kapten futsal putri UGM berhasil membawa kampusnya melangkah ke Campus League Futsal The Nationals 2025.

Dengan karakternya yang sederhana, Hulda tampaknya bukan tipe pemain yang sejak awal terlihat "ditakdirkan" menjadi kapten. Karena itu, ia mengaku sangat kaget ketika pelatih futsal putri UGM menunjuknya sebagai pemimpin tim.

Menariknya, Hulda punya satu pengakuan: ia sebenarnya mudah emosian. Namun saat memakai ban kapten, emosinya seperti otomatis mereda.

"Begitu pakai ban kapten, rasanya harus lebih tenang. Kayak ada jiwa memimpin yang muncul sendiri," ungkapnya.

Di seri nasional Campus League, kampusnya tergabung di Grup A bersama lawan-lawan berat seperti UPI, UNY, hingga Universitas Budi Luhur. Sayangnya, Hulda dan rekan-rekannya tak bisa melangkah jauh di seri nasional. UGM bahkan berakhir sebagai juru kunci dengan raihan nol poin.

Kendati hasil belum memihak padanya, Hulda tak patah arang. Ia masih ingin berjuang di futsal hingga melangkahkan kaki ke dunia profesional.

Ia percaya Campus League adalah panggung terbaik untuk putri-putri daerah menunjukkan bakat mereka. Dari sinilah ia berharap ada pelatih atau tim Liga Pro yang melihatnya.

"Kalau dari saya pribadi pengennya jadi pemain profesional. Kan besok saya sudah mau lulus, nanti kalau pulang mungkin bisa ikut seleksi futsal kayak PON atau tim profesional," kata Hulda Lidia.

"Karena menurut saya sendiri main di Campus League ini sebagai salah satu panggung terbaik buat tim putri dari kampus mana pun. Itu karena panggung ini berpotensi dilirik oleh tim-tim Liga Pro," sambungnya.

Perjalanan Hulda Lidia Soruwe tak cuma sekadar kehebatan teknik atau kecepatan kaki. Ini adalah kisah tentang ketekunan hingga keberanian bermimpi meskipun berawal dari keterbatasan.

Dari sepatu pinjaman hingga panggung nasional. Dari Sorong hingga Yogyakarta. Kini, langkah Hulda semakin mantap menuju mimpi menjadi pemain futsal profesional.

Media files:
01k9cbj1x5941br6wxgvrvvf03.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar