Foto udara deretan unit rumah subsidi di Kecamatan Puuwatu, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (19/6/2025). Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
Penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau KPR subsidi tercatat mencapai 213.630 unit rumah atau senilai Rp 26,51 triliun per 3 November 2025. Angka tersebut menandai capaian 61,03 persen dari target 350.000 pada tahun 2025.
Dengan capaian itu, Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho optimis target penyaluran 350.000 pada tahun 2025 bisa tercapai akhir tahun ini.
"Kita tetap fokus untuk mencapai target 350.000 hingga 31 Desember 2025 optimisme demand yang didapatkan dari data yang kita punya bahwa masih ada 790.653 kavling siap bangun yang dipunya pengembang, yang masih proses bangun saat ini ada 7.516 (unit), ready stock 40.114 (unit) dan proses bank 33.391 (unit)," kata Heru dalam konferensi pers Capaian FLPP di Kantor BP Tapera, Jakarta Pusat pada Selasa (4/11).
Jika dibanding tahun lalu, terdapat peningkatan 17,6 persen secara year to date di mana penyaluran FLPP tahun lalu sampai 3 November adalah 181,619 unit. Ia juga menarget peningkatan capaian penyaluran bisa berjalan cepat.
"Dan kita dorong terus memang. Paling tidak di akhir minggu ini bisa mencapai 220 ribu (penyaluran)," ujarnya.
Capaian itu didapat dari 39 bank penyalur dan 7.638 pengembang dari 22 asosiasi perumahan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Adapun dari sisi perbankan, BTN menjadi penyalur tertinggi dengan 104.326 unit rumah atau 48,83 persen. Posisi itu disusul BTN Syariah dengan 44.434 unit atau 20,79 persen, BRI dengan 22.709 unit atau 10,63 persen, BNI dengan 10.052 unit atau 4,70 persen dan Bank Mandiri sebanyak 9.340 unit atau 4,37 persen.
Sementara dari sisi wilayah, Jawa Barat menjadi provinsi dengan penyaluran tertinggi sebesar 48.252 unit rumah atau 22,58 persen. Selanjutnya terdapat Jawa Tengah 18.707 unit atau 8,75 persen, Sulawesi Selatan dengan 17.370 unit atau 8,13 persen, Banten dengan 14.094 unit atau 6,59 persen dan Jawa Timur dengan 14.001 unit atau 6,55 persen.
Dari sisi kabupaten atau kota, Bekasi menjadi kabupaten dengan penyerapan FLPP tertinggi sebanyak 10.992 unit rumah atau 5,14 persen. Selanjutnya ada Kabupaten Bogor dengan 8.086 unit rumah atau 3,78 persen, Kabupaten Tangerang dengan 6.304 unit atau 2,95 persen, Kabupaten Karawang sebanyak 5.508 unit atau 2,57 persen dan Kota Kendari dengan 5.116 unit atau 2,39 persen.
Sudah Ada 86 Debitur Mendapat Pencairan KUR Perumahan
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho ditemui di Menara Mandiri, Jakarta Selatan pada Jumat (20/6/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
Selain penyaluran FLPP, Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati mengungkap sampai saat ini sudah ada 86 debitur yang mendapat pencairan dari Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan yang sudah diluncurkan tanggal 21 Oktober 2025 lalu di Surabaya.
Sebelumnya, program KUR perumahan tersebut mendapat alokasi anggaran mencapai Rp 130 triliun. Per 4 November pukul 09.00 WIB, Sri menuturkan 86 debitur tersebut sudah dapat mencairkan KUR sebesar Rp 182,9 miliar.
Adapun 86 debitur tersebut terdiri dari 47 debitur dari sisi suplai dengan pencairan senilai Rp 169,3 miliar dan 39 debitur dari sisi demand dengan pencairan senilai Rp 13,6 miliar.
Sementara itu, Sri juga menuturkan masih ada 19 debitur dari sisi suplai yang menunggu pencairan senilai Rp 81,1 miliar dan 12 debitur dari sisi demand yang menunggu pencairan senilai Rp 3,05 miliar. Dengan begitu, masih ada 31 debitur yang menunggu pencairan dengan total nilai pencairan Rp 84,2 miliar.
Ia menuturkan sampai saat ini jika dari sisi suplai, sektor terbanyak yang mengakses KUR Perumahan adalah sektor kontraktor.
"Per hari ini yang paling banyak kontraktor, kemudian disusul pengembang dan baru dari (pelaku usaha) bahan bangunan," ujar Sri.
Dari sisi suplai, tercatat sudah ada 28 kontraktor, 21 pengembang dan 17 pelaku usaha di sektor bangunan yang mengakses KUR Perumahan. Sementara dari sisi demand, rata-rata diakses oleh pengembang. Saat ini sudah ada 49 debitur pengembang, 1 debitur kontaktor dan 1 debitur bahan pengembang yang sudah mengakses KUR Perumahan di sisi demand.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar