Menteri PPPA Arifah Fauzi saat ditemui usai Jalan Sehat #RukunSamaTeman di Kantor KemenPPPA, Jakarta Pusat, Minggu (23/11/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyebut pihaknya telah turun langsung menangani kasus dugaan bullying di SMPN 19 Tangerang Selatan yang menyebabkan seorang siswa berinisial MH (13) meninggal dunia.
Ia menegaskan pendampingan akan diberikan kepada seluruh anak yang terlibat dalam kasus ini, baik saksi, maupun terduga pelaku.
"Kita sudah datang ke sana dan sempat diskusi dengan kakaknya, dengan orang tuanya, dengan masyarakat setempat. Sepertinya sekarang lagi dilakukan penjangkauan lebih dalam lagi ya, karena ini terduga pelakunya anak juga. Kita ada regulasi membahas itu, jadi kita tunggu nanti hasilnya ya," ujar Arifah di Kantor KemenPPPA, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (23/11).
Arifah menegaskan pendekatan perlindungan tetap berlaku, termasuk untuk anak yang diduga menjadi pelaku perundungan.
"Oh iya. Kami dari KPPPA ini, baik anak sebagai pelaku, sebagai saksi, maupun sebagai korban, kita akan lindungi hak-haknya. Dan selalu kita dampingi," tegasnya.
Sebelumnya, siswa kelas VII-6 SMPN 19 Tangsel berinisial MH (13 tahun), korban bullying hingga meninggal dunia, ternyata kerap curhat kepada kakaknya. Korban memilih bercerita kepada kakaknya karena kondisi sang ibu yang sedang sakit-sakitan.
Mirisnya, MH diketahui sudah mengalami bullying sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Kalau sama ibu dia khawatir ibunya kenapa-kenapa karena punya penyakit jantung, cuci darah rutin juga, jadi takut ibu kenapa-kenapa," kata kakak MH, Sahara Kusnadi, di rumah mereka di Kampung Maruga, RT 11/RW 09, Ciater, Serpong, Tangsel, Rabu (18/11).
Sahara menuturkan, perundungan terhadap adiknya bermula sejak MPLS. Korban kerap dilempar bungkus makanan hingga berujung kekerasan fisik.
Sejak kejadian itu, MH mulai sering mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Ia mengaku sakit atau enggan berangkat tanpa alasan jelas, sehingga menimbulkan kecurigaan keluarga.
Ayah MH, Kusnadi, menambahkan bahwa putranya tidak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada dirinya maupun istrinya. Keluarga baru menyadari adanya perubahan fisik MH, seperti cara berjalan yang tidak stabil, pandangan tidak fokus, hingga sering tersandung.
Kusnadi mengungkapkan, MH sempat meminta obat tetes mata sebelum akhirnya mengaku bahwa ia pernah dipukul menggunakan kursi oleh teman sekelasnya.
Saat ini, Kusnadi menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada LBH yang mendampingi kasus tersebut.
Ia berharap kasus yang menimpa putranya dapat diselesaikan secara adil agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Semoga saja ada keadilan untuk MH. Jangan sampai ke depannya ada korban bullying seperti Hisyam yang lain. Semoga ini yang terakhir. Semoga juga pemerintah bisa lebih tegas menyikapi masalah ini, jangan sampai terjadi lagi," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar