Pendi (44 tahun), duduk terdiam dengan tatapan yang mengantung antara rasa lega dan kehilangan di sudut ruangan Kantor Lurah Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat (28/11) malam.
Sambil bersandar di kursi, Pendi menanti daya handphone-nya terisi. Di saat itu juga, nada sambung telepon terus berbunyi. Ia pun bergegas untuk angkat.
Dari balik gawainya, suara perempuan terdengar rapuh, tergesa menanyakan kabar kondisi. Ketakutan sang istri yang tak pernah berharap mendapat berita buruk.
Lumpur dan batu besar memenuhi Lembah Anai usai Banjir bandang, Sabtu (29/11). Foto: Irwanda/STR/kumparan
Pendi adalah salah satu korban selamat dari banjir bandang yang menerjang kawasan Lembah Anai, tepatnya di gapura perbatasan Kota Padang Panjang.
"Pakaian yang ada, ya, yang dipakai di badan saja sekarang," ujar Pendi ditemui kumparan di posko pengungsian Kantor Lurah Silaing Bawah.
Pendi sebenarnya bukan warga Kota Padang Panjang, melainkan hanya pengendara. Ia mengunakan sepada motor, menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru menuju Kabupaten Padang Pariaman.
Dengan motor yang dikendarai dan baru dibelinya itu bakal jadi kado kecil untuk adiknya di kampung halaman. Namun Pendi juga tidak menyangka, kendaraan tersebut lenyap sekejap mata diterjang bencana.
"Alhamdulillah untuk badan masih selamat," kata dia penuh syukur.
Pendi menceritakan, dia berangkat dari Pekanbaru pada Kamis (27/11), setelah subuh. Lalu, sampai di kawasan Lembah Anai, tepatnya di gapura perbatasan Kota Padang Panjang pada pukul 11.00 WIB.
Siang itu, kawasan Lembah Anai diguyur hujan deras. Pendi juga mendapat kabar, ada titik ruas jalan pohon tumbang yang menghambat perjalanan.
"Hujan deras, saya memutuskan berhenti di warung. Sambil menunggu pembersih material pohon tumbang," imbuhya.
Di sekitar kawasan gapura perbatasan Kota Padang Panjang memang kerap dijadikan area peristirahatan bagi pengendara. Di sini, selain terdapat permukiman warga, juga ada warung kopi hingga musala.
Suara Gemuruh Tiba-tiba
Longsor menerjang kawasan jalan lintas nasional di Lembah Anai tepatnya di gerbang masuk Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (27/11/2025). Foto: Polres Padang Panjang
Pendi mengaku ia berteduh di warung kurang lebih selama setengah jam. Lalu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai.
Di balik warung tempat Pendi berdiri, kondisi aliran sungai sangat deras. Aliran deras itu kemudian disertai suara besar yang tak sempat memberi peringatan panjang.
"Terdengar dari atas di balik warung, tiba-tiba terdengar saja gemuruh. Saya lari langsung, tidak melihat ke belakang, sampai jatuh saya. Lari ke arah jembatan (kembar)," ungkapnya.
Situasi panik. Seingat Pendi, ada sekitar 30-an orang yang berteduh di kawasan itu, berada di sisi kiri dan kanan jalan.
"Di sana ramai. Sepada motor saja ada belasan yang terpakir, ada juga banyak mobil," jelasnya.
Pendi bergegas berlari menuju jembatan kembar tanpa pernah menoleh. Ketakutan membawanya menjauh dari gapura, dari suara benda-benda yang saling berbenturan, dari air yang membawa material bebatuan dan kayu.
Saat tiba di jembatan, Pendi hanya bisa terdiam. Gapura yang tadi menjadi gerbang perjalanan, berubah dengan tertutup material banjir bandang.
Pendi tidak menyangka, hanya sesaat semua langsung berubah. Begitupun dengan belasan sepeda motor, termasuk miliknya, hilang tanpa jejak.
Harapan sepeda motor bakal jadi hadiah adiknya untuk antar-jemput orang tua, kini sirna.
"Saya tidak tahu di mana motor saya itu sekarang," ucapnya pasrah sembari kembali bersyukur masih diberikan selamat dalam musibah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar