Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Brendan Smialowski/AFP
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump siap melakukan pembalasan terhadap China karena membatasi ekspor logam tanah jarang ke Amerika Serikat (AS). AS kini juga akan membatasi ekspor suku cadang Boeing ke China.
Trump menyebut saat ini China membutuhkan suku cadang karena menurutnya Negeri Tirai Bambu tersebut telah membeli banyak pesawat Boeing.
"Kita punya banyak barang, termasuk pesawat terbang. Mereka (China) punya banyak pesawat Boeing, dan mereka butuh suku cadang, dan banyak barang seperti itu," kata Trump kepada wartawan Gedung Putih dikutip dari Reuters, Minggu (12/10).
Meski demikian, China sebelumnya juga sudah memerintahkan maskapai lokal untuk menghentikan pengiriman pesawat baru Boeing ke China pada April lalu.
Boeing mendapat kontrak penjualan besar dari beberapa maskapai asing. Sebanyak 500 pesawat sudah dipesan oleh China. Pesanan itu diperoleh Boeing sejak periode pertama Trump.
Jika nantinya pesanan suku cadang tersebut gagal karena sentimen AS-China saat ini, analis penerbangan Scott Hamilton memproyeksi kerugian yang dialami Boeing tidak akan besar.
Pesawat Boeing 737 MAX mendarat setelah penerbangan uji coba di Boeing Field di Seattle, Washington, AS. Foto: Karen Ducey/REUTERS
Secara akumulasi, China menyumbang 25 persen buku pesanan pesawat Boeing. Meski demikian, saat ini pesanan dari China kurang dari 5 persen.
Untuk pesanan, China memiliki 222 pesanan pesawat Boeing. Sementara secara keseluruhan, China mengoperasikan 1.855 pesawat Boeing yang sebagian besar adalah pesawat berbadan kecil tipe 737.
Sebagai perbandingan, Airbus hanya menerima 185 pesanan dari China. Meski demikian, Airbus telah memiliki fasilitas produksi di Tianjin yang bisa memproduksi empat pesawat berbadan kecil Airbus A320 setiap bulannya.
Jika AS melarang ekspor suku cadang pesawat Boeing ke China, hal itu akan berdampak pada CFM International yang merupakan perusahaan patungan antara GE Aerospace dan Saran dari Prancis.
Saat ini, China juga sedang mengembangkan pesawat komersil bermesin jet produksi dalam negeri yakni COMAC 919. Pesawat tersebut menjadi pesaing Boeing 737 dan Airbus A310. Tercatat, pasar dalam negeri China juga sudah memesan 365 pesawat tersebut.
Pembatasan ekspor suku cadang juga dilakukan oleh negara barat. Hal ini turut memperlambat produksi COMAC 19. Hingga September lalu, COMAC baru mengirimkan 32 pesawat dari 365 pesanan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar