Takbir menggema di Gaza sejak Jumat (3/10). Keinginan Hamas mengakhiri perang dan diikuti perintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Israel menimbulkan harapan baru bagi perdamaian di sana.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel menyerang Gaza yang dikuasai Hamas. Sampai sekarang korban jiwa di Gaza akibat serangan Israel menembus angka lebih 65 ribu jiwa.
Nyawa-nyawa yang melayang itu, menurut laporan PBB dan berbagai lembaga independen, sebagian besar adalah warga sipil. Termasuk lansia, perempuan dan anak yang seharusnya dilindungi ketika perang meletus.
Warga Palestina memeriksa kondisi kamp pengungsi yang hancur usai serangan udara Israel di daerah Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza, Selasa (10/9/2024). Foto: Mohammed Salem / REUTERS
Badan Urusan HAM PBB menyatakan apa yang dilakukan Israel di Gaza masuk kategori genosida. Berbagai negara dan pihak menuntut PM Israel Benjamin Netanyahu dan pihak lain yang bertanggung jawab diseret ke Mahkamah Pidana Internasional.
Nyaris dua tahun perang pecah, cahaya perdamaian tampak di Gaza pada Jumat ini. Hamas menegaskan siap melepas sandera dan memenuhi usulan damai di Gaza yang disampaikan AS. Negeri Paman Sam merupakan mediator krisis Gaza.
Trump lalu mengumumkan lewat media sosial agar Israel berhenti menyerang Gaza. Politikus Partai Republik itu bahkan percaya Hamas akan memelihara perdamaian Gaza.
Israel merespons dengan menyatakan siap bekerja sama dengan AS mengakhiri perang Gaza. Sementara Hamas mengaku gembira akan pengumuman Trump.
Namun, kondisi lapangan memang berbeda. Sejumlah penduduk lokal di Gaza City melaporkan bahwa kota tersebut masih berada di bawah serangan intensif Israel.
Pada saat yang bersamaan, kabar perihal akhir perang mulai tersebar di Gaza yang sebagian besar wilayahnya nyaris rata dengan tanah, lantaran kerusakan besar imbas perang.
Al-Mawasi menjadi salah satu wilayah yang mulai merayakan momen penuh harapan. Saat ini di Al-Mawasi terdapat puluhan ribu pengungsi yang berada di tenda-tenda pengungsian.
Pada Jumat, gema takbir "Allahu Akbar!" menggema nyaring di tengah tenda-tenda ini, menyambut keinginan Hamas mengakhiri perang.
"Saat saya membaca berita itu... tubuh saya gemetar dan menggigil. Sebuah perasaan menyelimuti saya, seperti, 'Ya Allah, akhirnya pertolongan datang kepada kami,'" kata Samah Al-Hu, seorang pengungsi Palestina di Al-Mawasi, seperti dikutip dari AFP.
Kegembiraan serupa terpancar dari pengungsi lainnya di Al-Mawasi, Mohammad Abu Hatab. Warga Gaza City itu memberikan respons positif atas sikap Hamas membuka pintu negosiasi agar perang terhenti.
"Kami berharap, dengan upaya para mediator, perang dapat dihentikan sepenuhnya dan kegembiraan kami terpenuhi," ujarnya kepada AFP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar