(Sumber: Gambar dibuat oleh Gemini AI, "Siswi yang Frustrasi akibat Tekanan sebagai Juara Kelas.")
Pendidikan merupakan proses untuk mencapai suatu pencapaian yang diimbangi dengan ilmu pengetahuan. Terkadang, pendidikan dijadikan sebagai tempat atau perlombaan untuk memperkaya dan memperluas pengetahuan seseorang. Sistem ranking atau juara kelas merupakan salah satu bentuk dari ajang perlombaan tersebut. Sistem ini sering dianggap sebagai simbol keberhasilan, kecerdasan, dan hasil kerja keras selama masa pembelajaran siswa.
Tekanan dan Beban terhadap Karakter
Anak yang mendapatkan peringkat teratas akan merasa bahwa dirinya harus selalu mendapatkan posisi teratas secara stabil dan memikul harapan dari orang tua, guru serta lingkungannya. Stereotipe "Kamu mah pinter, gak belajar juga rangking satu terus" yang dibuat oleh sekitarnya akan menambah pressure atau tekanan bagi anak tersebut. Ketika nilai mereka turun sedikit saja, anak bisa mengalami stres berat dan merasa sangat gagal.
Beban ini bahkan bisa memicu masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, stres berkepanjangan, dan penurunan percaya diri. Tidak jarang juga, anak yang mendapatkan juara kelas merasa apa yang dilakukannya harus selalu sesuai dengan yang ia inginkan. Hal inilah yang membuat mereka terjebak dalam standar perfeksionisme dan akhirnya mengurangi kebebasan untuk bereksperimen dalam belajar secara kreatif.
Dampak Negatif terhadap Motivasi Siswa
Sistem juara kelas ini akan membuat suasana dan situasi anak merasa lebih kompetitif dan menghindari untuk mencoba hal-hal baru. Sistem ranking yang menuntut hasil sempurna tiap saat, sebenarnya dapat menurunkan motivasi belajar karena anak merasa usaha mereka tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan (selalu merasa tidak puas dengan pencapaiannya). Dalam hal ini, akan mengubah motivasi anak dari motivasi intrinsik, yaitu belajar karena ingin tahu dan berkembang; menjadi motivasi ekstrinsik semata, yakni hanya mengejar nilai dan ranking tanpa makna belajar yang sejati.
Dampak Sosial dan Hubungan Antarsiswa
Hubungan pertemanan tidak sehat pun terjadi karena akibat dari persaingan akademik ini di mana anak yang mendapatkan juara kelas akan merasa bahwa dirinya mandiri dan tidak membutuhkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu, anak yang mendapatkan posisi terendah akan selalu merasa minder dan stuck di posisi tersebut karena tidak adanya dukungan dari teman sebaya.
Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock
Situasi ini akan memicu dampak sosial negatif lainnya, seperti meningkatnya risiko bullying dan hilangnya kepercayaan dengan lingkungan sekitar yang akan merusak kesehatan psikologis anak.
Solusi dan Praktik Baik
Perlu dimulainya pendekatan penilaian formatif atau holistic yang menggabungkan antara nilai akademik dengan penilaian kognitif (teamwork, kreativitas, dll) untuk mengurangi terjadinya fenomena tersebut. Sistem ini akan memberi ruang bagi siswa untuk fokus pada usaha, perkembangan pribadi, dan pembelajaran bermakna tanpa tekanan angka tingkat persaingan.
Selain itu, sistem ini tidak akan berjalan dengan lancar jika tidak melibatkan orang tua sebagai guru pertama anak di rumah. Dukungan dari orang tua, keluarga, dan teman sebaya akan menambah semangat dalam belajar tanpa menjadikan nilai sebagai patokan utama keberhasilan.
Pada akhirnya, sistem juara kelas bukan hanya menjadi acuan atau dorongan untuk semangat belajar, melainkan menjadi boomerang bagi kesehatan mental anak karena kurangnya dukungan positif dari keluarga, guru, bahkan teman sebaya. Tekanan dan beban yang berlebih, penghambat motivasi, dan persaingan akademik yang tidak sehat menjadi bukti bahwa pendidikan juga berperan penting dalam memfasilitasi tumbuh kembang yang optimal untuk pertumbuhan karakter anak.
Tujuan utama pendidikan justru untuk membentuk karakter individu yang mampu berpikir dengan kritis, mampu berkolaborasi, beretika, dan memiliki motivasi intrinsik untuk belajar hingga sepanjang hayat. Pendidikan juga merupakan ruang untuk tempat berkembangnya anak, bukan sebagai tempat yang mempersempit anak dalam berkreasi dan berinovasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar