Search This Blog

Mengapa Bayi Punya Lebih Banyak Tulang daripada Orang Dewasa? Ini Penjelasannya!

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mengapa Bayi Punya Lebih Banyak Tulang daripada Orang Dewasa? Ini Penjelasannya!
Oct 11th 2025, 13:30 by kumparanMOM

Mengapa Bayi Punya Lebih Banyak Tulang daripada Orang Dewasa? Ini Penjelasannya! Foto: sutlafk/Shutterstock
Mengapa Bayi Punya Lebih Banyak Tulang daripada Orang Dewasa? Ini Penjelasannya! Foto: sutlafk/Shutterstock

Perkembangan bayi di dalam kandungan hingga si kecil lahir selalu membuat kita takjub. Tapi, tahukah Anda bahwa saat lahir, bayi memiliki lebih banyak tulang di tubuhnya daripada orang dewasa?

Ya Moms, bayi lahir dengan sekitar 270 tulang, beberapa di antaranya pada akhirnya akan menyatu membentuk 206–213 tulang yang akan mereka miliki saat dewasa.

Dikutip dari Very Well Health, tulang bayi terdiri dari lebih banyak tulang rawan daripada tulang padat. Tulang rawan lebih fleksibel daripada tulang padat dan mampu menahan tekanan, serta memberikan dukungan dan fleksibilitas.

Tidak seperti tulang pada normalnya, tulang rawan tidak mengandung kalsium, serat, dan zat lain yang membentuk tulang tersebut. Sebaliknya, tulang rawan mengandung zat kimia kondroitin, yang menjaganya tetap fleksibel dan elastis. Tulang rawan juga tidak mengandung pembuluh darah atau saraf. Sebaliknya, aliran darah dan sensasi nyeri berasal dari struktur di sekitarnya.

Seiring waktu, sebagian besar tulang rawan di tubuh anak mengeras menjadi tulang—proses yang disebut osifikasi. Osifikasi sebenarnya tidak akan terjadi sekaligus, Moms. Osifikasi sebenarnya dimulai di dalam rahim sekitar minggu ke-6 atau ke-7 kehamilan dan berlanjut hingga pertengahan usia 20-an.

Pahami Perkembangan Tulang pada Tubuh Bayi

Nantinya, tulang-tulang yang akan semakin mengeras terjadi di bagian tengkorak, tulang belakang, lengan dan kaki.

Bentuk kepala bayi akan berubah dengan sendirinya Foto: Shutterstock
Bentuk kepala bayi akan berubah dengan sendirinya Foto: Shutterstock

Tengkorak

Beberapa tulang membentuk tengkorak manusia: Dua tulang frontal , dua tulang parietal, dan satu tulang oksipital. Seiring berjalannya waktu, tulang-tulang ini akan menyatu. Tetapi, penyatuan tulang ini juga masih bersifat fleksibel agar tetap dapat melewati proses kelahiran dan pertumbuhan otaknya setelah lahir.

Tulang Belakang

Tulang belakang bayi dimulai dalam bentuk C sederhana. Lengkung toraks mulai berkembang di dalam rahim, sementara lengkung servikal dan lumbar sekunder baru berkembang pada masa bayi, tepatnya ketika bayi mulai mengangkat kepalanya, duduk, merangkak, dan akhirnya berdiri lalu berjalan.

Tulang belakang juga bisa melengkung secara tidak normal. Kifosis dan lordosis adalah kelainan tulang belakang yang terjadi ketika kelengkungan tulang belakang anak dari depan ke belakang terlalu besar. Sementara skoliosis adalah kondisi tulang belakang di mana tulang belakang melengkung dari sisi ke sisi.

Tulang anak-anak lebih fleksibel dan memiliki lapisan yang lebih tebal, sehingga mereka lebih mampu menyerap guncangan dan menahan patah tulang. Di saat yang sama, anak-anak lebih rentan terhadap beberapa jenis patah tulang di area yang tidak lagi ada pada orang dewasa, seperti lempeng pertumbuhan.

Lengan dan Kaki

Osifikasi tulang panjang sebenarnya dimulai sejak janin masih di dalam kandungan. Dan proses ini baru selesai pada akhir usia belasan hingga pertengahan usia 20-an.

Tulang lengan dan kaki anak-anak lebih fleksibel dan memiliki lapisan yang lebih tebal, sehingga mereka lebih mampu menyerap guncangan dan menahan patah tulang. Di saat yang sama, anak-anak lebih rentan terhadap beberapa jenis patah tulang di area yang tidak lagi ada pada orang dewasa, seperti lempeng pertumbuhan.

Jika lempeng pertumbuhan (jaringan di dekat ujung tulang) tidak sembuh dengan baik, tulang dapat tumbuh bengkok atau lebih lambat. Oleh karena itu, dokter akan memantau kondisi tulang anak selama satu tahun atau lebih ketika mengalami patah tulang.

Ilustrasi bayi minum vitamin D.  Foto: Shutterstock
Ilustrasi bayi minum vitamin D. Foto: Shutterstock

Nah Moms, apa yang bisa dilakukan bila kita ingin mengoptimalkan pertumbuhan tulang si kecil? Maka, Anda wajib menerapkan:

  • Berikan nutrisi yang baik, dengan mengonsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D

  • Rutin berolahraga karena dapat membuat tulang lebih kuat, terutama aktivitas menahan beban dan latihan ketahanan

  • Menjaga kesehatan tulang, seperti mendapat cukup kalsium dan aktivitas fisik, sehingga dapat menurunkan risiko timbulnya osteoporosis

  • Anak menderita asma? Maka perlu ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatan tulang, karena obat kortikosteroid yang digunakan dalam pengobatan asma dapat menurunkan penyerapan kalsium.

Media files:
kskz0fznhhekmrt4zp2k.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar