Sejumlah warga berjalan di dekat bangunan yang hancur akibat gencatan senjata Hamas-Israel di Jabalia, Jalur Gaza, Selasa (21/1/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS
Pejabat Hamas telah tiba di Mesir pada Minggu (5/10) waktu setempat untuk negosiasi dengan Israel yang diharapkan AS akan mengarah pada gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.
Delegasi negosiator Israel akan dipimpin oleh Menteri Urusan Strategis Ron Dermer yang akan berangkat ke Mesir pada Senin (6/10). Perundingan akan digelar di resor Laut Merah, Sharm el-Sheikh, dan membahas pembebasan sandera di Gaza.
Sementara delegasi Hamas akan dipimpin oleh Khalil Al-Hayya. Ini adalah kunjungan pertama Hayya ke Mesir sejak lolos dalam serangan Israel di Doha, Qatar, bulan lalu.
Pejabat Hamas Khalil Al-Hayya. Foto: Esa Alexander/REUTERS
"Kami akan segera tahu apakah Hamas serius atau tidak berdasarkan bagaimana pembicaraan teknis ini berjalan dalam hal logistik," kata Menlu AS Marco Rubio saat diwawancarai NBC News terkait pembebasan 48 sandera yang masih ditahan di Gaza. 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi berjalan dengan cepat.
"Saya diberi tahu bahwa tahap pertama harus diselesaikan minggu ini, dan saya meminta semua orang bergerak DENGAN CEPAT," kata Trump dalam unggah di media sosial, dikutip dari Reuters, Senin (6/10). Tahap pertama adalah pembebasan sandera di Gaza dengan imbalan pembebasan tahapan Palestina di Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Brendan Smialowski/AFP
Trump mempromosikan proposal 20 poin yang bertujuan mengakhiri pertempuran di Gaza, mengamankan pembebasan sandera, dan menentukan masa depan Gaza. Israel dan Hamas telah menyepakati sebagian proposal itu.
Hamas menyepakati pembebasan sandera dan beberapa poin lainnya, tapi mengabaikan sejumlah poin yang dinilai krusial, salah satunya pelucutan senjata yang sudah sering mereka tolak.
Trump pun menyambut respons Hamas. Dia yakin Hamas telah menunjukkan siap untuk perdamaian abadi. Dia pun meminta Israel untuk segera berhenti membombardir Gaza. Namun, pada kenyataannya Israel masih menyerang Gaza.
Koalisi Ancam Akan Lengserkan Netanyahu Jika Perang di Gaza Berakhir
PM Israel Benjamin Netanyahu saat pidato di Sidang Umum PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat (26/9) waktu setempat. Foto: Timothy A. Clary/AFP
Sementara di Israel, banyak orang yang optimistis dengan proposal Trump.
"Ini pertama kalinya saya berharap dalam beberapa bulan terakhir. Trump telah menanamkan banyak harapan terhadap kami," kata seorang warga Gil Shelly.
Di tingkat politik, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terjepit antara tekanan untuk mengakhiri perang baik dari keluarga sandera maupun dari publik yang lelah dengan perang, dan tekanan dari anggota koalisi garis keras yang bersikeras agar serangan Israel di Gaza tetap dilanjutkan.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang sayap kanan mengatakan menghentikan serangan di Gaza akan menjadi kesalahan besar. Dia dan Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvirr mengancam akan menjatuhkan pemerintahan Netanyahu jika perang di Gaza berakhir.
Bezalel Smotrich. Foto: Gil Cohen-Magen/AFP
Sementara pemimpin oposisi dari partai Yesh Atid, Yair Lapid, mengatakan perlindungan politik akan diberikan agar proposal Trump dapat berhasil.
"Dan kami tidak akan membiarkan mereka menggagalkan kesepakatan," kata Lapid.
Serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 67 ribu orang. Sebagian besar yang tewas merupakan warga sipil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar