Pendidikan Pancasila. Sumber ilustrasi: www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-bersandar-di-dinding-236151/
Pendidikan sering kali di ibaratkan sebagai tangga emas menuju masa depan. Namun, bagi ribuan siswa berprestasi di Indonesia, tangga itu kini terasa dingin dan kaku, menyerupai jeruji. Jeruji ini dibangun oleh sebuah mekanisme seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tanpa tes, yang dikenal sebagai Sistem Eligible SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi).
Bagi mereka yang telah berjuang keras mempertahankan nilai rapor, sistem ini seharusnya menjadi peluang pasti menuju kampus impian. Ironisnya, namun realitas di lapangan memperlihatkan seperti mesin lotre yang mengandalkan keberuntungan dan faktor eksternal.
Kriteria Eligible SNBP yang Penuh Kontroversi
Poin utama yang menjadi sorotan adalah bobot kriteria yang digunakan. Kerja keras selama tiga tahun di bangku sekolah menengah bisa terasa tidak berarti ketika dihadapkan dengan batasan-batasan ini:
1. Kuota Sekolah dan Akreditasi:
Akreditasi sekolah menjadi penentu kuota siswa yang dapat mendaftar. Sebagai contoh ekstrem, siswa dengan rata-rata nilai 90 dari sekolah berakreditasi B (kuota 25%) bisa saja kalah "eligible" dibandingkan siswa dengan rata-rata 85 dari sekolah berakreditasi A (kuota 40%). Apakah ini bisa disebut adil dalam dunia pendidikan? Faktor akreditasi sekolah yang tidak bisa dikontrol oleh siswa secara individu telah menciptakan ketidaksetaraan yang nyata.
2. Ilusi Kesetaraan yang Mengunci Pintu:
Sistem "eligible" mengajarkan bahwa nilai bagus akan membuka pintu, padahal faktanya, pintu tersebut sudah terkunci bahkan sebelum upaya terbaik siswa dilakukan. Tekanan untuk masuk dalam batas kuota ini membuat persaingan internal di sekolah menjadi kejam, memaksa siswa bersaing tidak hanya dengan teman sebaya di seluruh Indonesia, tetapi juga di lingkungan mereka sendiri.
Dampak Psikologis dan Penguburan Potensi
Tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh Kritik SNBP ini sangat besar. Para siswa merasa seluruh masa depan mereka bergantung pada angka rapor yang bisa menjadi bumerang kapan saja. Ketika nama mereka tidak masuk dalam daftar "eligible", rasa putus asa dan kekecewaan melanda, seolah-olah seluruh usaha mereka sia-sia.
Lebih jauh, sistem ini dituding terlalu menekankan pada angka (nilai rapor) dan mengabaikan aspek holistik siswa. Bakat, kemampuan non-akademik, jiwa kepemimpinan, dan kecerdasan sosial seolah tereduksi hanya menjadi variabel tambahan, atau bahkan terlewatkan, dalam sistem jeruji ini.
Sudah Saatnya Mempertanyakan Kembali Relevansi Sistem Eligible
Apakah benar nilai rapor, yang dipengaruhi oleh kebijakan sekolah dan kuota akreditasi, adalah penentu masa depan tunggal yang adil?
Apakah tidak ada cara yang lebih holistik, yang memberi ruang bagi anak-anak bangsa untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya bukan hanya siapa diri mereka di atas kertas?
Seruan Aksi: Menuntut Sistem Penerimaan PTN yang Lebih Adil dan Holistik
Pemerintah dan lembaga pendidikan wajib memikirkan ulang cara mereka memilih serta merekrut anak-anak bangsa yang berpotensi. Sistem Eligible SNBP harus direvisi agar membuka ruang yang lebih luas dan adil.
Jangan biarkan ribuan mimpi anak-anak bangsa terkubur hanya karena mekanisme yang dianggap tidak lagi relevan dan cenderung diskriminatif. Mari bersama-sama berjuang dan berikan kesempatan yang adil agar potensi terbaik bangsa dapat terbang meraih mimpi tanpa terhalang oleh jeruji kuota dan akreditasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar