Ambulans melaju saat perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza dibuka kembali, Sabtu (1/2/2025). Foto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS
Perbatasan Rafah, yang jadi pintu masuk utama ke Gaza dari arah Mesir masih ditutup oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dilansir AFP, perbatasan belum dibuka sampai pemberitahuan lebih lanjut.
"Perdana Menteri Netanyahu memerintahkan agar perbatasan Rafah masih akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Kantor Perdana Menteri Israel, Sabtu (18/10).
"Perbatasan akan dibuka lagi tergantung bagaimana Hamas memenuhi kewajiban untuk memulangkan sandera, termasuk mereka yang sudah tewas, dan mengimplementasikan kesepakatan gencatan senjata," sambung statement itu.
Padahal, pada Sabtu paginya, Kedutaan Besar Palestina di Kairo mengumumkan bahwa perbatasan Rafah akan kembali dibuka pada Senin (20/10), dan memungkinkan para pengungsi Gaza di Mesir untuk pulang.
Kepastian dibukanya perbatasan Rafah ini justru mempersulit Hamas untuk mencari jenazah-jenazah yang banyak tertimbun puing-puing di Gaza. Sebab mereka butuh bantuan dan alat berat.
Tak ada lagi jalan masuk ke Gaza, kecuali lewat Rafah.
"Memblokade masuknya peralatan khusus yang diperlukan untuk mencari jenazah sandera yang hilang, serta tim forensik dan peralatan yang bisa mengidentifikasi jenazah, justru mengulur waktu bagi kami untuk memulangkan jenazah," kata Hamas.
Sejumlah negara juga menawarkan bantuan untuk mencari jenazah-jenazah ini, salah satunya Turki.
"Tapi masih belum jelas, apakah Israel akan membolehkan tim dari Turki masuk ke Gaza," kata seorang pejabat Turki kepada AFP.
Sementara Hamas telah menanti kedatangan tim ini pada hari ini.
Sejauh ini, Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut, sudah ada 280 jenazah yang dievakuasi dari puing-puing bangunan sejak gencatan senjata secara efektif berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar