Suasana posko keluarga korban ambruknya bangunan Ponpes Al-Khoziny di asrama putri Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) memastikan kebutuhan logistik bagi para korban dan keluarga terdampak ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Sidoarjo terpenuhi dengan baik. Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial dan relawan juga telah menyiapkan posko, dapur umum, serta tempat istirahat bagi keluarga korban.
Kapala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan bahwa sejak hari pertama bencana, koordinasi lintas instansi berjalan optimal. Dapur umum sudah beroperasi dan bantuan logistik mengalir dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, instansi terkait, dan lembaga kemanusiaan.
"Alhamdulillah hingga hari ini, mulai dari hari pertama, teman-teman Dinas Sosial sudah membuka dapur umum dan bantuan dari semua pihak sudah sangat banyak. Untuk makanan hingga hari ini tercukupi," ujar Gatot dalam konferensi pers di Sidoarjo, Sabtu (4/10).
Tim SAR gabungan mencari korban bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025) malam. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
Ia menambahkan, posko bagi keluarga korban telah disiapkan di Dinas Kesehatan yang berseberangan dengan Rumah Sakit Bhayangkara Sidoarjo. Fasilitas di posko tersebut sudah dilengkapi dengan tenda, dapur umum, tempat tidur, hingga pendingin ruangan agar keluarga korban dapat beristirahat dengan nyaman.
Namun, Gatot mengimbau agar hanya keluarga inti korban yang datang ke posko atau rumah sakit untuk mencari informasi. Hal ini penting agar proses identifikasi yang dilakukan oleh tim DVI dan Inafis berjalan lancar.
"Tetapi kami mohon agar yang hadir di sana adalah keluarga itu, jangan pamannya ataupun mungkin tetangganya atau omnya karena teman-teman DVI juga membutuhkan informasi dari keluarga itu yang lebih mengenali santri tersebut," tegasnya.
Foto udara bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
Senada dengan itu, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto juga meminta agar masyarakat memahami pembatasan tersebut. Menurutnya, hanya keluarga inti yang perlu berada di rumah sakit, sementara yang lain cukup menunggu informasi di lokasi yang sudah ditentukan oleh pemerintah daerah.
"Saya minta kerja sama Pemda Provinsi, Pemda Kabupaten, Dandim, dan Kapolres untuk mengumpulkan masyarakat dan menjelaskan hasil per hari ini. Imbau mereka lebih baik menunggu di tempat yang sudah disiapkan di Rumah Sakit Bhayangkara," kata Suharyanto.
Ia menegaskan bahwa setiap korban yang ditemukan akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses identifikasi, bukan di posko lapangan. Oleh karena itu, masyarakat diminta memberi ruang bagi tim DVI dan Inafis agar dapat bekerja maksimal.
"untuk supaya ini bisa cepat clear, berikan juga kepada petugas ini untuk bekerja, uang waktu untuk bekerja," ucapnya.
Suharyanto juga memastikan bahwa pemerintah pusat akan terus mendukung kebutuhan di lapangan, baik logistik maupun peralatan.
"Terkait logistik, terima kasih Pak Kalaksa, Dinas Sosial. Tolong setiap hari dievaluasi. Apa pun yang menjadi kekurangan di lapangan, kami akan backup dengan sebaik-baiknya," tambahnya.
Hingga Sabtu (4/10) pagi, total 117 korban telah dievakuasi dari lokasi reruntuhan Ponpes Al-Khoziny. Dari jumlah itu, 103 orang dinyatakan selamat, 14 meninggal dunia, dan 49 lainnya masih dalam pencarian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar