Dalam menjalankan hidup, kita tidak pernah lepas dari cita-cita atau target yang ingin kita capai di masa depan. Namun, seiring berjalannya waktu, kita kerap menyadari satu hal yang pasti, di mana ekspektasi kerap tidak sesuai dengan realita. Ditambah lagi, tekanan yang dihadapi generasi saat ini meningkat juga seiring berjalannya waktu. Berdasarkan Ashfiya (2024) dalam GoodStats yang melihat faktor pemicu stres terbesar di generasi saat ini terutama pada Milenial dan Gen Z di antaranya prospek kerja atau karier, keuangan jangka panjang, kesejahteraan keluarga, masalah post-pandemic, keuangan harian, kesehatan fisik bahkan mental, bahkan masalah sosial atau iklim politik yang sedang terjadi di Indonesia.
Bahkan kegagalan yang datang tanpa diundang juga bisa menjadi salah satu faktor stres atau tekanan tersebut.Kegagalan sebenarnya hal yang tidak bisa dilepaskan dalam proses berkembang. Namun, kita sebagai manusia seringkali membandingkan satu sama lain. Padahal nyatanya setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing dan tidak selalu berada di atas terus menerus atau di bawah terus menerus, kembali kepada pribadi individu yang memilih untuk melakukan perubahan atau tidak.
Merasa kecewa bahkan marah adalah hal yang awam dan normal terjadi ketika apa yang diinginkan tidak tercapai. Karena hal tersebut adalah salah suatu bukti proses untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik nantinya.
Dari sinilah, kita memerlukan kemampuan untuk bertahan dari tekanan tersebut, yang dikenal dengan resiliensi.
Apa itu Resiliensi?
Resiliensi adalah "kekuatan" yang dimiliki manusia. Tidak hanya kekuatan untuk menghadapi sesuatu saja, tetapi juga kekuatan untuk tetap bertahan, belajar, dan berkembang dari situasi sulit yang dihadapi individu. Penelitian tentang resiliensi yang dilakukan oleh Rutter (2012) di tahun sebelum-sebelumnya, pada dasarnya berakar dari perbedaan yang beragam dari individu dalam menghadapi berbagai jenis kesulitan.
Di mana ditemukan bahwa perbedaan keadaan dan paparan stres dapat meningkatkan faktor penguatan daripada meningkatnya kerentanan (Rutter, 2012). Resiliensi juga harus dilihat oleh khalayak umum sebagai suatu proses, sifat individu yang dinamis, dan bukan bersifat menetap pada individu (Rutter, 2012).
Menurut Newman (2005), ketahanan adalah kemampuan suatu individu untuk menyesuaikan diri ketika dihadapkan tragedi, trauma, kesulitan, penderitaan, serta tekanan hidup yang berat dan berkelanjutan. Resiliensi juga bukan sesuatu hal yang luar biasa karena resiliensi dapat dipelajari oleh semua orang.
Uniknya, resiliensi yang dimiliki setiap orang kemungkinan berbeda-beda dari pilihan dan perilaku yang nantinya akan berkembang akan bergantung pada kekuatan, keterampilan, serta pengalaman individu.
Banyak faktor yang bisa mendukung perkembangan resiliensi yang dikenal dengan faktor protektif, di antaranya penilaian positif individu, dukungan keluarga dan pasangan, lingkungan, budaya, serta pendidikan (Wahyudi dkk., 2020; Cohen dkk., 2019; GarcaLen dkk., 2019; Hoorelbeke dkk., 2019). Selain faktor protektif, ada pula faktor risiko yang memberikan pengaruh pada resiliensi individu, seperti bencana alam, tekanan ekonomi, atau bahkan pandemi virus seperti yang terjadi pada tahun 2019 lalu (Wahyudi dkk., 2020; Ensor dkk., 2018; Manyena dkk., 2019; Sciences dkk., 2019). Aspek-aspek yang dapat mempengaruhi resiliensi sangatlah beragam, mulai dari ketekunan individu, kemandirian, keseimbangan, kebermaknaan dan keunikan diri sendiri, regulasi diri, pengendalian impuls, optimisme, kemampuan menganalisis, empati, evaluasi diri pencapaian (Wahyudi dkk., 2020; Turk & Wolfe, 2019; Wagnild, 2009).
Meskipun resiliensi pada setiap individu unik, berbeda-beda, dan bisa dibangun oleh siapa pun, pada akhirnya bagi individu yang merasa dirinya mengalami permasalahan mental akan terasa sulit. Namun, bukan berarti tidak memiliki resiliensi, karena bagi individu yang mengalami hal tersebut tidak akan cukup dengan pemberian informasi. Melainkan perlunya intervensi dan strategi yang tepat dari ahli baik Psikolog maupun Psikiater untuk menunjang peningkatan resiliensi itu sendiri.
Perlu diingat, jika merasa bahwa diri sudah tidak mampu menahan tekanan, janganlah mendiagnosa diri sendiri, segera mencari atau meminta pertolongan, baik dari keluarga, rekan, ataupun ahli seperti psikolog.
Berdamai dengan Kegagalan
Perasaan putus asa, kehilangan percaya diri, munculnya pemikiran irasional bisa terjadi karena kegagalan atau hasil yang tidak sesuai ekspektasi. Namun, bukan berarti kegagalan adalah akhir dari segalanya. Melainkan kita harus percaya bahwa hal tersebut adalah awal dari segalanya. Menjadikan kegagalan sebagai teman berproses untuk belajar dan mengembangkan diri adalah bukti bahwa kita sebagai individu selangkah lebih maju dan baik dari sebelumnya.
Banyak Jalan Menuju Roma
Pada dasarnya dalam perjalanan hidup, tidak ada yang tersesat, hanya ada di jalan lain, jalan pintas, atau bahkan jalan lain yang tidak terpikirkan orang-orang untuk mencapai Roma. Setiap individu juga memiliki arti Roma yang berbeda-beda, bisa dianggap cita-cita ataupun target dalam hidup. Tidak ada jalan yang pasti untuk mencapai apa yang diimpikan.
Dalam berproses, bukan berarti juga tidak akan menemukan kegagalan kembali. Kerikil, batu-batuan, atau jalan rusak pasti akan dilewati pada fase tertentu. Memikirkan rencana dan menyusun rencana alternatif adalah salah satu jalan agar kita bisa tetap berusaha meskipun prosesnya akan lebih panjang. Tidak membandingkan diri dengan orang lain juga menjadi catatan penting, karena dibalik kesuksesan orang lain, kita sebagai individu juga tidak mengetahui apa saja tantangan yang terjadi pada hidupnya.
Selain berproses, resiliensi juga membuat kita mengenal diri sendiri, dari apa yang kita mau, seberapa mampu menghadapi tekanan, dan apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar