com-Ilustrasi ibu dan anak sedang menyiapkan sarapan. Foto: Shutterstock
Sarapan merupakan bekal penting bagi anak-anak untuk memulai harinya agar lebih berenergi dan membantu fokus belajar di sekolah. Memberikan menu sarapan yang sehat juga bisa membantu perkembangan otot, tulang, dan otak si kecil juga, lho!
Tetapi, tanpa disadari, memberikan menu makanan yang tidak tepat justru akan mengurangi manfaat baik dari sarapan itu sendiri, Moms. Apalagi, terkadang kita sudah disibukkan pekerjaan rumah lain si pagi hari yang membuat waktu membuat sarapan menjadi lebih singkat.
Masak apa aja deh, yang penting anak makan!
Apa saja sih, kesalahan yang kerap dilakukan orang tua dalam pemberian sarapan bagi anak?
Kesalahan Orang Tua saat Berikan Sarapan pada Anak
Dokter Spesialis Anak dr. S. Tumpal Andreas Sp.A M.Ked. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
1. Tidak Hitung Kebutuhan Anak
Dokter spesialis anak, dr. S. Tumpal Andreas, Sp.A, menuturkan orang tua kerap tidak menyadari setiap anak memiliki kebutuhan mikronutrien dan makronutrien yang berbeda-beda. Sehingga, memberikan terlalu sedikit atau terlalu banyak pun tidak baik.
"Kita memaksakan yang penting anak makan harus banyak karena nanti aktivitasnya banyak. Padahal belum tentu," ucap dr. Andreas kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, ada beberapa anak yang memang memiliki kecenderungan untuk sarapan dengan jumlah lebih sedikit jika dibandingkan makan siang atau malamnya. Jadi, bila si kecil hanya mengonsumsi lebih sedikit porsi makan sarapannya, jangan dipaksakan, Moms!
"Jumlahnya berbeda di makan pagi, siang, dan sore tidak masalah, selama kebutuhan dalam satu harinya terpenuhi dengan baik," kata dia.
2. Tidak Observasi Jenis Makanan
Ingin makanannya habis? Maka sekali-kali cobalah untuk membuatkan menu sarapan dari lauk-pauk yang disukainya. Karena menurut dr. Andreas, ada beberapa orang tua yang kerap memaksa anak untuk mengonsumsi makanan tertentu.
Misalnya, anak cenderung kurang menyukai nasi untuk dimakan di pagi hari. Maka Anda bisa mencari alternatif makanan yang lebih bisa diterima oleh tubuhnya.
"Misalnya, dia tidak bisa makan nasi, masak bisa diganti dari jagung, ubi, atau bisa juga dicampur jadi nasi jagung. Itu bisa diakalin, yang penting anaknya suka dan nutrisinya terpenuhi dengan baik," jelas dr. Andreas.
Ilustrasi anak sarapan sereal cokelat. Foto: Ronnachai Palas/Shutterstock
3. Praktis, tapi Enggak Sehat
Dan terakhir, dr. Andreas menyoroti menu-menu praktis namun sayangnya tidak baik untuk kesehatan anak jika terlalu sering dikonsumsi. Misalnya, makanan ultra proses (ultra processed food) seperti nugget, sereal tinggi gula, mi instan, dan sejenisnya dapat membuat energi cepat turun, sulit berkonsentrasi, hingga berdampak buruk bagi kesehatan.
"Maunya satset tapi enggak ada isinya, yang penting anak suka. Tapi sayangnya, enggak ada nutrisinya," tegas dr. Andreas.
Lantas, bolehkah anak sarapan dengan menambahkan susu? dr. Andreas menilai boleh-boleh saja, karena susu merupakan sumber protein hewani yang tinggi kalsium, magnesium, vitamin D, dan fosfor.
Nah Moms, dr. Andreas menyarankan pemberian susu juga dibarengi dengan buah-buahan yang juga mengandung karbohidrat cukup tinggi.
"Susu bisa dikonsumsi bersama dengan buah-buahan berkarbohidrat tinggi, salah satunya pisang. Bisa juga digantikan dengan ubi yang juga tinggi karbohidrat dan serat," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar