Lampung Geh, Bandar Lampung - Arts Lab Progression menampilkan dua karya tari berbasis riset laboratorium tubuh di Gedung Pertunjukan Dewan Kesenian Lampung, Jumat (12/9) malam.
Pertunjukan menampilkan karya "Inertia" karya Kiki Rahmatika Syaher dan "Alih" karya Gianti Giadi ini menjadi ruang eksplorasi tubuh, pengalaman, serta respon kritis terhadap perubahan sosial maupun personal.
Kiki Rahmatika pada karyanya Inertia menekankan pengalaman mengenai tubuh menghadapi situasi keseharian. Ia menceritakan riset karyanya yang mulai sejak 2019, terinspirasi dari keseharian Kiki saat naik busway hingga perasaan tubuh yang secara alami berusaha menahan keseimbangan agar tidak jatuh. Proses ini, menurutnya, menjadi refleksi atas kondisi tubuh menghadapi guncangan.
"Buat saya, poinnya bukan soal jatuh atau tidak jatuh, tetapi bagaimana tubuh mempertahankan diri. Riset ini organik, saya biarkan mengalir dan setiap kali tampil justru memunculkan penemuan baru," ujarnya saat artist talk.
Karya Inertia sebelumnya sudah ditampilkan di berbagai tempat seperti di Singapura, Yogyakarta, hingga Padang, dengan selalu mengalami perubahan sesuai konteks ruang dan tantangan panggung.
Tidak hanya Kiki, karya dari Gianti Giadi menghadirkan Alih yang lahir dari kegelisahannya melihat perubahan-perubahan drastis dalam kehidupan manusia, terutama sejak pandemi Covid-19. Ia menyoroti bagaimana orang beradaptasi dengan kehilangan pekerjaan, konflik di ruang kerja, hingga ketidakpastian sosial.
"Banyak banget perubahan dalam hidup. Tiba-tiba kehilangan kerja, tiba-tiba sakit, tiba-tiba hal-hal yang tidak kita duga. Aku tertarik melihat bagaimana orang-orang meng-handle perubahan itu, apakah dengan cara baik atau justru saling menjatuhkan," jelasnya.
Kiki menambahkan, setiap tubuh adalah data unik yang tidak bisa disamakan.
"Tubuh saya punya pengalaman berbeda dengan orang lain. Itu yang membuat riset tubuh kaya sekali, karena selalu ada narasi personal yang muncul," katanya.
Gianti mengatakan hal serupa, bahwa riset tubuh bukan proses final.
"Bagi saya, tidak ada hasil akhir yang kaku. Setiap kali dibawa ke ruang berbeda, tubuh harus bisa membaca ulang konteks. Itu yang membuat karya selalu hidup," ujarnya.
Kiki juga berencana membawa Inertia tampil ke Sydney.
"Tentu nanti akan berbeda. Ruang, audiens, dan konteks di sana akan memengaruhi bagaimana tubuh saya bergerak. Dan justru di situlah menariknya, karya ini hidup bersama perubahan," jelasnya.
Pertunjukan malam itu memperlihatkan bagaimana riset tubuh bisa menjelma menjadi karya tari yang tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan sebagai pengalaman bersama. (Taufik/Put)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar