Gambar tangan seseorang yang memegang handphone, menampilkan aplikasi tiktok (oleh Lolo_btl di Pixabay).
Di era digital, sebuah video singkat bisa lebih cepat menyeberang batas negara daripada acara diplomatik resmi. Tarian sederhana, potongan lagu, atau resep kuliner lokal dapat tiba-tiba viral di TikTok, lalu menjadi bahan perbincangan global. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya tempat hiburan, melainkan juga ruang baru di mana budaya diperkenalkan, dipahami, dan dinilai oleh audiens internasional.
Dari sinilah muncul pertanyaan menarik: Apakah algoritma media sosial seperti TikTok kini ikut berperan dalam membentuk citra budaya sebuah negara? Jika ikut berperan, apakah ini bisa disebut sebagai bentuk baru diplomasi budaya di era digital?
Dalam studi hubungan internasional, Joseph Nye memperkenalkan konsep soft power: kemampuan sebuah negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan ide, alih-alih melalui tekanan militer atau ekonomi. Jika di masa lalu soft power identik dengan film Hollywood, musik jazz, atau pertukaran pelajar, kini daya tarik itu banyak hadir lewat media digital.
Diplomasi budaya—yang dulu dijalankan melalui pameran seni, festival, atau acara resmi—kini berkembang menjadi digital public diplomacy. Negara tidak lagi hanya berbicara kepada publik asing lewat jalur formal, tetapi juga memanfaatkan platform digital yang lebih cair. Dalam konteks ini, TikTok menjadi media yang menarik. Format kontennya singkat, mudah dikonsumsi, dan dapat menyebar lintas batas dengan cepat. Pertanyaannya: Bagaimana algoritma dan interaksi pengguna di platform ini ikut memengaruhi cara dunia melihat budaya suatu negara?
Beberapa contoh dapat memperjelas tren ini. Korea Selatan, misalnya, memanfaatkan popularitas K-Pop yang sering muncul di TikTok. Tantangan tarian dari grup musik populer bukan hanya menghibur, tetapi juga memperkuat citra Korea sebagai pusat budaya pop global. Hal serupa terlihat pada kuliner. Konten sederhana tentang cara membuat bakso Indonesia atau kebab Turki sering kali mendapat jutaan penonton, dan tanpa disadari memperkenalkan keunikan kuliner nasional ke audiens internasional.
Ilustrasi TikTok. Foto: ANTONIN UTZ/AFP
Sementara itu, India mendapatkan keuntungan dari popularitas Bollywood. Potongan tarian film India yang beredar di TikTok membantu memperluas daya tarik budaya India, terutama di negara-negara dengan komunitas diaspora. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi jalur alternatif bagi diplomasi budaya, sekaligus memperlihatkan peran penting algoritma dalam menentukan budaya mana yang terekspos secara global.
Di balik layar, ada satu aktor yang jarang dibicarakan: algoritma. Algoritma TikTok berfungsi sebagai penyaring konten yang menentukan apa yang akan dilihat oleh pengguna. Berdasarkan interaksi dan preferensi, algoritma memunculkan konten tertentu ke permukaan dan mengabaikan yang lain. Akibatnya, budaya tertentu bisa cepat dikenal dunia, sementara budaya lain tetap berada di pinggiran.
Fenomena ini memberi makna baru pada digital diplomacy. Negara dapat merancang kampanye resmi untuk mempromosikan budaya, tetapi keberhasilannya tetap sangat dipengaruhi algoritma dan keterlibatan pengguna. Menariknya, banyak diplomasi budaya kini dilakukan oleh aktor non-negara, seperti kreator TikTok yang secara tidak langsung berperan sebagai "duta budaya" digital.
Dari perspektif constructivism ala Alexander Wendt, identitas negara bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial. Dalam konteks ini, algoritma membantu membentuk narasi global tentang negara tertentu melalui representasi budaya yang beredar di ruang digital.
Pergeseran ini membuka peluang sekaligus tantangan. Peluangnya, negara dapat memperkenalkan budaya mereka ke audiens global dengan cara yang lebih murah, cepat, dan menjangkau generasi muda. Banyak orang kini mengenal budaya asing bukan melalui acara resmi, melainkan lewat konten singkat di feeds TikTok mereka. Namun, ada pula tantangan. Pertama, budaya bisa tereduksi menjadi sekadar tren singkat, kehilangan konteks yang lebih mendalam. Kedua, algoritma dapat menciptakan ketidaksetaraan visibilitas: budaya yang dianggap kurang "menarik" bisa tertutup oleh konten lain. Ketiga, konten budaya dapat terhambat oleh regulasi atau kebijakan platform yang berbeda di setiap negara.
Ilustrasi TikTok. Foto: Konstantin Savusia/Shutterstock
Hal ini menunjukkan bahwa soft power di era digital bukan hanya bergantung pada kekuatan budaya itu sendiri, tetapi juga pada interaksi dinamis antara negara, kreator, dan logika platform digital. Apa yang terjadi hari ini menunjukkan bentuk baru dari public diplomacy yang semakin cair. Negara tetap berperan, tetapi individu dan komunitas kreator juga menjadi aktor penting dalam memperkenalkan budaya ke dunia. Dari perspektif hubungan internasional, diplomasi budaya menjadi lebih terbuka dan partisipatif, meskipun pada saat yang sama lebih sulit dikendalikan.
Mengikuti logika konstruktivisme, identitas negara kini terbentuk melalui interaksi di ruang digital. Seseorang mungkin merasa lebih dekat dengan Jepang karena konten anime di TikTok, atau memandang Indonesia secara positif karena sering melihat konten kuliner nusantara. Pertanyaan reflektifnya: Apakah fenomena ini memperluas keberagaman representasi budaya, atau justru memperkuat dominasi budaya tertentu yang lebih sering dipromosikan oleh algoritma?
Fenomena ini sebenarnya memperlihatkan dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, kita bisa melihat bagaimana budaya-budaya lokal yang mungkin sebelumnya sulit dikenal kini punya panggung global melalui konten singkat di TikTok. Rasanya menyenangkan ketika tarian tradisional, bahasa, atau makanan khas muncul di layar ponsel orang di belahan dunia lain.
Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa algoritma cenderung menonjolkan yang dianggap populer, sehingga ada budaya yang lebih sering terlihat, sementara yang lain jarang mendapat ruang. Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah ini baik atau buruk, melainkan bagaimana kita bisa memastikan agar ruang digital tetap terbuka bagi keragaman ekspresi budaya, tanpa harus menyingkirkan yang kecil oleh yang besar.
Pada akhirnya, TikTok memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak hanya berlangsung di ruang konferensi, tetapi juga di layar ponsel. Algoritma bukan sekadar alat teknis, melainkan bagian dari proses bagaimana budaya diperkenalkan secara global. Sebuah video singkat bisa berkontribusi besar pada citra suatu negara. Diplomasi budaya di era digital menuntut cara pandang baru: melihat interaksi sederhana di media sosial sebagai bagian dari dinamika hubungan internasional yang lebih luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar