Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock
Moms, mencari gaya parenting yang cocok memang tidaklah mudah. Namun, jika ingin anak lebih mandiri Anda bisa menerapkan gaya glider parenting.
Seiring berkembangnya zaman, gaya pengasuhan orang tua terus berubah. Para peneliti juga terus mengembangkan berbagai macam teori pengasuhan yang minim trauma, bisa mengoptimalkan potensi anak, tapi juga punya bonding yang erat antara orang tua dan anak.
Salah satu gaya pengasuhan yang sedang ramai dibicarakan adalah glider parenting. Gaya pengasuhan ini disebut-sebut dapat membantu anak lebih mandiri dan tidak mudah menyerah.
Seperti apa glider parenting itu?
Dikutip dari laman UCLA Health, glider parenting adalah pola pengasuhan di mana orang tua tetap hadir, mengawasi, dan siap mendukung, tapi memberikan ruang bagi anak untuk belajar, mencoba, bahkan gagal.
Istilah ini terinspirasi dari "glider" atau pesawat layang yang tetap dikendalikan, tapi dibiarkan meluncur dengan anginnya sendiri.
Dengan pendekatan ini, anak diberi kebebasan yang sesuai dengan usianya untuk mengambil keputusan, mengatasi masalah, dan belajar bertanggung jawab.
Manfaat Gaya Pengasuhan Glider Parenting untuk Anak
Ilustrasi anak laki-laki dan perempuan sekolah. Foto: Shutterstock
Menurut American Psychological Association (APA), memberikan ruang kemandirian sejak dini membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental, percaya diri, dan ketangguhan.
Dengan menerapkan glider parenting anak akan tumbuh menjadi:
Memiliki kemampuan akademik yang lebih baik karena anak belajar mandiri.
Memiliki kontrol emosi yang lebih matang karena terbiasa menghadapi tantangan.
Memiliki kesehatan mental yang lebih stabil karena tidak selalu dituntut "sempurna."
Memiliki Hubungan sosial yang lebih sehat karena anak terbiasa berinteraksi tanpa intervensi orang tua.
Prinsip Dasar Glider Parenting yang Bisa Diterapkan
Ikut terlibat, tapi tidak mengambil alih
Biarkan anak mencoba mengerjakan PR-nya sendiri. Jika kesulitan, baru dampingi dengan memberi arahan, bukan menyelesaikan/mengerjakan PR untuk mereka.
Beri kesempatan anak gagal
Kegagalan adalah guru terbaik. Saat anak salah, dukung mereka untuk belajar dari pengalaman, bukan malah disalahkan atau dilindungi berlebihan.
Jadi perpustakaan bukan pilot
Tugas kita memberi informasi, menunjukkan arah, tapi anak yang memilih buku dan membacanya. Begitu juga dengan keputusan hidup mereka.
Atur batasan yang sehat
Seperti safeguard (penjaga pantai), orang tua tetap mengawasi agar anak tidak melampaui batas yang berbahaya. Tapi selama aman, biarkan mereka berenang dengan cara mereka sendiri.
Dukung, bukan mengendalikan
Anak butuh merasa dicintai dan dihargai apa adanya, bukan hanya saat mereka berhasil.
Bagaimana, Moms? Tertarik mencoba gaya pengasuhan ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar