Talkshow Jogja Ibu Kota Buku Dunia, di Akademi Bahagia EA, di Sleman, Sabtu (17/5). Foto: Resti Damayanti / Pandangan Jogja
Sebanyak Rp 3,5 miliar Dana Keistimewaan (Danais) digunakan untuk pengembangan literasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun ini. Jumlah tersebut tersebar untuk program yang dijalankan baik oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY maupun pemerintah kabupaten dan kalurahan.
"Dari tahun kemarin maupun tahun ini selalu ada penganggaran dari Dana Keistimewaan. Kalau sekarang ini sekitar totalnya itu sekitar Rp 3,5 miliar untuk pengembangan literasi," ujar Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, saat ditemui usai acara peringatan Hari Jadi IKAPI ke-75 di Sleman, Sabtu (17/5).
Nominal tersebut bisa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kebutuhan yang tidak selalu sama. "Dulu untuk pembangunan diorama arsip pun juga kita membutuhkan Rp 18 miliar. Tapi sekarang kan bukan membangun," jelasnya.
Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, saat ditemui usai acara peringatan Hari Jadi IKAPI ke-75 di Sleman, Sabtu (17/5). Foto: Resti Damayanti / Pandangan Jogja
Aris menyebut, program yang didukung oleh danais untuk pengembangan literasi diantaranya yakni Lajang Cakap (Layanan Antar Jemput Anak Gunungkidul Calon Kader Pemustaka) dan Wajib Kunjung Museum. Program Lajang Cakap ini merupakan layanan antar jemput anak-anak di Gunungkidul untuk mengunjungi perpustakaan daerah.
"Wajib Kunjung Museum ini juga kita sediakan ada empat bis, dua bis bisa keliling. Harapan kita itu menjadi bagian mobilitas untuk memiliki tempat tertentu sesuai dengan sejarah yang ada di Yogyakarta," tambahnya.
Aris juga menjelaskan penganggaran ini merupakan perkembangan implementasi danais dari waktu ke waktu. Di awal implementasi, Danais menurutnya dipahami sempit hanya untuk lima urusan: tata cara pengisian jabatan, kelembagaan, tata ruang, pertanahan, dan kebudayaan.
Namun, sejak tahun 2021, pemanfaatan Danais mulai diperluas secara bertahap, termasuk mendukung sektor pendidikan, UMKM, hingga literasi.
"Kami mulai belajar untuk kemudian menyempurnakan penggunaan anggaran keistimewaan," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program keistimewaan, termasuk literasi, sangat bergantung pada kolaborasi antar-pihak, termasuk komunitas, OPD, hingga masyarakat.
"Anggaran yang ada di keistimewaan itu hanya bisa dilaksanakan apabila kemudian ada usulan dan ada yang mau melaksanakan," ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar