Search This Blog

Cerita Pasien TBC di DIY: Berat Badan Turun 20 Kg, 9 Bulan Tak Boleh Putus Obat

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Cerita Pasien TBC di DIY: Berat Badan Turun 20 Kg, 9 Bulan Tak Boleh Putus Obat
Dec 13th 2023, 20:03, by Pandangan Jogja Com, Pandangan Jogja

Ilustrasi pria pasien TBC sedang meminum obat. Foto: Pexels
Ilustrasi pria pasien TBC sedang meminum obat. Foto: Pexels

Pertengahan tahun 2022 kemarin, Ikhwan, salah seorang warga Yogya, pulang kerja dalam kondisi tubuh yang capek luar biasa. Tapi ia masih merasa itu hanya kelelahan biasa karena setiap hari harus kerja sampai malam, ditambah berbagai beban pikiran yang ia tanggung.

Tapi kondisinya terus memburuk. Tak cuma merasa lelah, Ikhwan mulai demam dan batuk-batuk. Ia mulai curiga kondisi kesehatannya lebih buruk dari yang ia kira. Maka, datanglah ia ke puskesmas.

Di sana, dokter mengecek dahaknya untuk mengetahui apakah ia terinfeksi tuberkulosis (TBC) atau tidak. Dahaknya diperiksa di laboratorium. Hasilnya, dokter mengatakan tak ada bakteri TBC dalam tubuhnya.

Hasil pemeriksaan di laboratorium puskesmas membuatnya sedikit lega. Namun, kondisinya tak juga membaik, bahkan semakin buruk.

"Saya sampai lemas, pusing, dan lain-lain. Lalu saya inisiatif sendiri ke rumah sakit yang lebih besar tanpa BPJS, di situ baru kelihatan saya terkena TBC setelah dirontgen," kata Ikhwan kepada Pandangan Jogja pekan kemarin.

Ilustrasi dokter memeriksa hasil rontgen paru-paru pasien TBC. Foto: Pexels
Ilustrasi dokter memeriksa hasil rontgen paru-paru pasien TBC. Foto: Pexels

Akhirnya ia menjalani rawat jalan di rumah sakit tersebut. Kondisi yang semakin buruk membuatnya harus istirahat total selama 9 bulan. Selama waktu itu, ia juga harus rutin minum tiga jenis obat setiap hari, tak boleh putus sama sekali.

"Harus diminum tepat waktu di jam yang sama. Setiap hari saya juga minum air kepala murni, satu buah setiap hari," ujarnya.

Masa pengobatan adalah masa yang sangat berat baginya. Tak cuma sekadar menahan sakit, ia juga harus benar-benar sabar menjalani proses pengobatan selama sembilan bulan.

Bahkan berat badannya sempat anjlok drastis hingga 20 kilogram.

"Dulu saya dari 65 kilogram jadi 45 kilogram, lumayan banyak turunnya. Sejak sembuh sekarang malah jadi 76 kilogram. Alhamdulillah sudah melewati masa itu, benar-benar kudu sabar banget," kata Ikhwan yang kini sudah terbebas dari penyakit TBC.

Ilustrasi seorang anak mengalami demam karena TBC. Foto: Pixabay
Ilustrasi seorang anak mengalami demam karena TBC. Foto: Pixabay

Kisah lain diceritakan Devi, yang anaknya terinfeksi TBC saat masih berusia enam bulan. Saat itu, anaknya tiba-tiba mengalami batuk berdahak dan demam. Setelah diobati, dalam tiga hari anaknya sempat sembuh namun tak lama kembali mengalami demam dan batuk.

"Saya pikir itu sakit karena pancaroba, jadi saya tahan di rumah selama kurang lebih dua bulan. Tapi lama-kelamaan badan anak saya jadi kurus, tidak mau makan, dan napasnya makin sesak," jelas Devi.

Melihat kondisi bayinya yang makin memburuk, ia memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Saat itu, bayinya sempat dirontgen, namun belum menunjukkan adanya flek. Anaknya sempat dirawat inap selama empat hari, namun tak ada perkembangan yang signifikan, bahkan kondisinya semakin buruk.

Dokter kemudian merujuk anaknya di ICU dan dilakukan rontgen ulang.

"Saat itu ketahuan anak saya terkena pneumonia, dia dirawat di ICU selama tiga hari," kata dia.

Ilustrasi seorang anak tertular TBC. Foto: Istockphoto
Ilustrasi seorang anak tertular TBC. Foto: Istockphoto

Akhirnya anaknya dinyatakan sembuh setelah dirawat di ICU selama tiga hari. Namun tiga bulan kemudian sakitnya kambuh lagi dan mengharuskannya dirawat inap. Saat itu, HB sang buah hati sampai drop sehingga harus ditransfusi darah.

"Ketika akan pulang dari rumah sakit, dokter menyarankan anak saya untuk tes mantoux besok ketika kontrol, dari hasil tes itu anak saya dinyatakan positif TBC," ujarnya.

Setelah menjalani pengobatan selama enam bulan sampai berat badannya turun 2 kilogram, ternyata paru-parunya belum bersih. Hal itu membuat anaknya mesti lanjut proses pengobatan selama tiga bulan lagi.

Kini, anaknya tengah menjalani tahap akhir pengobatan TBC.

"Anak saya tinggal rontgen lagi untuk tahu apakah paru-parunya sudah bersih," kata Devi.

Kabid Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Setyo Harini. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Kabid Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Setyo Harini. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Setyo Harini, mengatakan bahwa proses pengobatan TBC memang sangat melelahkan. Normalnya, pasien TBC mesti menjalani pengobatan selama enam bulan.

Namun seringkali masa pengobatan juga lebih dari enam bulan tergantung sudah seberapa parah TBC yang diderita.

"Apalagi kalau sampai putus obat, dia bisa harus mengulang pengobatan dari awal lagi," kata Setyo Harini, Selasa (12/12).

Hal itulah yang menjadi kendala pengobatan pasien TBC di DIY selama ini. Namun proses itu mau tak mau harus dijalani. Sebab, jika pengobatan putus di tengah jalan meskipun ia merasa sudah sehat, sewaktu-waktu bakteri TBC di dalam tubuhnya bisa muncul lagi bahkan bisa lebih sulit diobati karena sudah resisten terhadap obat.

"Proses itu harus dijalani sampai selesai, sampai benar-benar sembuh, itulah tantangan paling berat pasien TBC untuk bisa sembuh, apalagi ada juga mereka yang alergi sama obat yang diberikan," ujarnya.

@pandanganjogja

Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat ada 5.442 temuan kasus tuberkulosis (TBC) di DIY sepanjang 2023. Dari jumlah ini, 1.086 kasus di antaranya berasal dari kelompok pengangguran. "Paling banyak justru tidak bekerja, pengangguran," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Setyo Harini, saat ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Selasa (12/12). Selengkapnya, klik link kumparan di bio. https://kumparan.com/pandangan-jogja/1-086-pengangguran-di-diy-terserang-tbc-641-mahasiswa-and-pelajar-juga-kena-tbc-21kvfxLHCS5/full #tbc #tb #tuberkulosis #dinkesdiy #diy #pengangguran #kasustbc #dinaskesehatan #yogyakarta #jogjakarta #infojogja #beritajogja #jogja #pjnews #pandanganjogja

♬ Suara Seram Musik Horor - Rusli Ridwan

Media files:
01hhhkc7k9q6487xfhbfdrf95d.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar